Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Undangan Diskusi

Undangan Diskusi Ilmiah---

Langit di atas distrik Fatih membentang dengan warna biru cerah yang berpadu dengan deretan bangunan klasik berarsitektur Utsmaniyah. Burung-burung merpati beterbangan rendah di sekitar halaman kompleks Masjid Fatih, mengepakkan sayap di antara kubah-kubah batu putih yang megah. Pagi itu, udara terasa begitu segar, membawa kesejukan akhir musim semi yang menenangkan siapa saja yang melangkah di jalan-jalan berbatu kawasan bersejarah tersebut.

Di sebuah sudut kafe terbuka yang terletak tidak jauh dari gerbang perpustakaan umum distrik Fatih, Ammar Fathan sedang duduk tenang di balik meja kayu bundar. Di hadapannya, secangkir çay Turki berwarna merah delima mengepulkan uap tipis, berdampingan dengan buku catatan bersampul kulit usang yang selalu ia bawa kemana-mana.

"Fathan, kamu benar-benar datang lebih awal seperti biasa," sebuah suara perempuan yang ramah memecah lamunannya.

Ammar mendongak dan melihat Naya Candan berjalan mendekat sambil membawa sebuah map arsip transparan di tangan kanannya. Mengenakan mantel panjang berwarna krem dan syal rajut merah muda, Naya tersenyum lebar menyapa sahabatnya. Di belakang Naya, Dilara Aksu dan Tariq Al-Ghazali menyusul dengan langkah santai, masing-masing membawa buku referensi tebal.

"Pagi yang terlalu indah untuk dilewatkan di dalam kamar, Naya," jawab Ammar ramah, merapikan letak kacamatanya. "Terutama ketika undangan diskusi ilmiah ini datang dari pustakawan terbaik di kampus."

Naya menarik kursi kayu di seberang Ammar dan duduk dengan anggun. "Bukan sekadar undangan diskusi biasa, Fathan. Perpustakaan umum Fatih ini menyimpan koleksi naskah era transisi Kekaisaran Bizantium ke Kesultanan Utsmaniyah yang baru saja dibuka untuk umum minggu lalu. Aku pikir ini kesempatan emas untuk mempertajam analisis tugas akhir kita."

Dilara dan Tariq ikut bergabung duduk di meja tersebut. Tariq langsung memesan secangkir kopi hitam kepada pelayan kafe yang melintas, sementara Dilara membukan laptop peraknya di atas meja.

"Aku dengar dari staf arsip, beberapa dokumen di sini belum pernah tersentuh oleh peneliti modern," kata Dilara antusias, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. "Jika kita bisa membedah naskah-naskah itu, makalah komparatif kita tentang jaringan logistik air Konstantinopel akan menjadi karya paling komprehensif tahun ini."

"Itulah sebabnya aku mengajak kalian berkumpul di sini," sahut Naya mantap, membuka map transparan miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen tua. "Tapi sebelum kita masuk ke dalam ruang baca khusus, ada beberapa hal mendasar yang harus kita sepakati agar riset kita tidak melenceng dari koridor sejarah yang valid."

Ammar menatap lembaran dokumen di hadapan Naya. Sorot matanya menyiratkan ketenangan luar biasa, namun di balik ketenangan itu, instingnya sebagai seorang mantan penjaga arsip yang pernah diburu sindikat tetap waspada. Ia tahu betul bahwa setiap lembar dokumen kuno di Istanbul tidak pernah berdiri sendiri; selalu ada sejarah panjang, intrik, dan rahasia yang tersembunyi di balik barisan tinta tulisan tangan abad pertengahan tersebut.

"Mari kita lihat apa yang berhasil kamu temukan, Naya," ucap Ammar tenang, menyandarkan punggungnya pada kursi kayu kafe.

❖ ❖ ❖

Setelah menyelesaikan secangkir teh mereka, keempat mahasiswa itu beranjak dari kafe dan melangkah memasuki gedung Perpustakaan Umum Fatih. Arsitektur interior gedung tersebut memadukan unsur klasik Utsmaniyah dengan fasilitas modern—rak-rak buku tinggi dari kayu mahoni tertata rapi di bawah naungan kubah kaca besar yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk menyinari ruangan baca yang luas.

Mereka duduk di meja baca panjang di lantai dua, dikelilingi oleh ribuan buku referensi sejarah dan manuskrip lama. Naya dengan hati-hati membentangkan salinan dokumen tua di atas meja kayu.

"Perhatikan bagian anotasi di pinggir halaman naskah ini," ujar Naya menunjuk dengan ujung penanya pada sebuah catatan berbahasa Arab Utsmaniyah kuno. "Tertulis bahwa sistem saluran air bawah tanah di bawah distrik Fatih dan Eminönü tidak hanya berfungsi untuk irigasi sipil, tetapi juga dirancang sebagai jalur evakuasi rahasia bagi para pejabat tinggi istana."

Dilara mendekatkan wajahnya, mengamati tulisan tersebut dengan saksama. "Jalur evakuasi rahasia? Itu artinya struktur arsitekturnya jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan sebelumnya. Apakah ada peta topografi yang menyertai catatan ini?"

"Itulah masalahnya," jawab Naya dengan nada suara yang sedikit menurun, melirik sekilas ke arah koridor perpustakaan yang sepi. "Peta topografi aslinya tidak dilampirkan di dalam bundel arsip ini. Petunjuk di halaman terakhir menyebutkan bahwa kunci koordinat peta tersebut disimpan di dalam naskah terpisah yang dipegang oleh lembaga kurator lama."

Mendengar kata-kata Naya, Ammar terdiam kaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Deskripsi tentang naskah terpisah dan kunci koordinat itu persis seperti apa yang pernah ia temukan dalam arsip mendiang ayahnya—sebuah rahasia yang hampir merenggut nyawanya beberapa minggu lalu.

"Naya," panggil Ammar dengan suara berat dan berhati-hati. "Apakah kamu tahu siapa kurator lama yang dimaksud dalam catatan pinggir itu?"

Lihat selengkapnya