Jamuan Teh di Eminönü – Momen hangat saat Dilara mentraktir teh (çay) sebagai ucapan terima kasih atas bantuan tugas---
Angin sore di kawasan Eminönü berhembus kencang, membawa aroma khas ikan panggang dari kapal-kapal nelayan yang bersandar di tepi Selat Bosphorus dan aroma manis kacang roasted yang dijajakan di setiap sudut jalan. Langit Istanbul mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, memantulkan bias cahaya matahari senja ke atas kubah-kubah masjid tua yang berdiri megah di seberang pelabuhan. Di bawah naungan jembatan yang dipadati oleh orang-orang berlalu-lalang, Ammar dan Dilara berdiri sejenak, merapikan syal dan mantel tebal mereka untuk menghalau dinginnya udara musim gugur yang mulai menusuk tulang.
"Hati-hati, angin dari selat ini selalu lebih dingin daripada di dalam perpustakaan, Ammar," ujar Dilara sambil tersenyum tipis, merapikan letak syal rajut berwarna biru tua di lehernya.
Ammar menoleh, membalas senyuman itu dengan tatapan teduh. "Aku sudah mulai terbiasa dengan cuaca Istanbul, Dilara. Meskipun harus diakui, musim gugur tahun ini terasa jauh lebih menggigit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya."
"Itu karena kamu terlalu sibuk memikirkan terjemahan naskah kuno sampai lupa merawat dirimu sendiri," balas Dilara setengah menggoda, melangkah pelan memimpin jalan menuju kedai teh tradisional yang terletak tepat di tepi dermaga feri Eminönü. Suasana di sekitar mereka sangat hidup; suara klakson kapal feri yang membelah air, teriakan para penjual simit yang menawarkan dagangannya dengan suara serak khas pedagang jalanan, serta riuh rendah langkah kaki ribuan manusia yang bergegas pulang usai jam kerja.
Mereka berdua baru saja menyelesaikan tugas besar riset arsip Utsmaniyah yang telah menyita waktu dan tenaga selama berminggu-minggu di perpustakaan Universitas Istanbul. Bagi Dilara, bantuan Ammar dalam mengurai istilah-istilah klasik berbahasa Arab bercampur Turki lama adalah kunci utama terselesaikannya bab tersulit dalam draf tesisnya. Tanpa keahlian dan ketekunan pemuda itu, ia mungkin akan tertahan berbulan-bulan lamanya di bab yang sama.
"Teh çay di kedai itu terkenal sangat pekat dan nikmat, Ammar. Mari kita mampir sebentar," ajak Dilara sambil menunjuk sebuah warung teh kecil beratap terpal merah dengan bangku-bangku kayu sederhana di luar ruangan.
"Dengan senang hati," jawab Ammar mengangguk setuju. "Terutama karena sepertinya seseorang telah berjanji untuk mentraktirku sebagai tanda terima kasih atas bantuan tugas kemarin."
Dilara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar begitu renyah dan menyenangkan di telinganya sendiri. "Tentu saja, aku menepati janjimi—maksudku, janjiku. Silakan duduk di bangku kayu sudut itu, aku yang akan memesannya langsung ke pelayan."
“Teşekkür ederim, Ammar, untuk semua bantuanmu yang luar biasa,” bisik Dilara dalam bahasa Turki, matanya berbinar cerah menatap Ammar sebelum ia berbalik menghargai pesanan ke konter.
Ammar tersenyum lebar, menarik kursi kayu kecil dan duduk di sana, membiarkan matanya mengikuti gerak-gerik Dilara yang memesan dua gelas teh tradisional khas Turki kepada pelayan pria paruh baya bersetelan rompi hitam. Di tengah riuh rendah pelabuhan Eminönü yang sibuk, momen sederhana itu mendadak terasa begitu berharga dan menenangkan batinnya yang selama ini kerap diuji oleh hiruk-pikuk perantauan.
❖ ❖ ❖
Pelayan kedai datang membawa nampan kecil berisi dua gelas teh berbentuk tulip yang memancarkan warna merah tua pekat, lengkap dengan dua kubus gula batu putih di atas piring kecil. Dilara kembali ke meja, membawa nampan tersebut dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu yang menghadap langsung ke arah Jembatan Galata dan Menara Maiden di kejauhan.
"Silakan dinikmati, Ammar. Ini adalah çay asli buatan Rize, sangat pas untuk menghangatkan badan di cuaca senja seperti ini," kata Dilara ramah sambil menyerahkan satu gelas teh kepada Ammar.
"Afiyet olsun," ucap Ammar tersenyum, menggunakan sapaan makan atau minum khas Turki yang sering diucapkan penduduk lokal.
"Wah, bahasa Türkimu semakin lancar saja dari hari ke hari," puji Dilara sambil mengangkat gelasnya, menyesap teh panas tersebut perlahan-lahan. "Sebentar lagi kamu mungkin akan dikira sebagai warga asli Istanbul yang kebetulan nyasar dari Anatolia."
Ammar tertawa renyah, menyesap tehnya yang terasa manis legit di lidah. "Mana mungkin, Dilara. Aksen bicaraku masih terdengar kaku, dan aku masih sering salah menggunakan imbuhan kata kerja lampau."
"Tapi isi kepalamu tidak pernah salah, Ammar," ucap Dilara serius, meletakkan gelas tehnya di atas meja dan menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. "Bantuanmu minggu lalu benar-benar menyelamatkan seluruh kerangka analisis tesisku. Prof. Ahmed bahkan memuji bagian referensi sejarah yang kita garap bersama."
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, Dilara," jawab Ammar merendah. "Kita saling membantu. Tanpa catatan arsip yang kamu temukan di perpustakaan pusat, aku juga tidak akan bisa merampungkan bab komparasi perdagangan maritim abad ketujuh belas itu."
Suasana di meja kecil itu mendadak melunak. Di sekeliling mereka, para pekerja kantoran dan turis asing lalu-lalang dengan cepat, namun di sudut kedai teh Eminönü itu, waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat khusus untuk mereka berdua. Cahaya matahari senja menyinari rambut Dilara, memantulkan kilau keemasan yang membuat Ammar tertegun sejenak menatapnya.
"Kamu tahu, Ammar?" kata Dilara memecah keheningan singkat, suaranya terdengar lembut di antara deru angin selat. "Sebelum aku mengenalmu, aku selalu berpikir bahwa dunia akademik adalah tempat yang penuh kompetisi dingin, di mana setiap orang saling menyembunyikan referensi terbaik mereka agar bisa unggul sendirian."
Ammar mendengarkan dengan penuh perhatian, meletakkan gelas tehnya kembali ke atas meja. "Dan apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Sekarang aku tahu bahwa ilmu tidak akan pernah berkurang hanya karena kita membaginya dengan tulus," jawab Dilara tersenyum tulus. "Dan kehadiranmu di perpustakaan itu mengajarkanku arti ketenangan yang sesungguhnya. Setiap kali kita berdiskusi, badai keraguan di kepalaku selalu mereda."
Degupan jantung Ammar berdetak sedikit lebih cepat mendengar pengakuan jujur tersebut. Ia tahu persis bahwa hubungan mereka telah bergeser jauh melampaui batas rekan sesama peneliti. Ada benang tak kasat mata yang semakin mengikat batin mereka setiap hari, diuji oleh waktu, kesabaran, dan lembaran-lembaran naskah kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka di kota dua benua ini.