Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Ujian Kesabaran

Udara dingin akhir musim gugur menyelimuti pelataran Universitas Marmara, membawa serta aroma basah khas tanah yang baru saja diguyur hujan gerimis pagi tadi. Di lobi utama gedung departemen manajemen industri, lalu-lalang mahasiswa pascasarjana tampak sibuk membawa tumpukan jurnal tebal dan cangkir kertas berisi kopi panas. Di antara kerumunan itu, Ammar berdiri di dekat papan pengumuman digital, mengenakan jaket katun hitam yang sudah mulai usang di bagian siku. Wajahnya tampak tenang, meski di dalam kepalanya berputar kalkulasi rumit mengenai jadwal pengumpulan laporan audit operasional pabrik tekstil yang harus ia selesaikan bersama Emre minggu ini.

Sebagai mahasiswa asing yang bertahan hidup dengan fasilitas pas-pasan dan beasiswa penunjang yang kerap diwarnai liku birokrasi, Ammar terbiasa mengabaikan berbagai tatapan meremehkan dari segelintir mahasiswa lokal dari kalangan elit. Namun, pagi ini, ujian kesabarannya benar-benar diuji sampai pada batas tertingginya ketika ia berpapasan dengan sekelompok mahasiswa tingkat akhir yang terkenal dengan gaya hidup mewah dan arogan di lingkungan kampus.

"Hei, lihat siapa yang berdiri di depan papan pengumuman. Apakah mahasiswa tropis kita ini sedang mencari beasiswa tambahan karena uang kiriman dari kampungnya terlambat lagi?" suara sinis itu meluncur dari bibir Kaan, seorang mahasiswa kaya raya pewaris jaringan distributor baja terbesar di Anatolia, yang berdiri bersama dua orang rekan setianya di depan koridor.

Kaan mengenakan mantel wol desainer berharga jutaan lira, melingkarkan syal kasmir mahal di lehernya, dan menenteng tas kerja kulit asli merek ternama. Ia menatap Ammar dari atas ke bawah dengan sorot mata penuh penghinaan, seolah-olah keberadaan pemuda asal Indonesia itu di gedung pascasarjana adalah sebuah noda di atas marmer putih universitas.

Ammar tidak langsung merespons. Ia menarik napas pelan, menutup map kertas di tangannya dengan tenang, lalu menoleh menatap Kaan sekilas tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun di wajahnya.

"Selamat pagi, Kaan. Jika waktumu luang hanya untuk mengomentari urusan finansial orang lain, kupikir perpustakaan di lantai atas jauh lebih bermanfaat untuk mengisi kepalamu daripada berdiri di sini menebar kebencian," balas Ammar dengan nada suara yang tenang, datar, dan terkontrol sempurna.

Mendengar jawaban yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau rendah diri itu, senyum meremehkan di wajah Kaan sekilas mengeras. Ia melangkah maju mendekati Ammar, sengaja menyenggol bahu pemuda tersebut dengan kasar saat melewatinya.

"Wah, anak miskin ini mulai berani bicara tajam rupanya," cibir Kaan dengan suara keras agar menarik perhatian mahasiswa lain yang berlalu-lalang di koridor. "Kau boleh saja bergaya seolah-olah kau seorang intelektual agung di kelas Profesor Orhan, Ammar. Tapi kenyataannya tetaplah sama: kau hanyalah pendatang asing numpang hidup yang mengandalkan belas kasihan beasiswa negara untuk makan sehari-hari di kota ini. Mana mungkin orang sepertimu paham arti kemapanan sejati?"

Beberapa mahasiswa yang duduk di bangku lorong melirik ke arah mereka dengan pandangan penasaran. Suasana di lobi mendadak menegang. Di dalam dada Ammar, darah mudanya berdesir cepat, dan gejolak emosi panas merayap naik membakar tenggorokannya. Sebenarnya, jika ia mau, sangat mudah bagi Ammar untuk membungkam mulut sombong Kaan seketika. Ia memiliki akses, relasi rahasia, serta dukungan dari keluarga sekelas Al-Banna melalui Dilara yang bisa saja membalikkan keadaan dalam hitungan detik. Ia bisa saja menyebutkan nama-nama besar atau memamerkan kartu cadangan finansial yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat demi menjaga prinsip kesederhanaannya di tanah rantau.

Namun, jari-jarinya mengepal erat di dalam saku jaketnya, menahan seluruh dorongan ego tersebut. Ammar memilih untuk tetap diam, menatap mata Kaan dengan tatapan lurus yang penuh wibawa namun tenang, menolak untuk merendahkan dirinya sendiri ke level pria arogan di hadapannya itu.

❖ ❖ ❖

"Kesabaranmu benar-benar luar biasa, Ammar," bisik Emre yang tiba-tiba muncul dari balik pintu tangga darurat, membawa dua cangkir kertas kopi instan panas di tangannya. Ia menyaksikan sebagian besar insiden kecil di lobi tadi dengan ekspresi wajah geram.

