Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Malam Persiapan

Malam Persiapan Seminar Internasional---

Pukul sebelas malam, jarum jam dinding di ruang baca perpustakaan pusat Universitas Marmara berdetak pelan, memecah keheningan yang menyelimuti lantai dua gedung tua tersebut. Di luar jendela besar berbingkai kayu, angin malam Selat Bosphorus menderu kencang, membawa sisa-sisa embusan udara dingin musim gugur yang menampar kaca-kaca jendela secara berkala. Di bawah temaram lampu meja berpayung hijau klasik, Ammar dan Dilara duduk berhadapan di atas kursi kayu jati yang kokoh. Di hadapan mereka, layar laptop menyala terang menampilkan draf slide presentasi berbahasa Inggris dengan tajuk utama: Optimalisasi Rantai Pasok Industri Manufaktur Skala Menengah di Kawasan Eurasia.

Besok pagi adalah hari penentuan. Seminar internasional tingkat pascasarjana yang mempertemukan para akademisi, praktisi industri, serta perwakilan lembaga riset Eropa dan Asia akan diselenggarakan di aula utama universitas. Bagi Ammar, kesempatan mempresentasikan hasil audit operasional pabrik tekstil di Zeytinburnu bukan sekadar pemenuhan syarat kelulusan modul, melainkan panggung pembuktian terbesar setelah badai ancaman dari Tuan Tariq Al-Banna berhasil ia lewati dengan kepala tegak beberapa waktu lalu.

"Bagaimana, Dilara? Apakah alur logika pada slide analisis efisiensi biaya logistik ini sudah cukup tajam untuk audiens internasional besok?" tanya Ammar pelan, menghentikan ketikan jemarinya pada papan ketik laptop lalu menatap sahabat di depannya.

Dilara mengenakan mantel rajut tebal berwarna abu-abu terang, rambut ikalnya diikat longgar ke belakang. Ia meluruskan punggungnya, merapikan letak kacamatanya, lalu mengamati lembar demi lembar slide yang terpampang di layar dengan saksama.

"Analisisnya sudah sangat solid, Ammar. Tapi ada bagian pada diagram alur distribusi di bagian tengah yang sepertinya perlu diperjelas dengan narasi verbal yang lebih ringkas," jawab Dilara dengan nada kritis namun penuh dukungan. "Ingat, para profesor asing yang hadir besok tidak menyukai paparan angka yang terlalu padat tanpa penjelasan kontekstual yang membumi."

"Kau benar. Jika aku terlalu fokus pada rumus matematika rantai pasok, mereka akan bosan dalam waktu sepuluh menit pertama," balas Ammar sambil tersenyum tipis, merapikan tumpukan catatan kecil di samping cangkir kertas kopi yang sudah mendingin.

Suasana perpustakaan yang sepi membuat setiap bisikan kecil bergema lembut di antara rak-rak buku perpustakaan beraroma kertas tua. Di atas meja, selain dua buah laptop dan tumpukan jurnal referensi, terdapat sebuah termos kecil berisi teh hitam hangat (çay) serta sebungkus roti simit yang dibeli dari pedagang kaki lima di luar gerbang kampus menjelang malam tadi.

Dilara meraih cangkir kertas berisi teh, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah berjam-jam berbicara. "Kita sudah bekerja tanpa henti sejak pukul empat sore, Ammar. Rasanya kepalaku sudah mau meledak memikirkan terjemahan istilah teknis manajemen mutu ke dalam bahasa Inggris akademik."

"Sabar sebentar lagi, Dilara. Pekerjaan berat kita hampir rampung. Tinggal merapikan bab kesimpulan dan ringkasan eksekutif," kata Ammar menyemangati, menatap mata Dilara dengan sorot teduh. "Aku tahu kau juga lelah, apalagi setelah harus membagi waktu antara mengurus koordinasi relawan sosial dan menemaniku lembur di sini."

"Aku tidak merasa terbebani sama sekali, Ammar. Justru aku bangga bisa berada di sini, ikut merangkai kata demi kata untuk sebuah presentasi yang membuktikan bahwa kerja kerasmu tidak pernah sia-sia," ucap Dilara tulus, menyunggingkan senyum manis yang membuat lelah di wajahnya seketika menguap.

