Presentasi Gemilang---
Aula utama Fakultas Sastra dan Ilmu Humaniora Universitas Marmara di Istanbul tampak begitu megah dengan arsitektur klasik Utsmaniyah yang mendominasi dinding-dinding tingginya. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit kubah, memancarkan cahaya kekuningan yang menyinari barisan kursi auditorium tempat para profesor, sejarawan terkemuka, dan mahasiswa pascasarjana duduk dengan khidmat. Di balik meja podium utama, layar proyektor raksasa menampilkan peta maritim kuno abad ketujuh belas yang menghubungkan pelabuhan Nusantara dengan jalur perdagangan internasional di Laut Mediterania. Udara di dalam ruangan terasa begitu tegang sekaligus sarat akan gengsi akademis internasional.
Di kursi tunggu sebelah kiri panggung, Dilara meremas ujung jas almamaternya dengan tangan yang sedikit berkeringat. Napasnya memburu pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang bergemuruh keras di dalam dada. Presentasi bersama di universitas mitra internasional ini adalah puncak dari seluruh lelah riset, perdebatan panjang, dan kerja keras mereka selama bertahun-tahun.
"Fokus, Dilara. Ingat semua data artefak yang sudah kita verifikasi bersama," gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Di sisi lain meja, Ammar duduk dengan postur tubuh yang tegak dan tenang. Pemuda itu sedang membolak-balik catatan kecil berisi poin-poin krusial naskah sejarah, mengenakan kemeja rapi berbalut jas hitam formal yang membuatnya tampak matang dan berwibawa. Di luar dugaan, di tengah ketegangan yang merayap di ruangan tersebut, Ammar menoleh pelan ke arah Dilara, lalu melempar senyuman tipis yang menenangkan.
"Tenanglah, Dilara. Kita sudah menyiapkan riset ini dengan landasan data yang paling autentik," bisik Ammar dengan suara baritonnya yang tenang. "Keluasan sejarah teks nusantara dan kedalaman data arkeologimu akan berbicara dengan sendirinya di hadapan para profesor besar ini."
Dilara menoleh, membalas senyuman itu dengan tarikan napas dalam-dalam. "Aku tidak gugup karena takut salah, Ammar. Aku hanya ingin presentasi kita benar-benar membuka mata dunia internasional bahwa sejarah maritim kita jauh lebih megah dari yang mereka tulis dalam buku-buku kolonial."
"Mükemmel bir zihniyet," ucap Ammar tiba-tiba dengan fasih menggunakan bahasa Turki, membuat mata Dilara membelalak kaget bercampur takjub. (Mentalitas yang luar biasa.)
"Sejak kapan kau belajar bahasa Turki, Tuan Sejarahwan?" tanya Dilara berbisik pelan, sebelah alisnya terangkat menggoda untuk mencairkan ketegangan sesaat.
"Cukup lama untuk tahu bahwa kita tidak boleh mengecewakan para tuan rumah di universitas bersejarah ini," balas Ammar tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya sesaat sebelum panitia memanggil nama mereka.
“Sayang sekali, universitas kita harus memanggil perwakilan dari Indonesia: Ammar Al-Faruq dan Dilara Paramesti untuk memaparkan tesis kolaborasi mereka tentang Jejak Rempah Nusantara di Istanbul,” panggil suara pengawas sidang dari mikrofon utama dengan aksen khas Turki.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Ammar dan Dilara bergemerincing pelan menaiki anak tangga panggung auditorium. Sorot mata puluhan profesor besar, termasuk Dekan Fakultas Sejarah Universitas Marmara yang terkenal sangat kritis terhadap peneliti muda, tertuju tajam ke arah mereka berdua. Dilara berdiri di sisi kiri podium untuk mengatur materi salindia digital, sementara Ammar berdiri tegap di depan mikrofon utama, meletakkan naskah risetnya dengan rapi di atas meja kayu podium.
"Saygıdeğer hocalarım, değerli konuklar..." Ammar memulai presentasinya dengan sapaan berbahasa Turki yang fasih dan penuh penghormatan. (Para profesor yang terhormat, para tamu yang berharga...)
Suara Ammar menggema jernih di seluruh penjuru aula, memecah kesunyian dengan intonasi yang tegas dan berwibawa. Ia memaparkan babak demi babak sejarah perdagangan rempah global abad ketujuh belas, menghubungkan arsip teks naskah kuno Banten dengan arsip kekaisaran Utsmaniyah yang tersimpan di perpustakaan Istanbul. Di balik layar, salindia berganti menampilkan foto-foto naskah tua beraksara Jawi dan peta navigasi kuno yang membuat beberapa profesor di barisan depan mengangguk-angguk takjub.
Dilara memperhatikan setiap gestur dan kalimat yang diucapkan Ammar dengan rasa bangga yang membuncah di dadanya. Namun, ia tahu bagian krusial berikutnya adalah gilirannya untuk memaparkan data artefak material bawah air yang menjadi inti pembuktian tesis mereka. Ketika Ammar mempersilakan dirinya mengambil alih mikrofon, Dilara melangkah maju dengan anggun, menghirup udara sejenak untuk memantapkan suaranya.
"Değerli meslektaşlarım, metinler tarihi bize sadece hikâyeyi anlatır; ancak maddi kalıntılar o hikâyenin gerçeğini kanıtlar," ucap Dilara memulai sesinya dalam bahasa Turki yang lancar, mengejutkan para audiens di ruangan itu. (Rekan-rekan sekalian, sejarah teks menceritakan kepada kita sebuah kisah; namun peninggalan material membuktikan kebenaran kisah tersebut.)