Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Pertemuan

Pertemuan dengan Karima---

Langit di atas distrik Nişantaşı sore itu memantulkan cahaya keemasan yang elegan di antara deretan butik mode kelas atas dan kafe-kafe bergaya Eropa. Udara musim gugur membawa kesejukan yang menyegarkan, menerpa tirai-tirai beludru merah di jendela sebuah rumah besar bergaya era Utsmaniyah akhir yang telah dipugar dengan sentuhan modern. Di dalam ruang tamu utama yang luas, aroma teh hitam çay berpadu dengan keharuman kue kering tradisional kurabiye mengisi setiap sudut ruangan.

Ammar Fathan duduk di atas sofa beludru hijau zamrud dengan postur tubuh yang tenang namun waspada. Mengenakan kemeja katun putih rapi berkerah tegak dan jaket wol abu-abu kesayangannya, ia berusaha menampilkan pembawaan diri setenang mungkin. Di hadapannya, duduk seorang wanita paruh baya berwibawa dengan selendang sutra ungu tua melingkar di bahunya. Namanya Karima Hanım, bibi kandung Dilara Aksu—seorang sosialita terpandang di Istanbul yang dikenal memiliki jejaring luas di lingkaran akademisi dan filantropi kota.

"Jadi, Ammar Fathan, keponakanku Dilara terus-menerus memuji kemampuan akademismu dalam makalah komparatif tentang arsitektur maritim kuno," kata Karima Hanım dengan suara yang tenang, tegas, dan penuh wibawa, meletakkan cangkir porselen kecilnya ke atas piring lepek dengan bunyi berdenting halus. "Hoş geldiniz, Nak. Seninle tanıştığıma memnun oldum." (Selamat datang, Nak. Saya senang bisa berkenan bertemu denganmu.)

Ammar menunduk sedikit, merespons sapaan itu dengan senyuman sopan. "Teşekkür ederim, Karima Hanım. Bu nazik davetiniz için ben onur duyuyorum." (Terima kasih, Karima Hanım. Saya merasa terhormat atas undangan yang baik ini.)

Dilara, yang duduk di sofa sebelah kiri bersama Naya dan Tariq, langsung menyahut dengan nada cepat untuk mencairkan suasana yang terasa agak kaku. "Hala, Ammar gerçekten çok yetenekli bir tarihçi. Üniversitedeki en parlak zihinlerden biri." (Bibi, Ammar benar-benar sejarawan yang sangat berbakat. Salah satu pemikiran paling cemerlang di universitas.)

Karima Hanım melirik keponakannya sekilas dengan pandangan mata yang menyipit tajam, mengisyaratkan agar Dilara tidak terlalu berlebihan dalam memberikan penilaian. Wanita paruh baya itu kembali mengarahkan tatapan matanya yang menusuk langsung ke arah Ammar, seolah sedang memindai setiap lapis rahasia di balik ketenangan pemuda itu.

"Berbakat dalam sejarah adalah satu hal, Dilara," ucap Karima Hanım dengan nada dingin yang terkontrol, kembali berbicara dalam bahasa Turki. "Fakat geçmişin karanlıkta kalan sırları, bazen insanı hazırlıksız yakalar." (Namun rahasia masa lalu yang tertinggal dalam kegelapan, terkadang justru menangkap seseorang tanpa persiapan.)

Ammar merasakan desiran halus di dadanya. Kalimat itu bukan sekadar basa-basi santai seorang nyonya rumah kepada teman kampus keponakannya. Ada makna berlapis yang menyiratkan bahwa Karima Hanım mengetahui sesuatu tentang latar belakang keluarganya—atau setidaknya, ia mencium kejanggalan dari identitas Ammar yang tampak terlalu sederhana untuk ukuran seorang pemuda yang kerap dikaitkan dengan dokumen-dokumen bernilai tinggi.

"Sejarah memang selalu menyimpan bayangannya sendiri, Karima Hanım," jawab Ammar dengan nada suara yang tenang dan terukur, memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Tergantung bagaimana kita memilih untuk menghadapinya—apakah sebagai pelajaran yang mencerahkan, atau sebagai beban yang harus disembunyikan."

Karima Hanım tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya. "Bilgelikla konuşuyorsun, evladım. Ama merak ediyorum, soyadın Fathan... di istana arsip lama, nama itu tidak asing di telinga orang-orang tertentu." (Kamu berbicara dengan penuh kearifan, nak. Tapi saya penasaran, marga Fathan... di arsip istana lama, nama itu tidak asing di telinga orang-orang tertentu.)

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruang tamu mendadak berubah menjadi hening dan kaku. Tariq dan Naya saling berpandangan sekilas, sementara Dilara tampak menggigit bibirnya pelan, menyadari bahwa bibinya mulai menggali terlalu dalam ke wilayah pribadi Ammar.

"Anda tampaknya sangat akrab dengan arsip lama istana, Karima Hanım," kata Ammar, menjaga agar senyuman sopannya tidak luntur sedikit pun di hadapan wanita itu.

Karima Hanım bersandar pada sandaran sofa, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "İstanbul küçük bir şehirdir, Ammar. Özellikle de asırlık sırları saklayan aileler için." (Istanbul adalah kota yang kecil, Ammar. Terutama bagi keluarga-keluarga yang menyimpan rahasia berusia senja.) Ia menatap Ammar lekat-lekat. "Bana babandan bahset. Kemal Fathan... seorang kurator cemerlang yang tiba-tiba menghilang dari peredaran museum sebelum kecelakaan tragis itu merenggut nyawanya sepuluh tahun lalu."

Ammar merasakan tenggorokannya mendadak kering. Titik jepit pertama hari ini langsung menjeratnya tanpa ampun. Karima Hanım bukan sekadar sosialita biasa; ia memiliki akses informasi tingkat tinggi yang mampu menghubungkan titik-titik masa lalu keluarga Ammar dengan jaringan elit di Istanbul.

"Ayah saya adalah seorang abdi sejarah yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keaslian arsip negara, Nyonya," jawab Ammar dengan suara rendah namun tegas. "Kematiannya adalah luka lama yang tidak perlu diungkit kembali di ruang tamu yang seindah ini."

Karima Hanım menghela napas panjang, tatapannya melunak sesaat namun tetap menyiratkan ketegasan seorang senior keluarga. "Kırk yıllık dostlukları ve ihanetleri bu şehirde ben iyi bilirim, Ammar. Victor Rogov dan orang-orang bayaran di belakangnya bukanlah ancaman yang bisa kamu hadapi hanya dengan bermodalkan buku-buku perpustakaan." (Saya tahu betul persahabatan dan pengkhianatan selama empat puluh tahun di kota ini, Ammar. Victor Rogov dan orang-orang bayaran di belakangnya bukanlah ancaman yang bisa kamu hadapi hanya dengan bermodalkan buku-buku perpustakaan.)

Mendengar nama Victor Rogov disebut secara terbuka di hadapan mereka, Dilara, Tariq, dan Naya terperanjat kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Karima Hanım mengetahui sindikat internasional yang selama ini memburu Ammar.

"Bagaimana Anda bisa tahu tentang Rogov, Bibi?" tanya Dilara dengan nada panik, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.

Lihat selengkapnya