Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Surat dari Keluarga

Surat dari Keluarga – Tekanan dari orang tua Ammar di tanah air agar ia segera kembali mengurus bisnis keluarga---

Pagi hari di kawasan Fatih, Istanbul, menyapa dengan kabut tipis yang menyelimuti puncak-puncak menara masjid tua. Sinar matahari keemasan perlahan menembus celah-celah jendela kamar kos Ammar, memantulkan bayangan panjang di atas meja kayu tempat tumpukan naskah arsip Utsmaniyah tersusun rapi. Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh dering ponsel pintar yang bergetar di atas meja secara terus-menerus. Layar ponsel tersebut menampilkan panggilan video dari Jakarta, memperlihatkan nama sang ayah: Ayah.

Ammar menghela napas panjang sebelum menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. Wajah tegas ayahnya, Pak Hartono, langsung memenuhi layar dengan latar ruang kerja pribadi bernuansa kayu gelap di rumah mereka di Menteng, Jakarta Pusat.

"Assalamu’alaikum, Ayah," sapa Ammar tenang dengan nada suara yang berhati-hati.

“Wa'alaikumussalam, Ammar,” jawab sang ayah tanpa basa-basi, langsung menatap tajam ke arah kamera. “Sudah berapa lama kamu di Istanbul? Tiga tahun? Empat tahun? Kapan sebenarnya kamu berniat menyelesaikan semua urusan akademismu itu dan kembali ke tanah air?”

Pertanyaan itu datang bagaikan hantaman palu di pagi hari. Ammar merapatkan bibirnya sejenak, mencoba menyusun kalimat yang tepat untuk meredam ketegangan yang selalu muncul setiap kali topik kepulangannya dibahas.

"Riset naskah kuno ini hampir selesai, Ayah," jawab Ammar sabar. "Ada beberapa bab terakhir tesis komparasi perdagangan maritim yang harus aku pastikan validitas datanya sebelum dipublikasikan secara resmi di universitas."

“Validitas data atau kamu sengaja mengulur-ulur waktu karena tidak ingin kembali mengurus perusahaan keluarga?” potong sang ayah dengan nada suara yang meninggi. “Perusahaan logistik kita di Jakarta sedang menghadapi ekspansi besar. Dewan direksi membutuhkan kehadiranmu sebagai pewaris tunggal untuk mengambil alih kendali operasional, bukan malah membuang-buang waktu meneliti dokumen-dokumen usang yang tidak menghasilkan keuntungan finansial!”

Tekanan dari tanah air itu selalu berhasil membuat dada Ammar terasa sesak. Selama bertahun-tahun, ia merantau ke Istanbul bukan sekadar untuk melarikan diri, melainkan untuk mencari makna hidup dan kemandirian yang tidak pernah ia temukan di balik kemewahan fasilitas keluarganya. Namun, benturan antara ekspektasi keluarga besar di Jakarta dan idealismenya di tanah rantau kini mencapai titik didih yang paling mengkhawatirkan.

"Aku tidak membuang-buang waktu, Ayah," bela Ammar dengan suara tenang namun tegas. "Apa yang sedang aku pelajari di sini memberiku pelajaran tentang kepemimpinan, integritas, dan ketulusan—hal-hal yang tidak bisa diajarkan oleh ruang rapat direksi perusahaan."

“Integritas tidak akan bisa membayar gaji ribuan karyawan kita, Ammar!” bentak ayahnya lewat sambungan video. “Ayah beri kamu waktu satu bulan. Selesaikan semua urusan di Istanbul, kembalilah ke Jakarta, dan duduk di kursi direktur utama perusahaan. Jangan buat Ayah kecewa lagi.”

Panggilan video itu ditutup secara sepihak oleh sang ayah sebelum Ammar sempat memberikan jawaban lanjutan. Layar ponsel kembali gelap, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar kos yang sempit itu. Ammar memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Di tengah kebahagiaan dan ketenangan batin yang baru saja ia temukan bersama Dilara di kota ini, bayang-bayang tuntutan keluarga di tanah air kini kembali datang menghantam, mengancam untuk meruntuhkan segalanya.

❖ ❖ ❖

Siang harinya, Ammar memutuskan untuk menemui Dilara di sebuah kafe kecil di dekat alun-alun Beyazıt. Suasana kafe yang hangat dan aroma kopi Turki yang pekat sedikit banyak membantu menenangkan pikirannya yang kalut. Dilara datang beberapa menit kemudian, mengenakan mantel musim gugur berwarna krem dengan syal merah marun melingkar di lehernya. Begitu duduk di seberang Ammar, ia langsung menyadari ada kegelisahan yang besar di wajah pemuda itu.

"Ada apa, Ammar?" tanya Dilara langsung dengan nada khawatir, meletakkan tas kecilnya di atas kursi. "Kamu terlihat sangat pucat. Apakah ada masalah dengan draf tesis atau urusan risetmu?"

Ammar menatap Dilara lekat-lekat. Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan hal ini dari gadis yang telah menjadi belahan jiwanya. Ia merogoh saku mantelnya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dengan layar menghadap ke atas, memperlihatkan riwayat panggilan serta pesan teks bernada ultimatum dari ayahnya di Jakarta.

Dilara membaca pesan teks tersebut dengan seksama. Alisnya berkerut tipis, dan dadanya mendadak terasa ngilu. Ia sangat memahami posisi Ammar—terjepit di antara rasa berbakti kepada keluarga dan impian hidup mandiri yang telah ia bangun dengan susah payah di Istanbul.

“Babanin bu kadar sert çıkması seni çok üzmüş olmalı, Ammar,” ucap Dilara lembut dalam bahasa Turki, menyentuh punggung tangan Ammar di atas meja untuk menyalurkan kekuatan.

(Sikap ayahmu yang begitu keras pasti sangat membuatmu sedih, Ammar)

"Sangat, Dilara," aku Ammar lirih, membalas genggaman tangan gadis itu. "Ayah memberikan ultimatum. Beliau ingin aku segera kembali ke Jakarta dalam waktu satu bulan untuk mengambil alih perusahaan keluarga. Jika aku menolak, beliau mengancam akan memutuskan segala bentuk dukungan keluarga."

"Dan bagaimana keputusanmu?" tanya Dilara dengan suara bergetar halus, ada rasa takut kehilangan yang tiba-tiba mencengkeram hatinya. "Apakah kamu akan meninggalkan Istanbul dan kembali ke duniamu di Jakarta?"

Ammar menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Dilara. "Aku tidak ingin kembali ke Jakarta dengan cara seperti itu, Dilara. Kembali karena rasa takut tunduk pada kekangan materialistis bukanlah kebebasan. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin durhaka kepada orang tuaku."

Dilara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemetar di dalam dadanya. Ia tahu bahwa cepat atau lambat, kenyataan pahit ini harus mereka hadapi. Perbedaan latar belakang sosial dan benturan budaya antara ambisi keluarga konglomerat di Jakarta dan idealisme seorang peneliti di Istanbul adalah dinding besar yang harus mereka lewati bersama.

"Dengar, Ammar," kata Dilara dengan suara yang penuh keyakinan, menatap tajam mata pemuda itu. “Korkularına yenik düşme. Sen buradaki onurlu duruşunla kim olduğunu kanıtladın.”

(Jangan biarkan dirimu kalah oleh ketakutan. Kamu telah membuktikan siapa dirimu melalui keteguhan sikapmu di sini)

Lihat selengkapnya