Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

ke Toko Buku

Kunjungan ke Toko Buku Tua---

Langit sore di kawasan kota lama menurunkan bias cahaya keemasan yang memantul di atas aspal basah setelah disiram hujan gerimis. Di antara deretan bangunan kolonial berarsitektur tua yang berdiri kokoh, terselip sebuah toko buku antik bernama Aksara Aksa. Toko itu tampak tenang, tersembunyi di balik papan nama kayu berukir cat hitam yang mulai pudar dimakan usia. Aroma khas kertas tua, debu halus, dan jilid kulit buku berpadu sempurna begitu pintu kaca berderit pelan saat dibuka. Bagi Ammar, tempat ini adalah surga tersembunyi yang menyimpan ribuan lembar kebijaksanaan masa lalu. Ia berdiri di lorong sempit antarraks kayu jati, jemarinya dengan teliti menyusuri punggung-punggung buku tebal berbahasa Arab dan Melayu Jawi.

Di ujung lorong yang sama, Dilara tengah berjongkok sambil meniup debu yang menutupi sampul sebuah buku tebal bersampul beludru hijau tua. Kehadiran mereka di toko itu sebenarnya bukan sebuah janji temu yang direncanakan, melainkan sebuah kebetulan tak terduga di penghujung pekan.

"Kau juga suka mencari buku-buku usang di tempat terpencil seperti ini, Ammar?" suara Dilara memecah kesunyian toko, terdengar begitu renyah di antara tumpukan manuskrip bersejarah.

Ammar menoleh, mendapati Dilara berdiri sambil membawa sebuah kitab kuning berukuran besar dengan sampul yang hampir terkelupas di sudutnya. "Tempat seperti ini jauh lebih jujur menyimpan peradaban daripada perpustakaan digital modern, Dilara," jawab Ammar tenang, melangkah mendekat dengan buku sejarah naskah di tangannya. "Di sini, setiap lembar kertas membawa jejak tangan pembaca masa lalu."

"Aku setuju," balas Dilara sambil tersenyum tipis, matanya berbinar menatap halaman-halaman awal kitab yang dipegangnya. "Tadi aku menemukan kitab tafsir klasik yang sepertinya sudah diterbitkan sejak awal abad sembilan belas. Tapi tulisannya menggunakan aksara pegon, dan aku agak kesulitan membaca beberapa istilah fiqihnya."

Ammar melirik sekilas ke arah kitab yang dibawa Dilara, lalu merapikan letak kacamata berbingkai tipis di pangkal hidungnya. "Aksara Pegon adalah jembatan intelektual ulama nusantara masa lampau. Jika kau kesulitan, izinkan aku melihatnya sebentar."

Dilara menyerahkan kitab tua itu dengan hati-hati seolah benda tersebut adalah barang berharga yang rapuh. Jari mereka sempat bersentuhan sekilas, menciptakan keheningan singkat yang sarat makna di bawah temaram lampu gantung kuning toko antik tersebut. Ammar membuka halaman demi halaman kitab itu dengan sangat hati-hati, sementara Dilara berdiri di sampingnya dengan rasa penasaran yang besar.

"Ini bukan sekadar kitab fiqih biasa," gumam Ammar setelah beberapa saat mengamati teks tersebut. "Ini adalah risalah tasawuf klasik yang membahas tentang tazkiyatun nafs—penyucian jiwa manusia di tengah hiruk-pikuk dunia."

"Penyucian jiwa?" ulang Dilara pelan. "Di era modern yang serba cepat ini, topik seperti itu terdengar sangat asing bagi kebanyakan mahasiswa seusiaku."

"Justru karena dunia bergerak terlalu cepat, manusia hari ini semakin kehilangan ketenangan batin," jawab Ammar mantap, menatap lurus ke dalam mata Dilara. "Literatur Islam klasik tidak pernah usang oleh waktu karena ia berbicara langsung pada akar permasalahan jiwa manusia."

❖ ❖ ❖

Perbincangan kecil di lorong toko buku tua itu dengan cepat berkembang menjadi diskusi mendalam yang menyedot perhatian pemilik toko—seorang lelaki paruh baya berkacamata tebal yang duduk di balik meja kasir sambil merajut syal wol. Suasana toko yang sunyi seakan mendukung setiap patah kata yang keluar dari bibir Ammar dan Dilara, mengubah sudut sempit itu menjadi ruang kuliah terbuka tentang khazanah intelektual Islam.

"Tapi bukankah literatur klasik sering kali dianggap terlalu kaku dan tidak relevan dengan isu-isu sosial kontemporer?" sanggah Dilara, sengaja melempar argumen kritis untuk menguji sejauh mana kedalaman pemahaman pemuda di depannya itu. "Banyak orang mengira karya-karya ulama terdahulu hanya membahas ritual ibadah ritualistik semata."

Ammar tersenyum kecil mendengar pertanyaan itu, menutup kitab tua tersebut dengan perlahan agar halamannya tidak rusak. "Itu adalah kesalahpahaman yang sering terjadi akibat kurangnya literasi sejarah, Dilara. Para ulama klasik seperti Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, atau Ar-Razi menulis karya mereka justru sebagai respons terhadap krisis moral dan sosial di masanya."

"Maksudmu, karya-karya mereka memiliki konteks sosiologis yang kuat?" tanya Dilara, matanya menyipit penuh minat.

"Sangat kuat," jawab Ammar tegas. "Ambil contoh kitab Ihya Ulumuddin. Di dalamnya, Al-Ghazali tidak hanya membahas tata cara ibadah secara fikih, melainkan membongkar penyakit-penyakit hati seperti riya, sombong, dan cinta dunia yang menjadi akar kehancuran peradaban manusia dari masa ke masa. Itu adalah kritik sosial yang sangat tajam dan universal."

Dilara terdiam, meresapi setiap penjelasan yang disampaikan Ammar dengan saksama. Ia menyadari bahwa di balik penampilan Ammar yang kaku dan serius sebagai mahasiswa sejarah, tersimpan kedalaman spiritual dan intelektual yang luar biasa luas.

"Aku rasa aku baru memahami sudut pandang itu sekarang," aku Dilara jujur, suaranya melunak. "Selama ini aku melihat literatur Islam hanya sebagai teks keagamaan biasa, bukan sebagai sebuah peta jalan peradaban yang menyeluruh."

"Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu pengetahuan akal dan penyucian hati, Dilara," lanjut Ammar dengan nada suara yang hangat. "Keduanya berjalan beriringan. Sains membangun peradaban fisik, sementara spiritualitas menjaga agar manusia tidak menjadi budak dari ciptaannya sendiri."

Lihat selengkapnya