Ammar menghela napas panjang, melonggarkan kepalan tangannya di dalam saku, lalu menerima uluran cangkir kopi dari Emre. "Bukan kesabaran, Emre. Itu namanya menyelamatkan energi agar tidak terbuang sia-sia untuk meladeni orang yang jiwanya miskin isi."

"Kau terlalu baik pada orang-orang seperti Kaan," protes Emre sambil meneguk kopinya dengan kesal. "Dia itu putra kongkonglomerat baja yang terbiasa mendapatkan segalanya dengan uang keluarganya. Dia pikir seluruh dunia di Istanbul ini harus bertekuk lutut di bawah sepatu mewahnya. Kenapa kau tidak sesekali membungkam mulutnya dengan menunjukkan siapa dirimu sebenarnya? Atau setidaknya, ingatkan dia bahwa kecerdasan akademik tidak bisa dibeli dengan harga jas wol mahal."

Ammar tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Buat apa, Emre? Jika aku membalas hinaannya dengan pamer status atau kemarahan kekanak-kanakan, maka aku tidak ada bedanya dengan dia. Harga diri seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mahal jas yang ia kenakan, melainkan oleh seberapa kuat ia memegang prinsip saat diuji oleh kesabaran."

"Prinsipmu itu kadang membuatku kagum sekaligus jengkel, kawan," tukas Emre tertawa kecil, meski sorot matanya menyiratkan rasa hormat yang mendalam kepada sahabatnya itu. "Tapi kau harus hati-hati. Kaan dan kelompoknya tidak akan berhenti begitu saja. Mereka terbiasa merasa tersaingi ketika melihat mahasiswa asing sepertimu mendapatkan nilai tertinggi di kelas Manajemen Mutu Dr. Selim minggu lalu."

"Biarkan saja mereka sibuk mencari kelemahan-kelemahanku. Tugasku di sini bukan untuk bertarung di arena kesombongan sosial, melainkan menyelesaikan studiku dengan hasil terbaik," jawab Ammar mantap, meneguk kopi panasnya yang memberikan kehangatan di tengah udara dingin lobi kampus.

Namun, di balik ketenangan yang ia tunjukkan di hadapan Emre, Ammar menyadari bahwa tekanan sosial di lingkungan kampus elit Istanbul ini semakin hari semakin rumit. Kehadirannya yang dekat dengan Dilara—putri bungsu keluarga kongkonglomerat perhotelan Al-Banna—telah lama menjadi bahan gosip panas di kalangan mahasiswa elit. Desas-desus tentang latar belakang keluarganya yang sederhana berbenturan tajam dengan lingkaran pergaulan tingkat tinggi tempat Dilara berasal, menciptakan badai-badai kecil yang siap menghantam kapan saja.

Tepat pada saat itu, sebuah pesan singkat bergetar di layar ponsel Ammar yang terletak di dalam saku jaketnya. Ia membuka pesan tersebut, dan nama Dilara tertera di sana dengan kalimat yang bernada cemas: “Ammar, di mana posisimu sekarang? Selesai kuliah pagi ini, kumohon temui aku di taman belakang perpustakaan pusat. Ada hal sangat penting yang harus kusampaikan padamu tentang pembicaraanku dengan ayahku.”

Melihat pesan tersebut, dahi Ammar sedikit berkerut. Bayangan ketegangan antara Dilara dan ayahnya beberapa hari lalu kembali terlintas di benaknya. Ada firasat tidak enak yang merayap di dalam dadanya, seolah-olah hinaan kecil dari Kaan di lobi tadi hanyalah riak kecil dari badai besar yang sedang bersiap menerjang kehidupan akademiknya di Universitas Marmara.

❖ ❖ ❖

Pukul dua belas siang, matahari musim gugur bersembunyi di balik gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah di atas langit Istanbul. Ammar melangkah cepat menyeberangi pelataran rumput hijau menuju taman belakang perpustakaan pusat kampus. Suasana di tempat itu cukup sepi karena sebagian besar mahasiswa memilih berlindung di dalam kafetaria yang hangat untuk menghindari tiupan angin kencang dari Selat Bosphorus.

Di bawah naungan pohon ek besar yang meranggas, Dilara sudah berdiri menunggu. Gadis berambut ikal itu mengenakan mantel rajut krem dengan syal merah tua melingkar di lehernya. Wajahnya tampak jelas memancarkan kecemasan mendalam; langkah kakinya mondar-mandir kecil menahan dingin dan gelisah.

Begitu melihat Ammar berjalan mendekat, Dilara langsung mempercepat langkahnya menghampiri pemuda itu.

"Ammar! Syukurlah kau cepat datang," sapa Dilara dengan napas sedikit memburu, matanya menatap lurus ke dalam mata Ammar penuh kekhawatiran.

Lihat selengkapnya