Makan Siang Sederhana---
Matahari siang di pertengahan musim semi memancarkan kehangatan yang lembut, menyapu pelataran kampus Universitas Marmara dengan bias cahaya keemasan. Angin sepoi-sepoi dari arah Selat Bosphorus berhembus membawa aroma dedaunan segar dan harum kopi dari kafe-kafe mahasiswa di sekitar gedung fakultas. Di bawah naungan rindangnya pohon ek tua dekat perpustakaan pusat, mahasiswa hilir mudik dengan langkah tergesa-gesa, mengejar jadwal kuliah siang atau sekadar mencari tempat untuk beristirahat sejenak dari penatnya materi akademik. Di salah satu bangku taman kayu yang menghadap langsung ke taman bunga tulip, Dilara duduk seorang diri sambil memangku sebuah buku catatan tebal bersampul kulit sintetis.
Gadis berambut ikal sebahu dengan mantel rajut berwarna krem itu tampak sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul dua belas lewat lima belas menit. Janji temu makan siang mereka sudah disepakati sejak pagi tadi, tetapi Ammar belum juga menampakkan batang hidungnya. Dilara menghela napas pelan, menutup bukunya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman kampus yang mulai dipadati oleh para pencari makan siang.
"Mana anak itu? Jangan bilang dia terjebak lagi di lab komputer atau diseret oleh Profesor Orhan dalam diskusi mendadak," gumam Dilara pelan pada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, sesosok pemuda bertubuh tegap mengenakan jaket katun hitam sederhana tampak berjalan cepat menuruni anak tangga gedung departemen manajemen industri. Ammar menyeka pelipisnya yang sedikit berkeringat dengan ujung lengan baju, membawa ransel usang di bahu kirinya dan sebuah kantong kertas kecil berwarna cokelat di tangan kanannya. Begitu melihat Dilara melambaikan tangan dari kejauhan, Ammar tersenyum lebar dan mempercepat langkahnya menghampiri bangku taman tersebut.
"Maafkan aku, Dilara. Apakah aku membuatmu menunggu terlalu lama?" sapa Ammar dengan napas sedikit memburu begitu ia tiba di hadapan gadis itu.
Dilara mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan kelegaan. "Tidak terlalu lama, Ammar. Hanya sepuluh menit. Tapi melihat wajahmu yang berkeringat itu, kau sepertinya baru saja berlari maraton dari ruang kuliah."
"Bukan maraton, tapi berdebat sengit dengan asisten dosen soal perhitungan efisiensi rantai pasok global," jawab Ammar sambil terkekeh renyah, lalu menarik napas panjang dan duduk di sebelah Dilara di atas bangku kayu taman.
"Kau tidak pernah kehabisan energi untuk urusan kampus, ya? Padahal jam istirahat siang adalah satu-satunya waktu emas untuk bernapas," komentar Dilara sambil merapikan tasnya untuk memberikan ruang bagi Ammar.
Ammar meletakkan tas ranselnya di tanah, lalu dengan hati-hati menaruh kantong kertas cokelat kecil di atas pangkuannya. Kantong itu tampak sederhana, terlipat rapi di bagian atasnya, tanpa ada kemasan mencolok atau logo restoran mewah seperti yang biasa dibawa oleh kebanyakan mahasiswa kaya di universitas tersebut.
"Waktu emas atau bukan, perutku sudah memberikan sinyal darurat sejak jam sepuluh tadi," balas Ammar jujur sambil membuka lipatan kantong kertas tersebut.
Dilara menoleh sekilas, memperhatikan gerak-gerik pemuda di sampingnya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu yang tersimpan rapi. Sejak pertama kali mengenal Ammar, Dilara selalu dibuat kagum sekaligus penasaran dengan cara pemuda asal Indonesia itu menjalani hidup di Istanbul. Di tengah kota metropolitan yang serba cepat, modern, dan sering kali menuntut gaya hidup konsumtif, Ammar tetap mempertahankan prinsip hidup yang sangat bersahaja, bahkan cenderung melarat bagi ukuran mahasiswa pascasarjana.
"Apa yang kau bawa hari ini di dalam kantong kertas misterius itu, Ammar? Jangan bilang kau hanya membawa sisa mi instan semalam," tanya Dilara setengah bercanda, mencoba memecah keheningan siang itu.
Ammar tertawa kecil, mengeluarkan sebuah wadah plastik bening tertutup rapat dari dalam kantong tersebut. Di dalamnya terdapat dua potong roti pipih khas rumahan yang agak tebal, diapit oleh lembaran keju putih beyaz peynir, beberapa iris tomat segar, dan sehelai daun selada hijau yang mulai layu. Di samping wadah roti itu, sebuah termos kecil dari baja tahan karat berwarna perak ikut dikeluarkan.
"Bukan mi instan. Ini adalah karya agung kuliner pagi-pagiku sebelum berangkat kuliah," ucap Ammar bangga, membuka tutup wadah plastik hingga aroma roti gandum panggang tipis menguar di udara. "Roti keju buatan sendiri. Jauh lebih sehat dan jauh lebih ramah di dompet."
