Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #39

Waktu Istirahat

Waktu Istirahat yang Berharga---

Matahari sore di penghujung musim gugur menyemburkan bias jingga keemasan yang menembus celah dedaunan maple di halaman Taman Emirgan, Istanbul. Udara dingin berhembus lembut, membawa serta aroma khas tanah basah dan daun-daun kering yang berguguran di atas jalur pejalan kaki. Di bawah naungan pohon tua yang rindang, sebuah bangku kayu taman menghadap langsung ke arah hamparan perairan Selat Bosphorus yang membiru luas. Tempat itu begitu tenang, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang bising, menjadikannya pelabuhan peristirahatan yang sempurna bagi Ammar dan Dilara setelah berhari-hari berjibaku dengan jadwal penyusunan laporan akhir riset internasional mereka.

Ammar duduk bersandar dengan tenang, mengenakan mantel wol abu-abu tua yang melapisi kemeja kerjanya. Di tangannya, sebuah termos kecil berisi teh hangat mengepulkan uap tipis ke udara dingin. Di sampingnya, Dilara duduk sambil meregangkan kedua lengannya ke atas, menikmati keheningan sore yang menenangkan setelah berminggu-minggu pikiran mereka terkuras oleh analisis teks kuno dan data arkeologi bawah air.

"Waktu istirahat seperti ini adalah kemewahan yang sangat jarang kita miliki selama beberapa bulan terakhir," ucap Dilara pelan, memecah keheningan sambil menoleh ke arah Ammar dengan senyuman lelah namun tulus.

Ammar menoleh, membalas senyuman itu seraya menuangkan sedikit teh hangat ke dalam cangkir kecil lalu menyerahkannya kepada Dilara. "Nikmati setiap detik ketenangan ini, Dilara. Tubuh dan pikiranmu butuh jeda agar kita tidak kehilangan arah di tengah ambisi riset yang menuntut kesempurnaan."

"Aku setuju," kata Dilara sambil menerima cangkir teh hangat tersebut, merasakan kehangatan menjalar di telapak tangannya yang dingin. "Kadang aku merasa kita terlalu terobsesi dengan target masa depan, sampai-sampai kita lupa menikmati keindahan kecil yang ada di hadapan kita saat ini."

"Itulah sebabnya istirahat bukan sekadar menghentikan aktivitas fisik, melainkan momen untuk menata kembali niat di dalam hati," jawab Ammar tenang, menatap lurus ke arah kapal-kapal feri yang melintas di tengah selat. "Agar setiap lelah yang kita keluarkan bernilai ibadah dan tidak sia-sia."

❖ ❖ ❖

Perbincangan santai di bawah pohon maple itu perlahan bergeser dari urusan akademik menuju perenungan personal tentang masa depan. Di usia yang menginjak fase akhir masa muda, batasan antara dunia kampus dan realitas kehidupan masyarakat nyata mulai tampak di depan mata. Dilara menyeruput teh hangatnya perlahan, lalu mengalihkan pandangannya menatap hamparan air selat yang mulai beriak diterpa angin senja.

"Ammar..." panggil Dilara ragu, suaranya terdengar lembut namun menyimpan rasa ingin tahu yang besar. "Ketika kita kembali ke tanah air nanti dan menyelesaikan seluruh urusan kelulusan... apa impian terbesar yang ingin kau wujudkan dalam hidupmu?"

Ammar terdiam sejenak. Ia meletakkan termos kecil di atas bangku, lalu melipat kedua tangannya di atas pangkuan. Pertanyaan itu tidak dijawabnya dengan tergesa-gesa; ia merangkai kata dengan saksama, menimbang setiap makna yang akan ia ucapkan.

"Impianku tidak muluk-muluk, Dilara," jawab Ammar dengan suara baritonnya yang tenang. "Aku tidak mencari ketenaran duniawi atau jabatan tinggi yang melenyapkan waktu bersama keluarga. Impian sederhanaku adalah membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah—sebuah rumah tangga yang dibangun di atas fondasi ilmu, ketulusan, dan nilai-nilai agama."

Dilara tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang mendengar kejujuran yang terpancar dari setiap kalimat pemuda di sampingnya itu. "Keluarga yang sakinah..." ulangnya pelan. "Di era modern seperti sekarang, impian itu terdengar sederhana namun sangat sulit diwujudkan di tengah gelombang materialisme yang menghantam."

"Sangat sulit, benar," sahut Ammar mengiyakan. "Tapi bukan berarti tidak mungkin. Rumah tangga yang tenang tidak ditentukan oleh seberapa besar harta yang dikumpulkan, melainkan oleh seberapa kuat suami istri saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran."

"Hayalimdeki yuva, huzur ve ilim dolu bir liman olmalı," ucap Ammar tiba-tiba dengan fasih menggunakan bahasa Turki, mempertegas esensi impian hatinya. (Rumah tangga dalam impianku haruslah menjadi dermaga yang penuh dengan ketenangan dan ilmu pengetahuan.)

Dilara menatap mata Ammar di balik kacamata berbingkai tipis itu. Ia menemukan keteguhan prinsip sekaligus kelembutan jiwa yang selama ini ia cari dari sosok seorang pendamping hidup.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya