Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Tanpa Sengaja

Pertemuan Tanpa Sengaja---

Matahari pagi di distrik perhotelan mewah Sisli, Istanbul, memantulkan bias cahaya menyilaukan di atas fasad kaca modern menara pusat Al-Banna Group. Di trotoar jalan yang bersih dan dipadati oleh para eksekutif berdasi rapi, Ammar berjalan tergesa-gesa membawa tas kerja kain berisi dokumen rancangan logistik proyek renovasi gudang logistik tekstil. Hari ini adalah tenggat waktu penyerahan draf kerja sama teknik lapangan yang harus ia serahkan kepada pihak kontraktor mitra sebelum pukul sepuluh pagi.

Mengenakan kemeja flanel abu-abu pudar, jaket katun hitam berkerah tinggi yang sedikit lusuh di bagian saku, serta celana bahan katun kasual, penampilan Ammar sangat kontras dengan kerumunan para profesional berjas desainer Italia yang berlalu-lalang di kawasan komersial elit tersebut. Namun, bagi Ammar, urusan penampilan fisik tidak pernah menjadi prioritas utama dibandingkan ketepatan waktu penyelesaian tugas lapangan yang diembannya.

Setelah melewati pelataran air mancur marmer putih di depan lobi utama menara Al-Banna Group, Ammar melangkah masuk ke dalam gedung megah berbalut interior marmer hitam dan pilar-pilar raksasa berlapis emas. Aroma parfum mewah bercampur dengan wangi kopi espresso segar menguar lembut di udara lobi yang luas. Di balik meja resepsionis setinggi dua meter yang terbuat dari kayu jati pilihan, seorang wanita berseragam rapi menyambutnya dengan senyum profesional.

"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis itu ramah dalam bahasa Turki.

"Günaydın. (Selamat pagi.) Saya ingin menyerahkan draf dokumen logistik untuk Divisi Perencanaan Proyek Eksternal di lantai delapan," jawab Ammar dengan pelafalan bahasa Turki yang fasih dan terarah.

"Baik, silakan tunjukkan kartu identitas Anda untuk pencatatan tamu di sistem digital," ujar resepsionis sambil menunjuk layar sentuh di atas meja.

Ammar merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kartu mahasiswa Universitas Marmara miliknya, lalu menempelkannya pada pemindai digital. Sambil menunggu proses validasi data selesai, pandangan matanya menyapu sekeliling lobi yang dihiasi lukisan dinding bergaya kontemporer Utsmaniyah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di ujung koridor VIP eksklusif dekat lift pribadi lantai atas, sesosok pria paruh baya berjas kelabu gelap berdasi sutra biru tua sedang berjalan didampingi oleh dua orang direktur eksekutif senior.

Pria itu adalah Tuan Tariq Al-Banna sendiri, sang kepala keluarga sekaligus pemilik kekaisaran bisnis perhotelan yang menguasai separuh kota Istanbul. Tariq baru saja selesai memimpin rapat pleno triwulanan dan berniat meninjau langsung galeri pameran interior di lantai dasar.

"Pastikan laporan keuangan kuartal ini sudah dikirimkan ke meja saya sebelum jam dua siang, Emre," instruksi Tariq dengan suara baritonnya yang tegas dan berwibawa kepada direktur keuangan di sampingnya.

"Emredersiniz, Tuan Tariq. Semuanya akan disiapkan tepat waktu, " jawab Emre patuh.

Langkah kaki Tariq dan rombongannya bergeser perlahan mendekati area lobi utama tempat Ammar sedang berdiri menunggu pencetakan tiket pas tamu dari meja resepsionis. Suasana di sekitar lobi seketika terasa lebih hening ketika para pegawai di sana menundukkan kepala hormat saat sang pimpinan tertinggi melintas.

❖ ❖ ❖

Ammar yang sedang fokus melihat layar pemindai digital tidak langsung menyadari kehadiran rombongan Tuan Tariq yang berjarak kurang dari sepuluh meter darinya. Resepsionis di hadapannya tiba-tiba berdiri tegak dengan sikap sempurna, membungkuk hormat seraya berucap, "Günaydın, Tuan Tariq. (Selamat pagi, Tuan Tariq.)"

Mendengar nama tersebut disebut, Ammar reflek menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Jantungnya berdegup kencang seketika. Di hadapannya, berjalan tegap dengan sorot mata tajam di balik kacamata berbingkai titanium tipis, adalah Tuan Tariq Al-Banna—pria yang selama ini menjadi dinding tebal penghalang sekaligus sosok yang paling diwasinilah dalam hubungan rahasianya dengan Dilara.

Untuk sepersekian detik, pandangan mata Tuan Tariq dan Ammar beradu lurus di tengah lobi utama menara yang lengang. Tariq menghentikan langkahnya secara mendadak. Alisnya yang beruban berkerut dalam, mengamati pemuda berjaket katun lusuh dan kemeja flanel sederhana yang berdiri tepat di depan meja resepsionis perusahaan miliknya.

Suasana di lobi seketika menegang. Para direktur di belakang Tariq ikut berhenti, kebingungan melihat sang bos tiba-tiba menghentikan langkah.

"Bir sorun mu var, Tuan Tariq? (Apakah ada masalah, Tuan Tariq?)" tanya salah satu direktur dengan nada heran.

Tariq tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju dua langkah mendekati Ammar, meneliti penampilan pemuda itu dari ujung sepatu kets yang sedikit berdebu hingga tas kain di bahunya dengan tatapan menilai yang sangat tajam dan dingin. Sebagai seorang pengusaha ulung yang terbiasa melihat para eksekutif berjas rapi, kehadiran seorang pemuda berpenampilan kasual dan sederhana di jantung menara Al-Banna Group tentu menjadi pemandangan yang sangat ganjil.

"Kau..." ucap Tariq dengan suara baritonnya yang dalam dan berwibawa, memecah keheningan lobi. "Mahasiswa asing dari Universitas Marmara itu... Ammar, bukan?"

Ammar menarik napas pelan untuk menstabilkan detak jantungnya, lalu menegakkan postur tubuhnya. Ia tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun meski berdiri di hadapan sang taipan besar di kandang singanya sendiri. Ia menatap lurus mata Tariq dengan sikap hormat namun sangat tenang.

"Selamat pagi, Tuan Tariq. Benar, nama saya Ammar," jawab Ammar dengan bahasa Turki yang sangat fasih dan teratur.

Mendengar jawaban tenang tanpa rasa takut itu, sorot mata Tariq semakin menyipit tajam. "Senin burada ne işin var? (Apa urusanmu berada di sini?)" tanya Tariq dingin, melipat kedua tangannya di dada. "Gedung ini bukan tempat wisata mahasiswa untuk berkeliling melihat-lihat fasilitas perkantoran komersial."

"Saya tidak sedang berdarmawisata, Tuan Tariq," jawab Ammar tenang, mengangkat sedikit tas kain di tangannya. "Saya datang untuk menyerahkan draf dokumen logistik proyek renovasi gudang mitra eksternal yang dipesan oleh Divisi Perencanaan di lantai delapan."

Tariq mendengus sinis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Mitra eksternal? (Mitra eksternal?) Perusahaan kami hanya bekerja sama dengan kontraktor profesional bersertifikasi tinggi, bukan dengan mahasiswa sambilan yang datang mengenakan pakaian kasual seperti ini."

Lihat selengkapnya