Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Kisah Syafiq dan Naya

Kisah Syafiq dan Naya – Kedekatan antara Tariq dan Naya yang mulai terjalin serius secara Islami---

Sore hari di Istanbul menghadirkan keindahan senja yang memantul di atas kubah-kubah masjid tua kawasan Sultanahmet, memancarkan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan rindang di taman kota. Di sebuah bangku taman yang menghadap langsung ke arah air mancur bersejarah, Tariq duduk tenang dengan buku catatan kecil di tangannya. Di sebelah kanannya, berjarak satu jengkal yang sopan, Naya duduk anggun mengenakan mantel wol panjang berwarna krem dan pasmina senada yang menutupi bahunya dengan rapi.

Hubungan di antara mereka tidak dibangun di atas fondasi obrolan kosong atau janji-janji manis masa muda. Sejak pertemuan pertama mereka di galeri seni Islam beberapa bulan lalu, kedekatan yang terjalin antara Tariq dan Naya dijaga ketat dalam koridor nilai-nilai Islami—tanpa ikatan yang melampaui batas syariat, namun dipenuhi oleh kejujuran niat untuk saling mengenal dalam bingkai takwa.

“Hava bugün oldukça serin, Tariq Bey,” ucap Naya ramah memecah keheningan sore itu, menggunakan bahasa Turki halus sambil merapikan ujung syalnya untuk menghalau angin sejuk yang berhembus dari arah selat.

(Udara hari ini cukup dingin, Tuan Tariq)

Tariq menoleh, membalas senyuman gadis itu dengan tatapan penuh hormat dan ketenangan. “Evet, Naya Hanım. Ama bu serinlik, insanın içini ısıtan anlamlı sohbetler için en güzel zamanı sunuyor,” balas Tariq dengan logat Turki yang semakin fasih.

(Ya, Naya. Tapi kesejukan ini justru menyajikan waktu terbaik untuk obrolan bermakna yang menghangatkan hati)

Naya tersenyum tipis, rona merah muda tipis menghiasi pipinya yang terkena terpaan angin senja. "Kamu selalu tahu cara membuat cuaca dingin di Istanbul terasa begitu ramah, Tariq. Padahal, beberapa tahun lalu, kota ini sempat terasa begitu asing dan menakutkan bagiku."

"Karena setiap tempat di bumi ini akan terasa seperti rumah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki arah tujuan hidup yang sama," jawab Tariq bijak, menutup buku catatannya pelan dan meletakkannya di atas pangkuan. "Dulu, aku juga merasa tersesat di kota ini, mencoba mencari validasi dari dunia luar. Tapi pertemuan kita, dan obrolan-obrolan terarah kita selama ini, membukakan mataku tentang arti keberkahan dalam membersamai seseorang."

Naya mengangguk pelan. Ia sangat menghargai prinsip yang dipegang oleh Tariq. Sebagai seorang gadis yang dibesarkan dalam keluarga religius di Ankara namun merantau ke Istanbul untuk menyelesaikan riset pascasarjananya, Naya selalu berhati-hati dalam menjaga batasan diri. Ia tidak mencari hubungan romantis yang penuh drama atau ketidakpastian. Yang ia cari adalah seorang pria yang siap menjadi imam, pelindung, sekaligus sahabat dalam menegakkan nilai-nilai agama di dalam rumah tangga kelak. Dan pada diri Tariq, ia menemukan sosok itu—pria yang tidak hanya mapan secara pola pikir, namun juga memiliki kedalaman spiritual yang kokoh.

"Ayahku sempat bertanya tentang perkembangan risetmu minggu lalu," kata Naya, mengubah topik pembicaraan ke arah yang lebih serius namun santai. "Beliau membaca esai yang kamu publikasikan di jurnal sejarah Islam internasional itu, dan beliau sangat terkesan dengan argumenmu mengenai etika perdagangan era Utsmaniyah."

