Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Shalat Malam

Shalat Malam dan Petunjuk---

Pukul dua pagi, suasana di distrik Besiktas terasa jauh lebih senyap dibandingkan siang harinya. Hiruk-pikuk kota Istanbul yang dipadati jutaan manusia kini seolah membeku, digantikan oleh tiupan angin dingin dari Selat Bosphorus yang berembus pelan menembus celah-celah jendela kamar kos Ammar. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, hanya temaram cahaya lampu tidur berwarna kuning redup yang menerangi dinding bercat putih pudar.

Ammar duduk bersila di atas sejadah beludru hijau tua yang telah menemaninya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di tanah rantau ini. Ia mengenakan kaus polos berwarna hitam dan celana katun panjang, dengan selembar kain syal wol melingkar di lehernya untuk menghalau hawa dingin malam akhir musim semi. Suasana sunyi di sekelilingnya menciptakan ruang yang sangat khusyuk bagi batinnya untuk melepaskan segala beban pikiran yang menumpuk setelah hari-hari penuh ketegangan.

Badai yang mengancam kehidupannya di Istanbul semakin mendekati titik didih. Pertemuan tak terduga di menara Al-Banna Group beberapa waktu lalu, ditambah desas-desus bahwa Zaid Al-Faruq telah memegang berkas investigasi lengkap mengenai identitas keluarganya, membuat situasi kian rumit. Ammar tahu betul bahwa Tuan Tariq Al-Banna—sang taipan hotel yang sangat menjunjung tinggi marwah dan kejujuran keluarga—tidak akan tinggal diam jika rahasia penyamarannya sebagai mahasiswa sederhana terbongkar sepenuhnya.

Namun, di tengah tekanan psikologis dan ketidakpastian masa depan akademiknya, Ammar tidak lari mencari pelarian duniawi. Sebaliknya, ia memilih untuk mengadukan seluruh kegundahan hatinya kepada Zat yang memegang kendali atas segalanya.

Ia merapatkan kedua telapak tangannya, menengadah ke hadirat Ilahi dalam doa penutup sebelum ia bangkit untuk melaksanakan shalat malam. "Ya Rabb, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dadaku dan apa yang sedang meresahkan pikiranku. Engkau tahu niat awalku datang ke kota ini semata-mata untuk mencari ilmu dan menempa diri, bukan untuk mempermainkan takdir siapa pun. Jika badai ini adalah ujian untuk menguji ketulusan hatiku, berikanlah aku kekuatan, petunjuk, dan jalan keluar terbaik."

Suara bisikan doanya bergetar pelan di dalam kesunyian malam, menyatu dengan deru angin di luar jendela. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, Ammar perlahan berdiri, merapikan letak sajadah, lalu mengangkat kedua tangannya seraya mengucap takbiratul ihram untuk memulai rangkaian shalat tahajud. Gerakannya sangat tenang, penuh kekhusyukan, seolah melupakan seluruh keributan dunia luar di luar bilik kamar kosnya.

Di rakaat pertama, ia membaca surah-surah pendek dengan tartil, meresapi setiap ayat yang dilafalkan lidahnya. Suara isak tangis kecil tertahan di tenggorokannya ketika ia membacakan ayat-ayat tentang kesabaran dan pertolongan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang berada dalam kesulitan. Bagi Ammar, sejadah di tengah malam ini adalah tempat paling aman untuk menumpahkan segala lelah fisik dan mental yang selama ini ia pendam rapat-rapat di hadapan teman-teman maupun para pesaingnya di kampus.

❖ ❖ ❖

Gerakan shalat Ammar berlanjut dengan khusyuk hingga ia memasuki rakaat kedua. Suasana di dalam kamar semakin terasa syahdu. Ketika ia membaca tahiyat akhir dan mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, kedamaian batin mulai meresap perlahan ke dalam relung hatinya, menghapus separuh beban kecemasan yang sempat menghimpit dadanya sejak sore tadi.

Namun, puncak dari segala kepasrahan itu tertuang ketika ia bersujud. Dalam sujud yang panjang di sepertiga malam terakhir ini, Ammar membenamkan dahinya ke atas permukaan sejadah, membiarkan air matanya menetes jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Posisi sujud adalah posisi di mana seorang hamba berada paling dekat dengan Sang Pencipta, dan di sanalah Ammar mencurahkan seluruh kegundahan hatinya tanpa batasan kata.

"Allah'ım, bana doğru yolu göster ve kalbime huzur ver, (Ya Allah, tunjukkanlah aku jalan yang benar dan berikanlah ketenangan di dalam hatiku,)" bisik Ammar lirih dalam sujudnya, memadukan bahasa Arab dan bahasa Turki yang telah menjadi bagian dari kesehariannya di Istanbul. "Ben sadece senin rızanı kazanmak ve insanlara faydalı olmak istiyorum. Bu imtihanı hayırla sonuçlandır, ya Rabb. (Aku hanya ingin meraih ridha-mu dan memberi manfaat bagi sesama. Akhirilah ujian ini dengan kebaikan, ya Allah.")

