Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Malam Penuh Doa

Malam Penuh Doa – Ammar memanjatkan doa di sepertiga malam terakhir, memohon petunjuk atas rasa penasarannya---

Suara azan subuh yang berkumandang dari menara-menara masjid di kawasan Fatih, Istanbul, memantul lembut di antara lorong-lorong batu yang masih diselimuti kabut tipis. Udara dini hari terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang, namun kamar kecil Ammar terasa hangat oleh keheningan yang khusyuk. Di atas sajadah berwarna hijau tua yang telah menemani malam-malam panjangnya di perantauan, Ammar duduk bersila dengan tangan menengadah. Matanya terpejam rapat, menyisakan kepekatan malam di balik kelopak matanya, sementara sisa-sisa air wudu masih menetes perlahan dari ujung dagunya.

Sudah lebih dari dua jam ia terjaga di sepertiga malam terakhir ini. Jam dinding antik di sudut kamar menunjukkan pukul tiga pagi ketika gelisah di dalam dadanya memaksa ia untuk bangkit dari pembaringan. Rasa penasaran yang mendalam mengenai arah hidupnya, masa depan bisnis rintisannya, serta bayangan sosok Layla yang terus berkelebat di kepalanya, bergemuruh hebat di dalam batinnya. Semuanya bercampur aduk menjadi satu simfoni tanya yang tidak kunjung menemukan jawab.

"Ya Allah..." bisik Ammar lirih, suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam dalam kesunyian malam. "Aku lelah berlari di atas asumsimu sendiri. Aku lelah menebak-nebak takdir yang Engkau gariskan untukku."

Ia menarik napas panjang, meresapi setiap detik keheningan yang menyelimuti kota dua benua tersebut. Di luar sana, lampu-lampu jalan mulai meredup, bersiap menyambut fajar yang perlahan menyingsing di cakrawala. Ammar teringat kembali pada perjalanan panjang yang telah ia lalui—dari Jakarta hingga Istanbul, dari keputusan nekat menolak harta orang tuanya hingga perjuangannya mempertahankan sisa-sisa harga diri di hadapan para penagih utang. Semua itu adalah bentuk ikhtiar fisik yang telah ia kerjakan dengan seluruh tenaga dan pikirannya. Namun, di malam yang senyap ini, ia menyadari bahwa ada batas di mana akal manusia harus menyerah pada kehendak langit.

"Ammar, apakah kamu belum tidur?" suara berat berbisik dari balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Itu adalah suara Pak Yusuf, pemilik rumah singgah tempat ia menyewa kamar, seorang pria paruh baya asal Konya yang selalu sabar membimbingnya.

Ammar membuka matanya perlahan, menoleh ke arah pintu. "Belum, Pak Yusuf. Saya sedang terjaga," sahutnya dengan suara serak.

Pak Yusuf mendorong pintu pelan-pelan, melangkah masuk mengenakan jubah tidur tipis dan peci putih di kepalanya. Pria tua itu melihat Ammar yang masih duduk bersimpuh di atas sajadah, lalu tersenyum hangat penuh pengertian. "Malam-malam panjang di Istanbul memang seringkali membawa banyak tanya ke dalam kepala seorang perantau, Nak. Apa yang membuat matamu enggan terpejam hingga detik ini?"

"Rasa penasaran, Pak Yusuf," jawab Ammar jujur, menatap mata sayu namun penuh kedalaman milik orang tua itu. "Saya merasa seperti berdiri di persimpangan jalan yang sangat besar. Ada banyak hal yang ingin saya ketahui tentang masa depan saya, tentang bisnis yang sedang saya bangun, dan... tentang seseorang yang sulit saya raih. Mengapa rasanya begitu berat?"

Pak Yusuf mendekat, lalu duduk bersila di samping sajadah Ammar. Ia menepuk pelan pundak pemuda itu dengan penuh kelembutan seorang ayah. "Berat karena kamu sedang membawa beban harapan yang belum saatnya kamu pikul, Ammar. Manusia seringkali ingin melihat ujung jalan sebelum mereka selesai melangkah. Padahal, keindahan hidup ini justru terletak pada ketidaktahuan kita yang diiringi oleh prasangka baik kepada Sang Pencipta."

