Rasa yang Mulai Tumbuh – Dilara menyadari ada ketenangan batin setiap kali ia mendengar argumen Ammar---
Ruang perpustakaan manuskrip kuno di kawasan Fatih, Istanbul, selalu menyebarkan aroma khas kertas tua dan tinta nabati yang dicampur damar kayu. Di balik meja baca kayu ek yang besar, Dilara menatap tumpukan lembaran perkamen berbahasa Utsmaniyah abad ketujuh belas. Matanya menyusuri barisan huruf Arab gundul yang meliuk-liuk anggun, tetapi pikirannya justru melayang jauh meninggalkan teks sejarah tersebut.
Di seberang meja, duduk seorang pemuda asal Indonesia yang kini telah menjadi buah bibir di kalangan peneliti muda karena ketekunannya—Ammar. Pemuda itu sedang memegang kaca pembesar kecil, memperhatikan goresan marginalia pada catatan tepi naskah dengan kerutan di kening yang menandakan konsentrasi tingkat tinggi.
"Ammar," panggil Dilara pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak memecah keheningan ruang baca yang dijaga ketat oleh pustakawan sepuh. "Bagaimana kamu menerjemahkan bait syair di halaman empat puluh dua ini? Maknanya terasa berlapis dan membingungkan."
Ammar mendongak seketika. Sorot matanya yang tenang langsung bertemu dengan tatapan Dilara. Pemuda itu tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya sebelum menjawab, "Bukan membingungkan, Dilara. Bait itu sengaja ditulis dengan metafora perjalanan batin seorang musafir yang kehilangan arah sebelum akhirnya menemukan rumah di dalam hatinya sendiri."
Dilara tertegun sesaat. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ammar tanpa keraguan, namun sarat akan kedalaman makna yang langsung menghujam relung hatinya. Selama ini, Dilara dikenal sebagai mahasiswi pascasarjana sejarah yang kritis, tajam dalam beranalisis, dan jarang terkesan oleh argumen siapa pun. Namun, ada sesuatu yang berbeda setiap kali ia mendengarkan cara Ammar membedah teks-teks klasik. Bukan sekadar terjemahan harfiah atau tata bahasa yang kaku, melainkan sebuah kejernihan berpikir yang memancarkan ketenangan batin yang luar biasa.
"Rumah di dalam hati?" ulang Dilara, alisnya terangkat sedikit sembari menopang dagunya dengan tangan kanan. "Bukankah itu terlalu romantis untuk sebuah naskah administratif perpajakan era Sultan Murad?"
"Sejarah bukan sekadar angka, pajak, dan catatan perang, Dilara," balas Ammar dengan nada suara yang rendah namun penuh keyakinan. "Di balik setiap dokumen administratif, ada denyut nadi manusia yang hidup, menangis, merindukan kedamaian, dan mencari arti keberadaan mereka di bumi ini. Penulis catatan pinggir itu pasti sedang merasa gundah ketika tintanya menetes di sudut perkamen tersebut."
Dilara kembali terdiam. Ia menatap wajah Ammar lekat-lekat. Ada keteduhan yang terpancar dari raut wajah pemuda itu—sebuah ketenangan yang tidak pernah ia temukan pada pria-pria lain di lingkungan akademisnya yang sering kali terjebak dalam perdebatan ego dan ambisi intelektual. Setiap kali Ammar menguraikan argumennya, badai keraguan yang sempat berkecamuk di kepala Dilara perihal tesis kelulusannya seolah mereda begitu saja.
"Kamu selalu punya cara pandang yang membuatku melihat lembaran usang ini dari sisi yang sama sekali berbeda," ucap Dilara jujur, sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang manis.
"Karena kita sering melihat ke arah yang sama, Dilara," jawab Ammar lembut, lalu kembali menundukkan kepalanya untuk melanjutkan terjemahan.
