Perjalanan dengan Tramway – Makna Waktu dan Surah Al-Asr---
Udara sore di kota Istanbul merangkak turun dengan membawa kesejukan khas Selat Bosphorus yang berhembus menembus celah-celah pertokoan tua di kawasan Eminönü. Di bawah langit senja yang mulai memantulkan warna jingga keemasan di atas kubah-kubah megah Masjid Yeni Cami, kerumunan pejalan kaki berdesakan di sepanjang trotoar, berpadu dengan suara lengkingan klakson feri yang bersandar di dermaga dan aroma harum roti simit panggang yang mengepul hangat dari gerobak-gerobak jalanan. Di tengah hiruk-pikuk pelabuhan yang tak pernah sepi itu, Farhan dan Dilara berdiri berdampingan di dekat halte trem listrik antik yang dicat dengan warna merah tua khas kota tua Istanbul.
Farhan merapatkan mantel wol tebalnya untuk menahan terpaan angin Selat Bosphorus yang mulai menusuk tulang. Matanya memandang ke arah rel besi berkilau yang membentang menembus jembatan Galata, tempat di mana puluhan pemancing lokal berdiri berjejer sabar menanti sambaran ikan. Di sampingnya, Dilara tampak anggun mengenakan mantel panjang berwarna navy dengan jilbab berwarna senada yang membingkai wajah tenangnya. Pertemuan mereka di kota dua benua ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan bagian dari agenda riset kolaborasi internasional yang mempertemukan program hibah universitas mereka dengan galeri arsip sejarah maritim Turki.
"Lihatlah ke arah jembatan itu, Farhan," suara lembut Dilara memecah deru suara kota yang bising. Jari telunjuknya mengarah pada kerumunan orang yang berlalu-lalang tanpa henti. "Setiap kali aku berada di Istanbul, kota ini selalu mengingatkanku bahwa hidup adalah sebuah pergerakan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Semua orang di sini berlomba dengan detik demi detik waktu yang terus merayap maju."
Farhan menoleh, tersenyum tipis mendengar renungan filosofis dari gadis di sampingnya. "Kau benar, Dilara. Istanbul adalah titik temu antara masa lalu dan masa depan, di mana jejak Kekaisaran Ottoman dan denyut modernitas melebur menjadi satu. Dan di tengah pusaran sejarah yang begitu megah ini, kita sering kali lupa betapa cepatnya waktu mengikis sisa usia kita di dunia."
Tepat pada saat itu, suara derit roda besi bergesekan dengan rel menggema nyaring di udara. Trem antik berwarna merah tua dengan lonceng peringatan yang khas perlahan melambat dan berhenti tepat di hadapan halte. Pintu geser terbuka lebar, mengeluarkan embusan udara hangat dari dalam kabin yang dipenuhi penumpang. Farhan dan Dilara melangkah masuk bersama gelombang penumpang lainnya, lalu memilih dua kursi kayu yang menghadap langsung ke jendela kaca besar di sisi kiri gerbong.
Begitu trem kembali bergerak meninggalkan halte Eminönü, meluncur perlahan menyeberangi jembatan Galata menuju kawasan Karaköy, lanskap kota berubah menjadi bingkai pemandangan hidup yang menakjubkan. Menara Galata tampak berdiri gagah di atas bukit, diselimuti cahaya keemasan matahari senja yang perlahan tenggelam. Di dalam gerbong yang bergoyang lembut mengikuti irama rel, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan keriuhan di luar.
"Kau tahu, Farhan," ucap Dilara kembali membuka suara sambil menatap bayangan wajahnya sendiri di kaca jendela trem yang memantulkan pemandangan kota di luar. "Kemarin malam, saat aku membaca kembali catatan harian perjalananku dan merenungkan seluruh dinamika perkuliahan kita di Surabaya—termasuk konflik-konflik kecil dengan Kevin dan perjuangan panjangmu menyusun skripsi—aku mendadak teringat pada sebuah ayat pendek dalam Al-Qur'an yang maknanya begitu agung."