Namun, di tengah keseriusan dan kehangatan kerja sama malam itu, tantangan teknis kembali mendatangi mereka ketika layar laptop utama mendadak berkedip hitam akibat gangguan kestabilan daya listrik gedung tua kampus.

❖ ❖ ❖

"Aduh, layar laptopnya mati! Jangan bilang file presentasi utama kita belum sempat tersimpan di cloud!" seru Dilara terkejut, langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dengan cemas.

Ammar dengan sigap menekan tombol daya berulang kali, sementara lampu neon di langit-langit perpustakaan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala kembali dengan dengung halus. Puji Tuhan, layar laptop kembali hidup, dan dokumen presentasi masih utuh di layar berkat sistem penyimpanan otomatis yang aktif sepersekian detik sebelumnya.

"Aman. Dokumen kita selamat, Dilara. Jantungku hampir copot tadi," ucap Ammar mengembuskan napas lega sambil mengusap dadanya pelan.

Dilara ikut bersandar kembali ke kursinya, tertawa kecil meredakan ketegangan. "Eyvah! Kalbim neredeyse duracaktı, Ammar! (Ya ampun! Jantungku hampir berhenti berdegup, Ammar!) Kau benar-benar ingin membuatku jantungan di tengah malam sunyi ini."

Ammar tersenyum mendengar kalimat bahasa Turki yang meluncur fasih dari bibir Dilara. Selama berbulan-bulan berinteraksi di lingkungan akademik Istanbul, kemampuan berbahasa Turki Ammar memang sudah jauh meningkat, meski ia masih sering mencampurinya dengan bahasa Inggris ketika membahas istilah-istilah manajerial yang rumit.

"Maafkan aku, nona manajer. Aku tidak bermaksud menguji ketahanan jantungmu malam-malam begini," balas Ammar dengan logat bahasa Turki yang cukup baik. "Ama her şey kontrol altında, endişe etme. (Tapi semuanya terkendali, jangan khawatir.)"

"Oh, lihat siapa yang sekarang sudah mahir berbahasa Turki dengan percaya diri," goda Dilara mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum lebar. "Kalau terus begini, kau bisa diangkat menjadi warga kehormatan Istanbul sebelum masa studimu selesai."

"Itu pujian atau ejekan terselubung?" tanya Ammar tertawa renyah.

"Tentu saja pujian, Ammar. Perjuanganmu beradaptasi di kota ini luar biasa. Dari mulai kesulitan mengurus birokrasi rektorat yang rumit hingga kini berdiri sebagai pembicara utama di seminar internasional," ujar Dilara serius, sorot matanya menyiratkan kebanggaan yang mendalam.

Suasana di antara mereka mendadak menjadi sedikit lebih hangat dan pribadi. Di luar jendela, rintik hujan gerimis mulai turun kembali, mengetuk-ngetok kaca perpustakaan dengan irama yang menenangkan. Pintu perpustakaan tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar yang sibuk dan penuh intrik sosial.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponsel Dilara yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring, menampilkan nama panggilan masuk yang langsung membuat senyum di wajah gadis itu memudar seketika.

“Ayah” tertera jelas di layar ponsel dengan huruf kapital yang mencolok.

Dilara menatap layar ponsel itu selama beberapa detik dengan ekspresi ragu dan tegang. Ammar, yang menyadari perubahan suasana hati sahabatnya, menghentikan ketikannya dan menatap Dilara dengan pandangan penuh pengertian.

"Angkatlah, Dilara. Itu panggilan dari ayahmu," kata Ammar pelan. "Mungkin beliau hanya ingin memastikan kau pulang tepat waktu malam ini."

Dilara menarik napas panjang, menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Alo, Babacım? Evet, buradayım..." (Halo, Ayah? Ya, aku di sini...) ucap Dilara dengan suara yang berusaha dinetralkan agar terdengar tenang di hadapan sang ayah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya