Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #32

Kehadiran Zaid

Kehadiran Zaid Al-Faruq---

Matahari sore baru saja tergelincir di balik cakrawala Istanbul, memantulkan bias cahaya jingga kemerahan yang membakar permukaan air Selat Bosphorus. Di sebuah restoran mewah berkonsep teras terbuka di kawasan Ortakoy, deretan lampu gantung kristal mulai menyala lembut, memantulkan kemewahan di atas meja-meja marmer putih yang dikelilingi kursi beludru berwarna zamrud. Tempat itu adalah salah satu properti andalan di bawah naungan jaringan hotel internasional keluarga Al-Banna, tempat di mana para elite bisnis, diplomat asing, dan tokoh-tokoh terkemuka kerap berkumpul untuk merajut kesepakatan rahasia atau sekadar menikmati jamuan makan malam eksklusif.

Tuan Tariq Al-Banna duduk anggun di kursi kepala meja mengenakan setelan jas kelabu gelap berdasi sutra biru tua. Di sampingnya, Dilara duduk dengan gaun malam sederhana namun elegan berwarna biru laut, wajahnya tampak menyiratkan kelelahan setelah seharian berkutat dengan urusan akademik di Universitas Marmara. Namun, makan malam hari ini bukanlah pertemuan keluarga biasa. Tariq telah mengundang seorang tamu istimewa dari Ankara—seorang sahabat lama sekaligus kolega bisnis terpercaya yang memiliki pengaruh besar di kementerian investasi Turki.

"Dilara, pastikan kau menyambut tamu kehormatan kita malam ini dengan sikap yang paling ramah," ujar Tariq dengan suara baritonnya yang tegas namun tenang, merapikan letak cangkir porselen di atas meja. "Zaid adalah pemuda brilliance lulusan universitas terkemuka di Jenewa. Ayahnya adalah mitra bisnis terlama keluarga kita di sektor ekspor tekstil internasional."

Dilara menarik napas pelan, mengangguk kecil tanpa banyak antusiasme. Sejak insiden seminar internasional beberapa waktu lalu, hubungan antara dirinya dan sang ayah memang sedikit melunak, namun Tariq tetaplah seorang patriark yang gemar mengatur lingkaran sosial putrinya. "Iya, Ayah. Aku mengerti," jawab Dilara singkat.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan restoran dengan setelan rompi hitam melangkah anggun mendekati meja mereka, membimbing seorang tamu pria muda berpostur tegap, mengenakan setelan jas desainer Italia berwarna arang yang sangat rapi. Rambutnya disisir ke belakang dengan minyak rambut beraroma maskulin mahal, sementara senyum penuh percaya diri tersungging di bibirnya yang tipis.

"Ah, Tuan Tariq! Suatu kehormatan besar bisa kembali bertemu dengan Anda di Istanbul," sapa pria muda itu dengan suara bariton yang hangat dalam bahasa Turki yang sangat fasih dan berkelas.

"Hoş geldin, Zaid! Oho, sen büyümüş de adam olmuşsun! (Selamat datang, Zaid! Wah, kau sudah tumbuh menjadi pria dewasa!)" sambut Tariq berdiri dari kursinya, lalu merangkul pundak pemuda itu dengan kehangatan yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain.

Pria itu adalah Zaid Al-Faruq, pewaris tunggal kerajaan bisnis logistik dan ekspor internasional Al-Faruq Holding yang berbasis di Ankara. Zaid dan keluarga Fathan memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan keluarga Al-Banna sejak generasi kakek mereka. Sejak kecil, Zaid sering menghabiskan liburan musim panas bersama keluarga besar Al-Banna di pesisir Antalya, membuat hubungan mereka terjalin sangat akrab di masa lalu sebelum Zaid harus menempuh pendidikan tinggi di Eropa selama bertahun-tahun.

Zaid mengalihkan pandangannya ke arah Dilara, dan senyuman di wajahnya semakin mengembang lebar. "Dilara muhteşem görünüyorsun! Yıllar seni daha da güzelleştirmiş. (Dilara, kau tampak luar biasa! Waktu membuatmu semakin memesona dari tahun ke tahun.)"

Dilara tersenyum kaku, menganggukan kepalanya pelan. "Terima kasih, Zaid. Lama tidak berjumpa. Kau tampak sangat sibuk dengan proyek-proyek besarmu di Ankara."

"Kesibukan tidak pernah menjadi halangan untuk mengunjungi keluarga terdekat di Istanbul, terutama jika ada jamuan spesial seperti ini," jawab Zaid ramah, lalu menarik kursi di sebelah Dilara dan duduk dengan penuh percaya diri.