Farhan menoleh penuh perhatian, rasa penasarannya terpancar jelas di matanya. "Ayat yang mana, Dilara?"
"Surah Al-Asr," jawab Dilara pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas di tengah deru lembut mesin trem. "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran."
❖ ❖ ❖
Nama surah itu meluncur begitu syahdu dari bibir Dilara, seolah meresap ke dalam keheningan kecil di antara mereka berdua di dalam gerbong trem yang sedang membelah jalanan kota Istanbul. Farhan terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang diucapkan gadis di hadapannya.
"Surah Al-Asr adalah salah satu surat paling singkat dalam Al-Qur'an, hanya terdiri dari tiga ayat," lanjut Dilara dengan nada yang semakin syahdu, pandangannya menerawang ke luar jendela melihat kapal-kapal kargo yang melintas di perairan Golden Horn. "Tapi Imam Syafi'i pernah berkata bahwa seandainya manusia mau merenungkan surah ini dengan mendalam, niscaya surah itu saja sudah cukup untuk membimbing seluruh kehidupan mereka. Mengapa? Karena Allah SWT membuka sumpah-Nya bukan dengan matahari, bukan pula dengan langit atau lautan yang megah, melainkan dengan Al-Asr—waktu."
Farhan mengangguk perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu kursi trem. "Sumpah demi waktu menunjukkan betapa krusialnya elemen tersebut bagi kehidupan manusia, Dilara. Waktu adalah satu-satunya komoditas di dunia ini yang sifatnya paling demokratis sekaligus paling kejam. Kaya atau miskin, raja atau pengemis, setiap orang diberikan jatah dua puluh empat jam sehari yang sama persis. Dan begitu detik itu berlalu, ia tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan kekayaan sebanyak apa pun."
"Itulah sebabnya ayat kedua langsung menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian," sambung Dilara, menoleh menatap Farhan dengan tatapan yang sangat serius namun teduh. "Kerugian yang mutlak. Kecuali bagi mereka yang memenuhi empat kriteria utama: memiliki keimanan yang kokoh, mengisi hari-hari dengan amal saleh, serta saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Perjuanganmu selama ini di kampus—menolak jalan pintas, mempertahankan integritas akademik di tengah tekanan sosial, dan menyamar demi mencari kemandirian sejati—menurutku adalah bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai tersebut, Farhan."
Pujian tulus yang keluar dari bibir Dilara itu membuat Farhan merasakan desiran hangat di dalam dadanya. Selama ini, perjuangannya hidup mandiri di kamar kos sempit dan menghadapi cibiran orang-orang seperti Kevin dianggapnya sebagai beban pribadi yang harus ditanggung sendiri. Namun mendengar Dilara merangkaikan perjuangan itu dengan esensi Surah Al-Asr memberikan makna transendental yang jauh lebih besar dari sekadar urusan lulus kuliah tepat waktu.
"Aku tidak pernah menganggap perjuanganku sesuci itu, Dilara," balas Farhan dengan nada merendah, tersenyum tipis. "Aku hanya berusaha menjadi manusia yang tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Allah. Ketika ayahku berpulang dan aku memilih meninggalkan kenyamanan fasilitas keluarga di Solo, pilihanku didasari oleh ketakutan terbesar: takut menjadi manusia yang merugi karena hidup dalam kemudahan yang melalaikan."
"Dan rasa takut itulah yang justru menyelamatkanmu dari kesombongan, Farhan," kata Dilara lembut. "Banyak orang terjebak dalam kerugian karena mereka merasa waktu selamanya milik mereka. Mereka menunda kebaikan, menunda kejujuran, dan menunda ketulusan, hingga akhirnya waktu habis tanpa meninggalkan apa pun selain penyesalan."
Trem yang mereka tumpiki kini melambat, bersiap berhenti di halte Karaköy sebelum melanjutkan perjalanan menanjak menuju kawasan distrik bersejarah Beyoğlu. Lampu-lampu jalan mulai menyala terang, memancarkan pendar kuning keemasan yang mempercantik arsitektur bangunan tua bergaya Eropa abad kesembilan belas di sepanjang jalan raya.