Tariq merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Mendengar nama ayah Naya disebut selalu membawa rasa hormat sekaligus debar tersendiri. "Sungguh? Semoga tulisan itu tidak mengecewakan beliau. Profesor memang dikenal sangat teliti dalam menilai karya tulis sejarah."

“Babam seni oldukça takdir ediyor, Tariq,” ucap Naya meyakinkan, menatap lurus ke dalam mata pemuda itu dengan sorot ketulusan yang menenangkan. “Senin gibi dürüst ve ilkeli bir gençle tanıştığı için çok memnun.”

(Ayah sangat mengapresiasimu, Tariq. Beliau sangat senang bisa mengenal pemuda yang jujur dan berprinsip sepertimu)

"Alhamdulillah," ucap Tariq lirih, mengembuskan napas lega. "Pujian itu adalah amanah yang besar bagiku, Naya. Karena niatku mendekatimu bukan sekadar untuk mengisi waktu luang di perantauan, melainkan untuk melangkah pada tahapan yang lebih serius di hadapan Allah dan keluarga kalian."

❖ ❖ ❖

Suasana taman kota perlahan menjadi semakin syahdu seiring dengan surutnya kerumunan pejalan kaki. Lampu-lampu taman bergaya klasik mulai menyala satu persatu, memancarkan cahaya kuning temaram di atas jalan setapak berbatu. Percakapan mereka berdua di bangku taman itu bergerak menuju inti dari keseriusan yang selama ini mereka bangun secara hati-hati.

Naya menundukkan pandangannya sejenak, menatap bayangan mereka berdua di atas tanah. Ada rasa gentar kecil yang wajar di dalam dadanya—rasa takut akan perubahan besar dalam hidupnya ketika ia harus meninggalkan masa kesendiriannya dan melangkah ke dalam babak baru pernikahan.

"Tariq," panggil Naya pelan, suaranya nyaris berbisik kalah oleh suara gemericik air mancur di dekat mereka. "Kamu tahu persis bahwa pernikahan bukan sekadar acara perayaan atau penyatuan dua nama keluarga. Ini adalah perjanjian agung di hadapan Allah."

"Aku sangat memahami hal itu, Naya," jawab Tariq dengan suara yang tegas, tenang, dan penuh keyakinan. "Sebab itulah aku tidak ingin terburu-buru, namun juga tidak ingin menunda-nunda kebaikan tanpa alasan yang syar'i. Segala persiapan batinku telah kubangun sejak lama, dan kini saatnya aku membuktikannya melalui tindakan nyata."

Naya mendongak, menatap wajah Tariq yang diterangi cahaya lampu taman. Tidak ada keraguan di mata pemuda itu. Yang ada hanyalah kesiapan seorang pria yang siap bertanggung jawab atas dunia dan akhirat pendampingnya.

“Niyetimizin hayırlı olduğuna inanıyorum,” lanjut Naya dalam bahasa Turki, menegaskan keyakinan hatinya. “Ancak ailelerimizin de bu sürece tam olarak dahil olması gerekiyor.”

(Aku percaya niat kita ini baik. Namun, keluarga kita juga harus dilibatkan sepenuhnya dalam proses ini)

"Tentu saja," balas Tariq mantap. "Minggu depan, insya Allah, aku berencana untuk berbicara secara resmi dengan ayahmu via sambungan video jarak jauh, atau meminta izin untuk berkunjung langsung ke Ankara jika jadwal kuliah dan risetku memungkinkan. Aku ingin meminta restu beliau secara langsung sebagai bentuk penghormatan tertinggi."

Mendengar kata-kata itu, senyuman lebar dan tulus merekah di wajah Naya. Beban kekhawatiran yang sempat tersisa di benaknya seolah menguap begitu saja, berganti dengan rasa syukur yang mendalam. Langkah yang diambil Tariq terbukti bukan sekadar wacana manis, melainkan komitmen Islami yang dijalankan dengan adab dan tata cara yang benar.

Lihat selengkapnya