Dilara menarik napas panjang, meresapi keheningan yang kembali mengisi ruangan tersebut. Namun, di dalam dadanya, sesuatu yang baru mulai bersemi secara perlahan—sebuah rasa penasaran yang lambat laun berubah menjadi kehangatan yang asing namun menenangkan.
❖ ❖ ❖
Sore hari menjelang senja, ketika cahaya keemasan matahari mulai meredup dan memantul di atas kubah-kubah masjid tua Istanbul, Dilara dan Ammar berjalan berdampingan meninggalkan kawasan Fatih menuju halte trem Eminönü. Jalanan berbatu basah oleh sisa gerimis siang tadi, memantulkan kerlip lampu kota yang mulai dinyalakan satu persatu.
"Apakah kamu tidak rindu pulang ke Indonesia, Ammar?" tanya Dilara tiba-tiba, memecah keheningan di antara langkah kaki mereka. Tangannya memegang erat tali tas ransel kecil berisi catatan penelitiannya.
Ammar memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel wol tebalnya, menatap ke arah Selat Bosphorus yang membentang luas di sebelah kanan mereka. "Rindu tentu saja ada, Dilara. Keluarga, makanan rumah, dan kehangatan tropis adalah hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh tempat mana pun di dunia ini."
"Lalu apa yang membuatmu bertahan begitu lama di kota ini, di tengah segala kesulitan dan ketidakpastian perantauan?" kejar Dilara, menoleh menatap profil wajah Ammar dari samping.
Ammar menghentikan langkahnya sejenak di dekat pagar pembatas pelabuhan. Ia berbalik menghadap Dilara, sementara angin selat meniup helai rambut hitam gadis itu. "Karena di sinilah aku menemukan makna perjuangan yang sebenarnya. Di Jakarta, aku hidup di bawah bayang-bayang kenyamanan yang disiapkan orang tuaku. Di Istanbul, aku belajar bagaimana berdiri di atas kakiku sendiri, menelan pahitnya kegagalan, dan menemukan siapa diriku yang sesungguhnya."
Dilara tertegun mendengar kejujuran itu. Di dunia modern tempat mereka hidup, kebanyakan anak muda seusia mereka berlomba-lomba mencari jalan pintas demi kekayaan dan popularitas instan. Mendengar seorang pemuda dengan sukarela menolak kemudahan demi mencari jati diri adalah sebuah ketulusan yang sangat langka.
"Kamu berbeda, Ammar," kata Dilara pelan, suaranya nyaris tenggelam di tengah deru suara mesin kapal feri yang bersandar di dermaga. "Kebanyakan pria yang kutemui di kampus selalu membicarakan tentang target karier, ambisi kekuasaan, dan seberapa cepat mereka bisa mengumpulkan harta. Tapi kamu... kamu berbicara tentang kedamaian jiwa dan proses."
Ammar tersenyum tipis, sorot matanya teduh menatap Dilara. "Harta dan karier itu penting, Dilara. Tapi jika fondasi jiwanya keropos, semua pencapaian itu hanya akan menjadi beban yang melelahkan. Aku belajar banyak hal itu dari setiap naskah tua yang kubaca di perpustakaan, dan juga dari setiap percakapan kita."
Degupan jantung Dilara mendadak terasa sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada kejujuran yang begitu murni dalam setiap argumen yang diucapkan Ammar, dan anehnya, setiap kali ia mendengar kalimat-kalimat itu, seluruh kecemasan akademis serta tekanan sosial yang selama ini membebaninya seolah lenyap seketika. Ia menyadari, kehadiran pemuda di hadapannya ini telah menjadi semacam tempat perlindungan batin di tengah hiruk-pikuk kota besar.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya, hubungan antara Dilara dan Ammar semakin akrab, terikat oleh kecintaan yang sama terhadap sejarah dan manuskrip klasik. Namun, kedekatan itu tidak luput dari perhatian lingkungan sekitar mereka. Suatu siang di kafetaria kecil dekat universitas, Prof. Ahmed—dosen pembimbing Dilara yang juga pengelola perpustakaan manuskrip—memanggil Dilara ke ruang kerjanya.