Di dalam sujud yang panjang itu, bayangan wajah Dilara berkelebat di benaknya—gadis tulus yang selama ini berdiri di garis depan menghadapi kemarahan keluarganya demi mempertahankan prinsip kebersamaan mereka. Ammar juga membayangkan wajah tegas Tuan Tariq Al-Banna serta ancaman terselubung dari Zaid Al-Faruq yang siap meledak kapan saja. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik bayang-bayang penyamaran. Kebenaran harus segera dihadapi dengan kepala tegak, namun ia membutuhkan petunjuk ilahi mengenai kapan dan bagaimana waktu yang paling tepat untuk membuka semuanya.

Suara detak jam dinding tua di sudut kamar terdengar berdetak pelan, mengiringi keheningan malam yang semakin larut. Setelah beberapa menit tenggelam dalam sujud yang sarat akan doa dan permohonan ampun, Ammar perlahan mengangkat kepalanya, duduk di antara dua sujud, lalu mengucap salam penutup shalat malamnya.

Ia mengangkat kedua tangan kembali, berdoa dengan penuh keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan. Di dalam hatinya, sebuah ketetapan mulai terbentuk. Ia tidak akan menunggu hingga Zaid Al-Faruq menghancurkan reputasinya di hadapan Tuan Tariq melalui cara-cara manipulatif. Ia sendiri yang akan menemui sang kepala keluarga Al-Banna untuk menjelaskan segalanya secara jantan, jujur, dan terbuka.

Selesai berdoa, Ammar melipat sajadahnya dengan rapi, lalu meraih Al-Qur'an kecil berukuran saku yang terletak di atas meja nakas kayu. Ia membukanya secara acak, dan pandangannya langsung tertuju pada surah Al-Inshirah ayat lima dan enam: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Ayat suci itu seolah menjadi jawaban langsung atas kegundahan yang ia curhatkan dalam sujud panjang tadi. Senyuman tipis dan penuh ketenangan merekah di wajah Ammar. Segala rasa cemas yang sempat mencekam dadanya seketika menguap, berganti dengan keteguhan iman dan keberanian mental yang luar biasa.

❖ ❖ ❖

Pukul lima pagi, kumandang azan Subuh berkumandang merdu dari menara Masjid Ortakoy di dekat Selat Bosphorus, memecah kesunyian fajar dan memanggil umat Muslim untuk menunaikan kewajiban pagi. Ammar yang telah bersiap sejak selesai shalat tahajud segera mengenakan jaket tebalnya, melangkah keluar dari pintu kos menuju masjid untuk melaksanakan shalat Subuh berjemaah.

Udara pagi Istanbul sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, namun langkah kaki Ammar terasa begitu ringan dan mantap. Di sepanjang jalan setapak menuju masjid, ia berpapasan dengan beberapa warga lokal yang membuka kedai roti simit pagi atau berjalan santai membawa keranjang belanjaan.

Sesampainya di dalam masjid berarsitektur klasik Utsmaniyah yang megah itu, Ammar mengambil tempat di shaf depan. Suasana masjid yang tenang dengan aroma karpet wol yang khas memberikan tambahan ketenteraman batin yang sangat ia butuhkan. Usai menunaikan shalat Subuh, ia menyempatkan diri membaca beberapa lembar ayat suci Al-Qur'an hingga fajar benar-benar menyingsing sempurna di ufuk timur.

Ketika ia melangkah keluar dari halaman masjid, cahaya matahari pagi berwarna keemasan mulai memantul di atas permukaan air laut Selat Bosphorus, menerangi jembatan gantung megah yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Kota Istanbul mulai berdenyut kembali dengan aktivitas hariannya.

Ponsel di dalam saku jaket Ammar bergetar pelan. Ia mengeluarkannya dan melihat sebuah pesan masuk dari Dilara yang dikirimkan pukul lima lewat sepuluh menit tadi: “Ammar, apakah kau sudah bangun? Aku mendapat kabar buruk dari rumah tadi malam. Zaid berencana menemui ayahku malam ini untuk menyerahkan berkas investigasi itu. Kita harus bertemu sebelum jam kuliah pagi dimulai!”

Melihat pesan tersebut, Ammar tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun seperti hari-hari sebelumnya. Ketenangan usai shalat malam masih menyelimuti hatinya secara utuh. Ia segera mengetik balasan dengan jari yang stabil: “Jangan cemas, Dilara. Tenangkan dirimu. Pagi ini selesai kuliah jam sembilan, temui aku di kafe biasa dekat perpustakaan pusat. Kita akan menyelesaikan semuanya secara jantan.”

Lihat selengkapnya