"Tapi ketidaktahuan ini menyiksa, Pak," keluh Ammar, kepalanya menunduk menatap lantai kayu. "Bagaimana jika semua perjuangan ini sia-sia? Bagaimana jika saya salah mengambil arah?"

"Sia-sia di mata manusia belum tentu sia-sia di hadapan-Nya," balas Pak Yusuf bijak. "Itulah sebabnya sepertiga malam terakhir ini diciptakan. Bukan untuk membiarkanmu menebak-nebak masa depan dengan kepalamu sendiri, melainkan untuk menyerahkan segala beban itu kepada Zat yang memegang kendali atas setiap detik waktu yang berputar."

❖ ❖ ❖

Kata-kata Pak Yusuf meresap perlahan ke dalam relung hati Ammar, meredakan sedikit gejolak badai yang sejak tadi berkecamuk di dadanya. Orang tua itu bangkit perlahan, menepuk sekali lagi bahu Ammar sebelum pamit kembali ke kamarnya, meninggalkan pemuda itu sendirian dalam keheningan yang kembali pekat.

Ammar kembali mengangkat kedua tangannya. Kali ini, posisi tangannya sedikit berbeda; lebih longgar, lebih pasrah, tidak lagi mencengkeram erat rasa penasaran itu dengan ambisi duniawi. Ia mulai merapal doa-doa dalam hati, memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk yang terang benderang atas segala keraguan yang melanda pikirannya.

"Ya Allah, jika bisnis ini adalah kebaikan bagiku, maka mudahkanlah jalannya dan lapangkanlah dadaku untuk menghadapinya," doa Ammar dengan suara berbisik yang amat khusyuk. "Namun jika jalan ini penuh dengan keburukan yang hanya akan membuatku sombong atau lalai, maka tunjukkanlah jalan lain yang Engkau ridhai."

Bayangan wajah Layla tiba-tiba melintas kembali di benaknya. Ammar terdiam sejenak, ragu sejenak apakah pantas mendoakan urusan hati di hadapan Sang Pencipta pada waktu yang begitu suci. Namun ia teringat pada ajaran bahwa tidak ada doa yang terlalu kecil atau terlalu besar bagi Allah.

"Dan mengenai dia, ya Allah..." lanjut Ammar dengan suara yang semakin bergetar. "Gadis yang telah mengajariku arti ketulusan dan keberanian. Jika ia adalah bagian dari takdir terbaik yang Engkau siapkan untuk mendampingi sisa umurku, dekatkanlah hati kami dalam ikatan yang halal. Tapi jika ia bukan untukku, berikanlah ketenangan di hatiku untuk merelakannya tanpa rasa benci."

Angin subuh berhembus melalui celah ventilasi, menerbangkan ujung kain sajadahnya. Dinginnya udara seolah larut bersama tetesan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipi Ammar. Tangisan itu bukan tangisan keputusasaan, melainkan tangisan kelegaan—sebuah momen katarsis di mana seorang hamba melepaskan seluruh ego dan kesombongannya di hadapan kebesaran Tuhannya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan doa yang mendalam. Suara ketukan pintu depan rumah singgah terdengar pelan, menandakan waktu subuh telah benar-benar tiba. Pak Yusuf keluar dari kamarnya mengenakan jaket tebal, bersiap melangkah menuju masjid kecil di ujung jalan.

"Ammar! Mari kita bersiap ke masjid, udara pagi ini sangat suci untuk dilewatkan," panggil Pak Yusuf dari ruang tengah.

"Baik, Pak! Saya segera menyusul!" jawab Ammar, menyeka sisa air matanya dengan ujung lengan baju koko miliknya.

Ia melipat sajadahnya dengan rapi, meletakkannya di atas kursi sudut kamar. Ada perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menyelimuti dadanya. Rasa penasaran dan kegelisahan yang sempat merajam pikirannya selama berhari-hari kini seolah menemukan titik terang—bukan karena semua masalahnya langsung selesai secara ajaib, melainkan karena ia kini tahu kepada siapa ia harus menitipkan seluruh jawabannya.

Lihat selengkapnya