Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Refleksi Waktu

Refleksi Waktu: Detik yang Tak Kembali---

Angin sore berhembus pelan, membawa kesejukan yang menyapu pelataran marmer putih halaman masjid kampus. Di bawah rindangnya pohon ketapang kencana yang daun-daunnya mulai menguning kecokelatan, Ammar duduk bersila di atas bangku taman kayu. Tempat ini selalu menjadi pelabuhan sunyi bagi pemuda itu setiap kali beban akademik, riset sejarah, dan dinamika kehidupan kampus terasa begitu menyesakkan dada. Di tangannya, sebuah tasbih kayu mahoni berputar perlahan mengikuti irama zikir yang dilafalkan dalam hati, sementara matanya menatap lurus ke arah kubah masjid yang memantulkan bias cahaya kemerahan matahari senja.

Bagi Ammar, sore itu terasa berbeda dari hari-hari biasanya. Ada keheningan yang teramat pekat di udara, seolah alam semesta sedang mengajak siapa pun yang berdiam diri di sana untuk merenungkan hakikat keberadaan manusia di atas bumi.

"Waktu terus bergulir, dan tidak ada satupun detik yang bisa ditarik kembali ke masa lalu," gumam Ammar pelan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tenggelam di antara desau angin sore yang mengoyak dahan-dahan pohon.

Tanpa ia sadari, langkah kaki ringan berketukan di atas lantai marmer mendekati area taman masjid. Dilara, dengan jilbab abu-abu muda dan ransel di punggungnya, berjalan menghampiri sudut tempat Ammar duduk. Ia melihat pemuda itu termenung dalam kesendirian, memandang kosong ke arah halaman yang mulai sepi dari lalu-lalang mahasiswa.

"Boleh aku duduk di sini, pemikir tua?" sapa Dilara lembut, memecah kesunyian sambil melabuhkan duduknya di bangku kayu tepat di sebelah Ammar.

Ammar menoleh, mendapati wajah Dilara yang dihiasi senyuman tulus. Ia menggeser duduknya sedikit untuk memberikan ruang. "Silakan. Tempat ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mencari ketenangan, Dilara."

"Kau tampak begitu serius memikirkan sesuatu," kata Dilara sambil melipat tangan di atas pangkuannya, mengikuti arah pandangan Ammar ke ufuk barat yang mulai temaram. "Apakah riset sejarah naskah kuno itu membuat kepalamu pusing lagi?"

"Bukan soal riset," jawab Ammar tenang, jemarinya berhenti memutar tasbih kayu di tangan kanannya. "Aku sedang merenungkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar naskah atau arsip masa lalu. Aku sedang memikirkan fana dunia ini."

Dilara tertegun mendengar jawaban itu. Sorot matanya yang tadinya jenaka perlahan berubah menjadi serius. "Fana dunia? Tiba-tiba sekali topik pembicaraanmu melompat jauh ke ranah filosofis spiritual."

"Karena kita sering kali lupa, Dilara," tutur Ammar dengan suara berat namun penuh kelembutan. "Kita hidup seolah-olah waktu di dunia ini tidak memiliki batas akhir. Kita mengejar nilai, mengejar pujian, mengejar target karier, seolah-olah kita akan tinggal di sini selamanya. Padahal, setiap detik yang berdetak di jam dinding adalah pengurangan jatah umur yang tidak akan pernah bisa diulang."

❖ ❖ ❖

Suasana di bawah rindangnya pohon ketapang kencana itu mendadak terasa begitu kontras dengan kebisingan jalan raya di luar gerbang kampus. Obrolan ringan yang biasa mencairkan suasana kini berubah menjadi ruang perenungan batin yang dalam, menyentuh inti kesadaran paling dasar dari dua anak muda yang sedang berada di persimpangan usia dewasa.

"Kau benar, Ammar," ucap Dilara dengan suara melunak, pandangannya menerawang jauh ke langit senja yang mulai menampakkan bintang-bintang kejora pertama. "Kadang aku sendiri merasa terjebak dalam pusaran kesibukan yang melelahkan. Kuliah, organisasi, tugas akhir, perdebatan riset... semuanya berjalan begitu cepat sampai aku lupa untuk bertanya pada diri sendiri: untuk apa sebenarnya semua ini kulakukan?"

Ammar menoleh menatap Dilara, menghargai kejujuran yang tersirat dari nada suara gadis di sampingnya. "Itulah fitrah manusia, Dilara. Kita sering kali tertipu oleh gemerlap dunia yang semu. Dunia ini diciptakan indah agar kita bisa mengambil pelajaran darinya, bukan untuk dijadikan tempat tinggal abadi."

"Lalu, bagaimana cara kita menyikapi waktu agar tidak terjebak dalam kesia-siaan itu?" tanya Dilara serius, menoleh langsung ke arah mata Ammar di balik kacamata berbingkai tipis.

"Dengan menyadari bahwa setiap hembusan napas adalah amanah," jawab Ammar mantap. "Para ulama salaf biasa memandang waktu bagaikan pedang. Jika kita tidak menggunakannya untuk memotong kebaikan, maka waktu itu justru akan memenggal kelalaian kita sendiri."

Dilara merespons kalimat itu dengan menghela napas panjang. Ia teringat kembali pada kesibukan-kesibukan kecil yang sering kali menyita seluruh waktunya, membuat ia lupa pada hal-hal yang jauh lebih kekal di akhirat kelak. "Kalimat itu terdengar sederhana, tapi begitu menohok saat diucapkan di tempat setenang ini."

Lihat selengkapnya