Wisata Kuliner di Kadıköy---
Matahari sore perlahan-lahan merosot ke ufuk barat, melukiskan gradasi jingga, merah muda, dan ungu tua di atas permukaan Selat Bosphorus. Di seberang daratan Eropa yang dipenuhi kubah-kubah megah distrik historis Istanbul, sisi Asia kota ini—Kadıköy—menyambut senja dengan denyut kehidupan yang jauh lebih kasual, artistik, dan membumi. Aroma arang kayu, rempah panggang, serta kopi Turki yang pekat menguar dari kedai-kedai kecil yang berjejer di sepanjang jalan berbatu distrik Moda.
Di sebuah bangku kayu terbuka di dekat pelabuhan feri Kadıköy, Ammar Fathan duduk tenang sambil menikmati hembusan angin laut yang membawa kesejukan segar. Mengenakan jaket wol abu-abunya yang setia, ia menatap ke arah kapal-kapal feri yang hilir mudik membawa para pekerja pulang ke rumah. Setelah insiden menegangkan di rumah Karima Hanım beberapa hari lalu, aliansi baru dan langkah-langkah pengamanan ketat telah diberlakukan. Hari ini, atas inisiatif Dilara, mereka sepakat untuk mengambil jeda sejenak dari ketegangan intelijen dan dokumen-dokumen sandi.
"Fathan, kalau kamu terus-menerus melamun memikirkan koordinat terowongan bawah tanah itu, sebentar lagi teh di gelasmu akan berubah dingin tanpa sempat kamu teguk," sebuah suara ceria memecah lamunannya.
Ammar menoleh dan tersenyum. Dilara Aksu berjalan mendekat sambil membawa sebungkus kertas cokelat berisi simit—roti cincin khas Turki yang bertabur biji wijen renyah—sementara di belakangnya menyusul Tariq dan Naya yang membawa empat cangkir teh çay hangat dalam gelas tulip kecil.
"Nihayet, biraz huzur bulabildik," (Akhirnya, kita bisa menemukan sedikit ketenangan,) ucap Dilara sambil menyerahkan separuh simit hangat kepada Ammar. "İstanbul'un bu tarafı gerçekten insanı rahatlatıyor." (Sisi Istanbul yang ini benar-benar membuat orang merasa tenang.)
"Kesinlikle, Dilara," sahut Tariq sambil menarik kursi kayu di sebelah Ammar dan duduk dengan santai. "Avrupa yakasındaki o sürekli kovalamaca ve paranoyadan sonra, burası adeta bir cennet." (Tentu saja, Dilara. Setelah kejar-kejaran dan paranoia konstan di sisi Eropa, tempat ini bagaikan surga.)
Naya ikut duduk di samping Dilara, merapikan syal rajutnya sambil menghirup aroma harum teh hitam yang mengepul. "Ama unutmayın arkadaşlar, rahatlamak demek tamamen dikkatimizi kaybetmek demek değildir," (Tapi jangan lupa teman-teman, bersantai bukan berarti kita kehilangan kewaspadaan sepenuhnya,) ingatkan Naya dengan nada bercanda namun penuh perhatian. "Özellikle de Victor Rogov'un adamları hâlâ gölgede saklanıyorken." (Terutama ketika anak-anak buah Victor Rogov masih bersembunyi di dalam bayang-bayang.)
Ammar mengambil sepotong simit dan menggigitnya perlahan; teksturnya yang empuk di bagian dalam namun renyah di luar berpadu sempurna dengan kepekatan teh çay. "Naya haklı," (Naya benar,) ujar Ammar dalam bahasa Turki yang fasih, menatap ketiga sahabatnya dengan sorot mata penuh rasa terima kasih. "Kısa bir mola bile bizim için çok değerli. Ama her zaman tetikte olmalıyız." (Bahkan jeda singkat ini sangat berharga bagi kita. Tapi kita harus selalu waspada.)
Suasana di meja kayu pinggir dermaga itu terasa begitu hangat di tengah tiupan angin senja. Di antara hiruk-pikuk pejalan kaki dan suara teriak burung camar, persahabatan mereka telah menjadi jangkar terkuat di tengah badai kehidupan Istanbul yang rumit.
❖ ❖ ❖
Setelah menghabiskan camilan simit dan teh di pelabuhan, kelompok kecil itu mulai berjalan kaki menyusuri lorong-lorong pasar tradisional Kadıköy yang terkenal semarak. Kios-kios rempah, toko keju lokal, dan lapak buah-buahan segar berjejer rapi, memancarkan warna-warna cerah di bawah temaram lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
"Buradaki atmosfer Eminönü'nden çok farklı, değil mi?" (Atmosfer di sini sangat berbeda dari Eminönü, bukan?) tanya Dilara sambil menunjuk ke arah sebuah toko buku antik kecil di sudut jalan. "Daha bohem ve samimi." (Lebih bohemian dan akrab.)
"Evet, çünkü burası yerli halkın ve sanatçıların buluşma noktası," (Ya, karena tempat ini adalah titik temu penduduk lokal dan para seniman,) balas Tariq sambil melangkah berdampingan dengan Ammar.
Tiba-tiba, langkah Ammar terhenti di depan sebuah warung makan tradisional kecil yang mengepulkan aroma daging domba panggang arang—Adana Kebap. Di balik dinding kaca warung tersebut, seorang koki tua tampak sedang menyusun tusukan daging dengan cekatan di atas panggangan terbuka.
"Karnım acıktı," (Perutku sudah lapar,) kata Naya sambil tersenyum kecil melihat ke arah etalase makanan. "Gelin burada geleneksel bir kebap yiyelim." (Ayo kita makan kebap tradisional di sini.)
Mereka masuk ke dalam warung yang hangat dan langsung memesan satu porsi besar İskender Kebap dan Adana Dürüm untuk dinikmati bersama di meja sudut. Namun, di tengah aroma rempah makanan yang menggugah selera, insting Ammar tiba-tiba menangkap sesuatu yang janggal.
Melalui pantulan kaca jendela warung yang menghadap ke jalan raya luar, Ammar melihat dua orang pria berjaket kulit gelap berdiri di seberang jalan, berpura-pura melihat papan iklan toko pakaian, namun mata mereka tajam mengawasi pintu masuk warung makan tempat kelompok mereka berada.