Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tariq dan Naya

Peran Tariq dan Naya---

Langit di atas distrik Eminönü berangsur-angsur meredup, menyisakan gradasi warna biru tua dan jingga temaram yang memantul indah di atas permukaan Selat Bosphorus. Angin malam mulai berhembus membawa kesejukan khas pelabuhan, menggerakkan bendera-bendera kecil yang terpasang di sepanjang geladak feri. Di sebuah kafe terapung yang terletak tidak jauh dari jembatan Galata, suasana meja kelompok kecil itu tampak begitu kontras dengan keindahan pemandangan kota di luar.

Ammar Fathan duduk bersandar di kursi kayunya dengan ekspresi wajah yang kaku dan tegang. Pandangannya lurus menatap cangkir teh çay yang sudah mendingin di hadapannya. Di seberangnya, Dilara Aksu melipat tangan di dada dengan dagu sedikit terangkat, menampakkan ketidakpuasan yang nyata dari sorot matanya. Perdebatan sengit mengenai langkah analisis data arsip digital yang mereka temukan di perpustakaan Fatih baru saja mencapai puncaknya, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara mereka berdua.

"Kita tidak bisa terus-menerus mengambil risiko besar dengan menyebarkan data mentah itu ke jaringan terbuka, Dilara," ucap Ammar dengan nada suara rendah namun penuh penekanan, memecah kesunyian yang tegang. "Sindikat Victor Rogov masih mengawasi setiap pergerakan digital kita. Kesalahan kecil bisa membahayakan keselamatan seluruh tim."

Dilara mendengus pelan, menatap tajam ke arah Ammar tanpa berkedip. "Dan kita juga tidak bisa hanya berdiam diri dan menyembunyikan informasi itu selamanya, Ammar! Kalau kita terus bersikap paranoid seperti ini, investigasi sejarah kita tidak akan pernah sampai ke publik. Buat apa kita lelah-lelah menyelamatkan dokumen itu kalau akhirnya hanya menjadi tumpukan data mati di dalam diska lepas?"

Ketegangan di antara Ammar dan Dilara langsung merayap pekat. Keras kepala Ammar yang ingin melindungi keselamatan tim berbenturan dengan idealisme Dilara yang menuntut transparansi total. Suasana meja mendadak membeku, membuat para pengunjung kafe di meja sebelah melirik sekilas ke arah mereka.

Di tengah situasi yang kaku dan penuh tekanan emosional itu, Tariq Al-Ghazali yang duduk di sebelah Ammar perlahan meletakkan cangkirnya ke atas meja. Ia tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan untuk mencairkan suasana yang hampir meledak.

"Wah, wah, baru saja kita menikmati teh manis, tapi atmosfer di meja ini rasanya lebih asam daripada lemon bazaar," kata Tariq dengan nada santai dan setengah bergurau. Ia menoleh bergantian ke arah Ammar dan Dilara. "Kalian berdua ini sebenarnya sedang berdiskusi ilmiah, atau sedang berlomba memperebutkan gelar pahlawan paling keras kepala di Istanbul?"

Dilara memutar bola matanya, meski ketegangannya sedikit mengendur mendengar guyonan Tariq. "Tariq, ini bukan masalah main-main. Ammar terlalu berlebihan dalam bersikap defensif."

"Dan kamu terlalu terburu-buru ingin menaklukkan dunia dalam satu malam, Dilara," sahut Naya Candan lembut, tersenyum menenangkan sambil menepuk pelan lengan Dilara di atas meja. Naya, dengan kelembutan khasnya, selalu tahu cara meredam api amarah sebelum membakar seluruh isi ruangan. "Mari kita ambil napas dalam-dalam. Kita tidak akan menyelesaikan masalah apa pun kalau kepala kita sama-sama panas."

❖ ❖ ❖

Ammar menghela napas panjang, merapikan letak kacamatanya. Ia menyadari bahwa nada bicaranya tadi memang terlalu keras, tetapi kekhawatirannya beralasan. Di sisi lain, Dilara juga melunak, membiarkan bahunya sedikit turun meski bibirnya masih mengerucut kesal.

"Maafkan aku, Dilara," kata Ammar dengan nada yang jauh lebih tenang dan melunak. "Bukannya aku ingin mengekang caramu berpikir. Hanya saja, bayangan ancaman itu masih terlalu nyata."

"Aku mengerti kekhawatiranmu, Fathan," jawab Dilara dengan suara yang mulai mencair, mengaduk tehnya dengan sendok kecil. "Tapi ketakutan tidak boleh membuat kita berhenti melangkah. Kita butuh kompromi, bukan perdebatan tanpa ujung."

Naya tersenyum hangat melihat kedua sahabatnya mulai kembali pada akal sehat mereka. Ia membuka buku catatan kecilnya di atas meja, lalu meletakkan sebuah pena di tengah-tengah mereka sebagai simbol perdamaian sementara.

"Nah, kalau kepala sudah dingin, sekarang saatnya kita mencari jalan tengah," ujar Naya bijak. "Peran kita di sini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan saling melengkapi. Ammar membawa kehati-hatian dan pengalaman bertahan hidup, sementara Dilara membawa keberanian dan visi analitis yang luas."

Tariq mengangguk setuju, menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil melipat tangan santai. "Naya benar. Perdebatan kalian tadi sebenarnya adalah bukti bahwa kelompok kita hidup. Bayangkan kalau kita semua punya pemikiran yang sama persis—pasti membosankan, dan kita mungkin sudah tertangkap basah di perpustakaan Fatih tempo hari."

Suasana di meja kafe itu perlahan-lahan kembali cair. Ketegangan yang sempat mencengkeram erat kini mencair berkat kepiawaian Tariq dan Naya dalam menjembatani ego dua orang yang sama-sama keras kepala. Namun, di balik tawa kecil yang mulai kembali terdengar, sebuah masalah krusial masih menggantung di udara menanti penyelesaian.

"Lalu, apa solusi kompromi yang kamu tawarkan, Naya?" tanya Dilara, menatap sahabat perempuannya itu dengan penuh rasa ingin tahu.

"Kita tidak mempublikasikan datanya secara terbuka ke internet, tapi kita juga tidak menyembunyikannya di dalam laci gelap," jelas Naya tenang. "Kita enkripsi data itu ke dalam beberapa lapis kode sandi fisik, lalu kita titipkan bagian kuncinya secara terpisah pada masing-masing anggota tim. Dengan begitu, tidak ada seorang pun yang bisa mengakses dokumen utuh tanpa kerja sama kita berempat."

Lihat selengkapnya