Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Wisata Religi Pertama

Wisata Religi Pertama: Masjid Eyüp Sultan – Renungan Perjuangan Masa Lalu---

Pagi hari di Istanbul menyapa dengan kabut tipis yang menggantung rendah di atas permukaan perairan Teluk Golden Horn. Udara dingin akhir musim gugur menusuk hingga ke balik mantel tebal, membawa aroma garam laut yang bercampur dengan bau harum arang kayu dari kedai-kedai sarapan di sepanjang pesisir Eyüp. Di kawasan bersejarah yang terletak di lereng bukit sebelah barat laut tembok kuno Konstantinopel ini, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk distrik Eminönü atau keramaian alun-alun Taksim. Di halaman depan kompleks masjid yang megah, Farhan berdiri termenung menatap gerombolan burung dara yang beterbangan rendah di sekitar air mancur marmer putih berukir indah.

"Dingin sekali angin dari Teluk Golden Horn pagi ini, Han," suara Rian membuyarkan lamunan Farhan. Rian datang mendekat sambil menenteng dua gelas kertas berisi sahlep—minuman tradisional Turki hangat berbahan dasar tepung anggrek dan taburan kayu manis yang mengepulkan uap putih. Ia menyerahkan salah satu gelas itu kepada Farhan. "Minumlah, sebelum jari-jarimu membeku dan gagal menulis catatan laporan riset kita untuk profesor."

Farhan menerima gelas kertas hangat itu, merasakan ke menjalarnya di telapak tangannya yang kaku. "Terima kasih, Yan. Minuman ini benar-benar penyelamat di tengah cuaca Istanbul yang sedingin es batu." Farhan menyeruput perlahan cairan manis berempah itu, lalu mengalihkan pandangannya ke gerbang utama kompleks masjid yang dipadati oleh peziarah lokal maupun mancanegara. "Kawasan ini memiliki atmosfer spiritual yang sangat berbeda dari tempat-tempat lain yang sudah kita kunjungi sebelumnya. Ada ketenangan yang merasuk seketika begitu kita memasuki gerbang Eyüp Sultan."

"Tentu saja," suara lembut seorang gadis menyusul dari arah belakang mereka. Dilara berjalan mendekat, mengenakan mantel panjang berwarna camel dengan jilbab pashmina berwarna hijau lumut yang membingkai wajahnya dengan anggun. Di tangannya terdapat sebuah buku saku catatan sejarah arsitektur Ottoman. "Kompleks Masjid Eyüp Sultan bukan sekadar tempat ibadah biasa. Ini adalah salah satu situs paling sakral dan bersejarah di seluruh Turki, tempat di mana para sultan Utsmaniyah dulu disumpah dan menerima pedang kebesaran penobatan mereka."

Farhan dan Rian menoleh menyambut kedatangan Dilara. Sejak kepulangan mereka dari berbagai agenda riset internasional di berbagai sudut kota ini, kebersamaan di antara mereka bertiga—ditambah kehadiran Rian sebagai pencair suasana—telah menjadi rutinitas harian yang penuh makna. Hari itu, agenda kelompok riset mereka dikhususkan untuk melakukan wisata religi pertama ke makam salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yang paling dihormati dalam sejarah Islam: Abu Ayyub al-Ansari.

"Dan yang lebih luar biasa lagi," lanjut Dilara sambil melangkah pelan memimpin jalan memasuki pelataran masjid yang luas, "tempat ini menjadi saksi bisu dari pengorbanan para mujahid masa lalu yang datang jauh dari Madinah demi menegakkan panji-panji Islam di gerbang Konstantinopel, berabad-abad sebelum kota ini jatuh ke tangan Sultan Mehmed II."

Kompleks Masjid Eyüp Sultan tampak begitu megah dengan arsitektur klasik Utsmaniyah yang memadukan pilar-pilar marirmer kokoh, kubah besar berlapis ornamen kaligrafi emas, serta lampu-lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya temaram. Di sekitar area makam utama, ribuan peziarah tampak antre dengan tertib dan khidmat, melantunkan doa-doa dalam keheningan yang syahdu, memohon keberkahan dan mengenang jasa besar sang sahabat Nabi yang gugur dalam pengepungan pertama Konstantinopel pada abad ketujuh.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki mereka perlahan memasuki area makam suci Abu Ayyub al-Ansari yang terletak di sisi utara kompleks masjid. Aroma wewangian kayu gaharu dan minyak attar tercium lembut di udara, berpadu dengan suara desis pelan orang-orang yang sedang melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an di sudut-sudut ruangan berdekorasi keramik Iznik berwarna biru pirus. Farhan, Rian, dan Dilara melepas sepatu mereka, lalu melangkah masuk dengan penuh takzim ke dalam ruangan makam yang diterangi cahaya lampu gantung tembaga antik.