Dilara tertegun sejenak. Ia menatap wadah plastik sederhana itu, lalu beralih menatap wajah Ammar yang memancarkan ketulusan tanpa ada secercah pun rasa malu atas kesederhanaan yang ia tampilkan. Di saat teman-teman kuliah mereka berlomba-lomba menghabiskan uang saku untuk makan siang di restoran mahal sepanjang jalan Besiktas atau kafetaria utama kampus, Ammar dengan tenang menikmati bekal buatan tangannya sendiri di sudut taman.
❖ ❖ ❖
Dilara memperhatikan setiap gerakannya dengan seksama. Ammar membelah roti isi buatan rumah itu menjadi dua bagian sama besar, lalu menyodorkan salah satunya kepada Dilara dengan sopan.
"Silakan, kalau kau tidak keberatan berbagi makan siang dengan seorang mahasiswa pascasarjana yang miskin waktu dan uang," kata Ammar setengah berseloroh, menawarkan potongan roti tersebut di atas tutup wadah plastik.
Dilara tersenyum hangat, menerima potongan roti itu dengan kedua tangannya. "Aku sama sekali tidak keberatan, Ammar. Malah sebaliknya, aku sudah bosan dengan menu sup lentil dan roti pabrik di kafetaria yang rasanya selalu sama setiap hari."
Ia menggigit kecil potongan roti buatan Ammar itu. Rasa gurih keju putih khas Turki berpadu pas dengan kesegaran tomat dan tekstur roti gandum yang padat. Rasanya sederhana, namun ada ketulusan tersendiri yang membuat makanan itu terasa istimewa di lidah.
"Hmm... ini sebenarnya cukup enak, Ammar. Di mana kau belajar membuat roti seperti ini? Jangan bilang kau punya keahlian tersembunyi sebagai koki profesional di negara asalmu," puji Dilara sambil mengunyah perlahan, menatap pemuda di sampingnya dengan mata berbinar jenaka.
Ammar ikut menggigit bagian rotinya, mengunyahnya perlahan sebelum menjawab. "Kau memujinya terlalu berlebihan, Dilara. Di Indonesia, aku terbiasa hidup mandiri sejak kuliah sarjana. Memasak makanan sendiri bukan hal yang luar biasa, melainkan sebuah keterampilan bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh anak rantau."
"Anak rantau..." ulang Dilara pelan. Kata-kata itu terdengar begitu berat sekaligus romantis di telinganya. "Terkadang aku berpikir, betapa besar keberanian yang kau butuhkan untuk meninggalkan ribuan kilometer jarak, keluarga, dan zona nyamanmu di Asia Tenggara demi mengejar gelar master di kota dua benua ini."
Suasana mendadak sedikit melunak. Angin musim semi berembus agak kencang, menggoyangkan ujung jilbab Dilara dan membuat helaian rambut ikalnya menutupi sebagian wajah. Ammar menoleh sejenak, memperhatikan sahabatnya itu dengan sorot mata yang teduh.
"Keberanian itu tidak datang begitu saja, Dilara. Ia tumbuh karena ada impian besar yang ingin diwujudkan," jawab Ammar serius. "Setiap kali aku merasa lelah atau merindukan rumah di Indonesia, aku selalu mengingatkan diriku sendiri pada alasan utama mengapa aku mengepak koper dan terbang ke Istanbul."
"Dan apa alasan terbesarmu itu?" tanya Dilara penasaran, mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mendengar lebih dekat.
"Ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah dinding penjara yang menghentikan langkah seseorang untuk belajar dari peradaban dunia," ucap Ammar mantap, suaranya mengandung keteguhan prinsip yang selalu berhasil membuat Dilara terpesona dalam diam.
Bagi Dilara, yang lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kelas menengah Istanbul yang relatif berkecukupan, perjuangan hidup seperti yang dialami Ammar adalah sesuatu yang luar biasa. Ia terbiasa melihat segala fasilitas tersedia dengan mudah di hadapannya. Namun, pertemanannya dengan Ammar membuka perspektif baru tentang arti kerja keras, ketulusan, dan rasa syukur atas nikmat sekecil apa pun dalam hidup.
Dilara membuka termos kecil milik Ammar yang kini ditaruh di antara mereka. Di dalam termos itu tersimpan teh hitam Turki (cay) hangat yang masih mengepulkan uap tipis.
"Kau bahkan membawa teh sendiri dalam termos?" tanya Dilara takjub sambil menunjuk termos perak tersebut.
"Tentu saja. Secangkir teh di kafe kampus harganya empat lira. Jika aku membelinya setiap hari, dalam sebulan aku bisa kehilangan uang yang cukup untuk membeli dua buah buku referensi kuliah," jawab Ammar tertawa renyah, menuangkan sedikit air teh ke dalam tutup termos plastik yang berfungsi sebagai cangkir darurat.
Dilara menggelengkan kepala pelan, ikut tertawa mendengar kalkulasi finansial ala mahasiswa rantau tersebut. "Kau benar-benar seorang manajer industri yang sangat disiplin dalam mengelola anggaran keuangan pribadimu, Ammar."