Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Penyelamatan Waktu

Penyelamatan Waktu – Bayang-Bayang Zaid dan Batas Rahasia---

Matahari sore di kota Istanbul menyinari deretan bangunan tua berarsitektur klasik di kawasan Sultanahmet dengan pancaran warna keemasan yang memukau. Udara akhir musim gugur membawa kesejukan yang menyegarkan, berpadu dengan aroma harum roti panggang dan rempah-rempah yang menguar dari kedai-kedai kecil di sepanjang jalan setapak. Di sebuah kafe terbuka berlantai kayu yang terletak tidak jauh dari kompleks Hagia Sophia, Farhan, Dilara, dan Rian duduk melingkari meja bundar kecil. Di atas meja, tiga cangkir porselen putih berisi çay panas mengepulkan uap tipis ke udara.

"Laporan akhir riset kita benar-benar sudah hampir rampung sepenuhnya," ucap Rian dengan nada penuh kelegaan sambil meregangkan kedua tangannya. Ia menyesap teh hitam khas Turki dari cangkirnya. "Çok güzel bir gün," gumamnya sambil tersenyum lebar menatap langit sore yang cerah.

("Hari yang sangat indah.")

Dilara mengangguk menyetujui, jemarinya merapikan lembaran catatan riset sejarah yang berserakan di atas meja. "Evet, Rian. Ama bu başarı kolay gelmedi," jawab Dilara dengan senyuman anggun, menatap lembar demi lembar analisis yang telah mereka susun bersama selama berminggu-minggu di Istanbul.

("Ya, Rian. Tapi kesuksesan ini tidak datang dengan mudah.")

Farhan mendengarkan percakapan mereka dalam diam. Meskipun laporan riset internasional tersebut hampir selesai dan jadwal kepulangan mereka ke tanah air tinggal menghitung hari, ada satu kecemasan tersembunyi yang mendadak mencengkeram dadanya sore itu. Sejak siang tadi, saat mereka berjalan di sekitar alun-alun Sultanahmet, Farhan sempat melihat sesosok wajah familiar dari kejauhan—sesosok pria berjas rapi dengan gaya parlente yang sangat ia kenal: Zaid, salah satu rekan kuliah senior dari Surabaya yang dikenal sebagai tangan kanan dan lingkaran dekat Kevin. Kehadiran Zaid di Istanbul secara mendadak tentu bukan sebuah kebetulan. Pria itu kemungkinan besar diutus oleh Kevin untuk mencari jejak atau membongkar penyamaran Farhan demi menjatuhkan reputasinya di hadapan universitas dan, yang paling dikhawatirkannya, di hadapan Dilara.

"Farhan, kau melamun lagi," suara lembut Dilara membuyarkan lamunan panjangnya. Gadis itu menatap Farhan dengan sorot mata penuh perhatian. "Ada apa? Dari tadi kau tampak gelisah, seolah-olah sedang menghindari sesuatu."

Farhan segera mengerjap, mencoba menepis bayangan Zaid dari kepalanya. Ia tersenyum tipis untuk meredakan kecurigaan Dilara. "Tidak apa-apa, Dilara. Aku hanya sedikit memikirkan persiapan penerbangan pulang kita minggu depan. Rasanya waktu berjalan begitu cepat selama kita di sini."

"Zaman hızla akıp gidiyor, farkındayım," kata Dilara pelan, membalas tatapan Farhan dengan kelembutan yang menenangkan. "Ama önemli olan bu zamanı nasıl değerlendirdiğimiz."

("Waktu mengalir dengan cepat, aku tahu. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu tersebut.")

Sebelum Farhan sempat merespons perkataan Dilara, pandangan matanya tiba-tiba menangkap sesosok tubuh yang sangat ia kenal tengah melangkah mendekati kafe tempat mereka duduk. Di antara kerumunan turis dan pejalan kaki lokal di jalan setapak Sultanahmet, Zaid tampak berjalan tergesa-gesa sambil memindai setiap meja kafe dengan tatapan tajam mencari seseorang. Jantung Farhan berdegup kencang. Jika Zaid menemukannya di sini dan memanggilnya dengan nama aslinya di hadapan Dilara, seluruh penyamaran dan perjuangan integritas yang ia bangun dengan susah payah selama ini akan runtuh dalam hitungan detik.

❖ ❖ ❖

Situasi berubah menjadi sangat genting dalam hitungan detik. Zaid kini hanya berjarak beberapa meter dari meja kafe mereka, matanya menyapu sekeliling seolah mendeteksi keberadaan target yang dicarinya.

"Rian, Dilara," bisik Farhan cepat dengan nada tertahan namun penuh urgensi. Ia segera berdiri dari kursinya tanpa sempat merapikan buku-buku di atas meja. "Aku tiba-tiba teringat ada dokumen arsip penting dari perpustakaan universitas yang harus kukembalikan sekarang juga sebelum tutup. Aku harus pergi sekarang!"

Rian menatap Farhan dengan keheranan yang kentara. "Arsip? Bukankah perpustakaan pusat sudah tutup sejak jam empat sore tadi, Han? Kenapa mendadak sekali?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Rian!" potong Farhan cepat, menyambar ranselnya dan mengenakannya di satu bahu. Ia melirik sekilas ke arah Zaid yang kini sudah hampir tiba di dekat pintu masuk kafe. "Tolong sampaikan pada petugas kafe kalau aku titip bayar tehnya. Aku harus pergi lewat pintu belakang sekarang!"

Sebelum Dilara sempat mengucapkan sepatah kata pun atau menanyakan alasan di balik kepanikan mendadak itu, Farhan langsung berbalik badan dan melangkah cepat menuju lorong sempit di bagian belakang kafe yang terhubung langsung dengan gang pertokoan tua di distrik Sultanahmet.

"Bekle, Farhan! Nereye gidiyorsun?" panggil Dilara setengah terkejut, mencoba bangkit dari duduknya untuk menyusul.

("Tunggu, Farhan! Mau ke mana kau?")

Namun Farhan tidak menoleh lagi. Langkah kakinya dipercepat, menyusuri lorong sempit berbatu yang dipenuhi oleh toko-toko karpet antik dan suvenir khas Turki. Jantungnya bergemuruh hebat di dalam dada. Di belakangnya, ia samar-samar mendengar suara seseorang memanggil namanya dengan nada mengejek di pintu depan kafe—suara parau Zaid yang berhasil memecah keributan kecil.

"Farhan Pratama! Hei, aku tahu kau ada di sini! Jangan bersembunyi!" teriak Zaid lantang di area depan kafe, menarik perhatian beberapa pengunjung lokal.

Dilara dan Rian yang masih duduk di meja terkejut mendengar nama lengkap dan panggilan tersebut. Dilara menoleh tajam ke arah sumber suara, mendapati seorang pria asing berjas rapi sedang berbicara dengan pelayan kafe sambil menyebut nama Farhan—nama lengkap yang selama ini tidak pernah didengarnya di lingkungan kampus Surabaya, di mana Farhan selalu dikenal hanya sebagai mahasiswa penerima beasiswa mandiri yang sederhana.

"Bu adam ne arıyor?" gumam Dilara dalam hati, rasa penasaran dan kebingungannya bergejolak hebat.

Lihat selengkapnya