Di balik dinding kaca berbingkai perak, makam Abu Ayyub al-Ansari tampak begitu sederhana namun memancarkan wibawa spiritual yang luar biasa. Farhan merunduk sejenak, mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, memanjatkan puji syukur serta merenungkan betapa panjang perjalanan sejarah yang telah menghubungkan jazirah Arab nun jauh di sana hingga ke tanah kekaisaran Bizantium ini.

"Bayangkan," bisik Dilara pelan ketika mereka keluar kembali ke halaman marmer terbuka setelah selesai berdoa. Suaranya terdengar begitu syahdu di antara kerumunan peziarah yang berlalu-lalang. "Abu Ayyub al-Ansari adalah seorang sahabat sepuh yang usianya sudah sangat lanjut ketika beliau memutuskan ikut serta dalam ekspedisi militer pertama ke Konstantinopel di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan pada tahun enam puluh tujuh Hijriah. Padahal pada saat itu, beliau bisa saja memilih tinggal tenang di Madinah menikmati masa tuanya di sisi makam Nabi."

Rian mengangguk takjub, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. "Kenapa beliau mau bersusah payah menempuh perjalanan ribuan mil melintasi padang pasir dan lautan berbahaya di usia senjanya, Dilara? Bukankah secara nalar manusia biasa, itu adalah pilihan yang terlalu melelahkan?"

"Karena beliau memegang teguh janji dan kerinduan untuk menggenapi sabda Rasulullah SAW," jawab Dilara dengan mata binar penuh kekaguman. "Beliau tahu betul bahwa Konstantinopel adalah kota yang dijanjikan akan ditaklukkan, dan sebaik-baik panglima adalah yang memimpin penaklukan tersebut, serta sebaik-baik pasukan adalah pasukannya. Abu Ayyub ingin memastikan bahwa jasadnya dikebumikan sejauh mungkin di garis depan perbatasan Islam, agar kelak barisan tentara penakluk dapat melewati makamnya dan merasakan bara semangat perjuangan."

Farhan mendengarkan penuturan Dilara dengan seksama, merasa hatinya bergetar hebat. Sejarah bukan lagi sekadar rentetan tanggal dan nama yang dihafalkan di ruang kuliah ekonomi, melainkan kisah nyata tentang pengorbanan, keimanan, dan ketulusan niat yang melintasi batas-batas zaman.

"Kisah itu selalu mengingatkanku pada pilihan-pilihan hidup kita sendiri," ucap Farhan pelan, memecah keheningan di antara mereka. Ia menatap lurus ke arah pemandangan Teluk Golden Horn yang membentang indah di kejauhan. "Kadang-kadang kita dihadapkan pada dua jalan: memilih kenyamanan hidup yang aman tanpa risiko, atau memilih jalan perjuangan yang penuh liku demi menegakkan prinsip dan integritas yang benar."

"Dan seperti halnya Abu Ayyub yang tidak pernah menyesali perjalanannya ke ujung utara dunia," timpal Dilara sambil tersenyum lembut menatap Farhan, "perjuangan yang dilandasi oleh niat yang tulus tidak akan pernah berakhir sia-sia, betapapun berat rintangan yang harus dihadapi di sepanjang jalannya."

❖ ❖ ❖

Sore hari berangsur-angsur turun, mengubah warna langit di atas bukit Eyüp menjadi jingga kemerahan yang memantul indah di permukaan air Teluk Golden Horn. Setelah dari kompleks makam, ketiganya memutuskan untuk berjalan menanjak menyusuri jalan setapak berbatu menuju salah satu spot paling ikonik di bukit tersebut: Kafe Pierre Loti, sebuah kedai kopi legendaris yang dinamai dari seorang novelis Prancis pencinta Istanbul yang kerap menulis kisah-kisahnya di tempat itu sambil memandang panorama kota.

Langkah kaki mereka terasa sedikit berat karena menanjak, namun udara dingin dan pemandangan spektakuler di sepanjang lereng bukit membuat setiap lelah seolah terbayar lunas. Di sepanjang jalan setapak, makam-makam tua peninggalan era Ottoman dengan nisan batu bermotif serban dan tulisan Arab kuno berdiri berjejer rapi di bawah naungan pohon-pohon cemara tua yang meranggas, menambah kesan khusyuk dan reflektif pada perjalanan wisata religi hari itu.

"Tempat ini sungguh luar biasa," puji Rian sambil mengatur napasnya sesampainya di teras terbuka Kafe Pierre Loti yang menghadap langsung ke panorama kota Istanbul. "Kalau aku menjadi penulis novel pada abad kesembilan belas, aku pasti akan menghabiskan seluruh hari-hariku duduk di sini sambil menikmati secangkir kopi Turki pekat."

Lihat selengkapnya