Makan malam pun dimulai diiringi alunan musik instrumental biola klasik yang mengalir lembut dari sudut ruangan. Namun, di balik obrolan hangat seputar perkembangan bisnis perhotelan dan investasi regional, Zaid tidak sengaja melontarkan sebuah kalimat pembuka yang seketika membuat jantung Dilara berdegup kencang dan meresahkan suasana hati gadis itu.

❖ ❖ ❖

"Omong-omong, Tuan Tariq, dalam perjalanan saya dari Ankara kemarin, saya sempat singgah sebentar di kampus lama saya, Universitas Marmara, untuk menemui beberapa profesor kenalan lama," ucap Zaid santai sambil memotong sepotong daging domba panggang di piring peraknya. "Biliyor musunuz, orada çok ilginç bir olayla karşılaştım. (Tahukah Anda, saya menemukan sebuah kejadian yang sangat menarik di sana.)"

Tariq menolehkan kepalanya, tertarik dengan topik pembicaraan tersebut. "Kejadian menarik apa yang kau maksud, Zaid?"

"Saya mendengar desas-desus hangat di kalangan dosen pascasarjana tentang seorang mahasiswa asing asal Indonesia—kalau tidak salah namanya Ammar," lanjut Zaid sambil tersenyum kecil penuh arti. "Mahasiswa itu mendadak menjadi perbincangan karena berhasil mempresentasikan audit rantai pasok industri yang luar biasa cemerlang di seminar internasional bulan lalu. Yang membuat saya terkejut, beberapa rekan bisnis di Ankara menyebutkan bahwa marga keluarga pemuda itu sebenarnya cukup terpandang di Asia Tenggara, bukan sekadar mahasiswa penerima beasiswa biasa seperti yang diberitakan di kampus."

Mendengar nama Ammar disebut secara spesifik di meja makan keluarga Al-Banna, Dilara sontak menghentikan potongan garpunya. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia melirik sekilas ke arah ayahnya, mendapati ekspresi wajah Tuan Tariq yang langsung berubah dingin dan menyipitkan mata penuh selidik.

"Ammar... mahasiswa asing itu lagi?" geram Tariq pelan dengan nada suara yang mulai merendah namun tajam. Ia menatap Zaid dengan penuh perhatian. "Apa maksudmu, Zaid? Maksudmu pemuda miskin itu menyembunyikan identitas aslinya?"

Zaid tertawa kecil, meneguk secangkir air mineral dingin sebelum melanjutkan. "Kesinlikle öyle, Tuan Tariq. (Tepat sekali, Tuan Tariq.) Jaringan logistik perusahaan kami di Indonesia sempat menangani dokumen ekspor perkebunan besar milik keluarga Fathan di sana. Nama belakangnya sangat identik. Jika pemuda itu benar-benar anak dari pemilik dinasti agribisnis terbesar di Sumatera, maka dia sama sekali bukan orang sembarangan. Dia sengaja hidup menyamar sebagai mahasiswa sederhana di Istanbul."

Suasana di meja makan mendadak menegang. Tuan Tariq mengerutkan keningnya dalam-dalam, rahangnya mengeras seketika. Selama ini ia mengira Ammar hanyalah seorang pemuda miskin tanpa latar belakang yang mencoba menumpang popularitas putrinya. Jika apa yang dikatakan Zaid benar, maka penyamaran Ammar menyembunyikan motif yang jauh lebih kompleks dan membahayakan marwah keluarga Al-Banna.

"Penyamaran?" ucap Tariq dingin, menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh perhitungan. "Untuk apa seorang pewaris kekayaan besar menyamar menjadi mahasiswa miskin dan mendekati putriku di universitas?"

Dilara merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia tahu betul jika Zaid terus membongkar latar belakang Ammar lebih dalam di hadapan ayahnya, seluruh kedok kesederhanaan yang dijaga oleh Ammar akan runtuh seketika, dan badai kemarahan Tuan Tariq akan kembali bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

"Zaid, kurasa kau terlalu membesar-besarkan gosip kampus yang tidak jelas sumber kebenarannya," potong Dilara cepat dengan nada suara yang sedikit bergetar berusaha menutupi kepanikannya. "Bunu dert etmene gerek yok, Zaid. Bunlar sadece üniversite dedikoduları. (Kau tidak perlu ambil pusing soal itu, Zaid. Itu hanyalah gosip kampus belaka.)"

Zaid menoleh menatap Dilara dengan senyuman penuh selidik yang menyiratkan rasa curiga. "Bilmiyorum, Dilara... (Entahlah, Dilara...) Ketika seseorang menyembunyikan identitas aslinya di lingkungan elit, biasanya ada agenda tersembunyi yang ingin ia capai. Dan aku hanya merasa penasaran mengapa seorang putri keluarga Al-Banna bisa begitu membela pemuda misterius itu."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya