Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

di Tepi Selat

Renungan di Tepi Selat---

Angin malam dari Selat Bosphorus berhembus kencang, membawa serta aroma air laut yang pekat dan dingin menyusup ke balik mantel tebal yang dikenakan Dilara. Di sepanjang dermaga Eminönü, kerlap-kerlip lampu kota Istanbul memantulkan cahaya keemasan di atas permukaan air yang bergelombang tenang. Suasana malam itu begitu ramai oleh lalu-lalang turis dan warga lokal yang menikmati jajanan simit hangat, namun Dilara memilih menyepi sejenak di tepi pagar pembatas dermaga, memisahkan diri dari hiruk-pikuk keramaian di belakangnya.

Di tangannya, sebuah cangkir kertas berisi teh hitam Turki yang mengepulkan uap tipis digenggam erat untuk menghangatkan jemarinya yang mulai kaku karena suhu udara yang menyengat dingin. Pikirannya melayang jauh kembali ke tanah air, merangkai setiap kepingan kenangan perjalanan panjang yang telah ia lalui bersama Ammar.

"Siapa sangka, semua perjalanan akademis ini pada akhirnya membawa kita berdiri di tepi benua Eropa," gumam Dilara pelan pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar di antara deburan ombak kecil yang menabrak dinding dermaga.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Ammar berjalan mendekat secara perlahan tanpa bersuara. Pemuda itu membawa dua bungkus kastanye panggang hangat yang baru saja ia beli dari pedagang kaki lima di sudut jalan. Melihat Dilara yang termenung sendirian menatap gelapnya selat, Ammar menghentikan langkahnya sejenak, mengamati punggung gadis itu dengan sorot mata yang menyiratkan kelembutan mendalam.

"Udara di sini cukup menusuk tulang, Dilara," sapa Ammar tenang sambil melangkah merapat ke sisi kiri Dilara, lalu menyodorkan sebungkus kastanye hangat. "Kestanye ini mungkin bisa membantu menghangatkan tanganmu."

Dilara terperanjat kecil, lalu menoleh dan mendapati Ammar sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman tipis yang khas. Ia menerima bungkusan kertas hangat itu dengan rasa terima kasih yang terpancar jelas dari matanya.

"Terima kasih, Ammar," ucap Dilara pelan, membuka sedikit bungkusan tersebut dan mengambil satu biji kastanye yang masih mengepulkan uap. "Aku hanya sedang menikmati ketenangan malam ini. Rasanya aneh menyadari bahwa esok lusa kita harus kembali pulang ke Indonesia."

"Waktu memang tidak pernah berhenti untuk menunggu kita, Dilara," balas Ammar sambil ikut menyandarkan kedua sikunya di atas pagar besi dermaga, menatap lurus ke arah kegelapan Selat Bosphorus yang memisahkan daratan Eropa dan Asia. "Ia terus mengalir, meninggalkan kenangan di setiap tempat yang kita singgahi."

❖ ❖ ❖

Keheningan kembali merayap di antara mereka berdua, ditemani suara deburan ombak yang berirama konstan dan deru mesin kapal feri yang melintas di kejauhan. Dilara menoleh sekilas ke arah Ammar, memperhatikan profil samping wajah pemuda itu yang diterpa temaram cahaya lampu dermaga. Di balik kacamata berbingkai tipis dan pembawaannya yang selalu tampak kaku serta serius, Dilara tahu persis ada ketulusan yang luar biasa besar yang selama ini dijaga oleh Ammar—ketulusan dalam mencari ilmu, ketulusan dalam membimbing, dan ketulusan dalam menjaga batasan diri.

"Ammar..." panggil Dilara pelan, memecah kesunyian yang tercipta di antara mereka.

"Ya? Ada apa, Dilara?" sahut Ammar, menoleh dengan perhatian penuh, matanya menangkap keraguan kecil yang tersirat di wajah gadis di sampingnya.

"Selama kita bersama dalam riset ini, dari kampus di tanah air hingga ke Istanbul... aku sering bertanya-tanya," kata Dilara, menatap lurus ke dalam mata Ammar. "Bagaimana bisa seseorang sepertimu memiliki kesabaran yang begitu besar menghadapi sifatku yang keras kepala dan ceroboh ini?"

Ammar tersenyum tipis, sebuah senyuman yang selalu berhasil membuat debar jantung Dilara bergeser dari ritme normalnya. Ia memalingkan wajahnya sejenak menghadap ke arah laut sebelum menjawab.

"Sabar bukan berarti tidak memiliki batas, Dilara," jawab Ammar dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Sabar adalah bentuk ketulusan untuk menerima kekurangan orang lain, sekaligus ikhtiar untuk saling memperbaiki di jalan yang benar."

"Bir insanın kalbindeki samimiyet, yüz ifadesinden ve yaptığı işlerden belli olur," tambah Ammar tiba-tiba dengan pelafalan bahasa Turki yang fasih, mengutip sebuah kalimat bijak klasik. (Ketulusan di dalam hati seseorang dapat dikenali dari ekspresi wajah dan amal perbuatannya.)

Dilara tertegun mendengar kalimat berbahasa Turki yang meluncur begitu alami dari bibir Ammar. "Sejak kapan kau belajar kalimat puitis seperti itu dalam bahasa Turki?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat, mencoba mencairkan suasana hatinya yang tiba-tiba bergemuruh hebat.

Lihat selengkapnya