
Janji di Udara Dingin---
Langit fajar di atas kawasan Cappadocia masih menyisakan rona gelap kebiruan ketika angin dingin bersuhu di bawah titik beku menyapu lembah bebatuan unik yang menyerupai bentukan pahatan alam purba. Di latar belakang, puluhan balon udara raksasa berwarna-warni mulai mengembang perlahan ditiup udara panas dari pembakar gas, bersiap terbang menyambut matahari terbit. Di atas dek bukit batu pasir yang menghadap ke lembah Göreme, Ammar berdiri tegak dengan mantel tebal berbalut syal wol rajutan hitam, membiarkan embun pagi membekukan ujung jemarinya. Tempat ini—tanah kuno yang menyimpan lapisan sejarah geologi dan peradaban ribuan tahun—menjadi saksi bisu dari akhir perjalanan studi dan riset internasional mereka di Turki.
Di sampingnya, Dilara berdiri terpukau menatap pemandangan agung di ufuk timur, di mana bias jingga matahari mulai menyibak kegelapan malam. Napas mereka mengepulkan uap putih tipis setiap kali keduanya berbicara di tengah udara dingin yang menusuk tulang.
"Masya Allah... pemandangan ini benar-benar seperti lukisan hidup," bisik Dilara takjub, kedua tangannya merapatkan mantel wol untuk menahan gigil udara pagi.
Ammar menoleh, memperhatikan wajah Dilara yang diterpa cahaya keemasan fajar. "Keindahan alam seperti ini mengingatkan kita pada betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan Sang Maha Pencipta," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang tenang. "Segala lekuk lembah dan formasi batuan ini terbentuk oleh waktu dan takdir-Nya."
"Dan siapa sangka, perjalanan panjang riset kita akhirnya bermuara di tempat seindah ini, Ammar," balas Dilara, menoleh ke arah pemuda itu dengan senyuman hangat yang menghiasi bibirnya. "Dari perpustakaan kampus kita yang sempit di tanah air, berdebat soal naskah kuno, hingga terbang jauh ke Istanbul dan kini berdiri di Cappadocia."
"Takdir selalu merajut jalurnya dengan cara yang paling menakjubkan bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar," kata Ammar lembut, matanya menatap lurus ke dalam sepasang mata cokelat terang milik Dilara. "Perjalanan ini bukan sekadar tentang lembar kertas tesis atau pengakuan akademik internasional, Dilara. Jauh dari itu, perjalanan ini mempertemukan dua jiwa dalam frekuensi nilai dan prinsip yang sama."
❖ ❖ ❖
Suasana di bukit batu pasir itu mendadak terasa begitu sunyi di tengah kesibukan para awak balon udara yang bersiap menerbangkan wahana mereka. Kata-kata Ammar barusan menggantung di udara dingin, memicu debar jantung yang tidak biasa di dada Dilara. Ia tahu betul ke arah mana perbincangan ini akan bermuara, namun kedalaman rasa hormat dan ketulusan yang terpancar dari diri Ammar membuatnya terdiam seribu bahasa.
"Dilara..." panggil Ammar pelan, memecah kesunyian fajar dengan nada suara yang terdengar sangat serius namun penuh keteduhan.
"Ya, Ammar?" sahut Dilara berbisik, debar jantungnya kian berpacu cepat seirama deru angin pagi.
"Gökyüzü şahidimiz olsun ki, niyetim tamamen saf ve doğrudur," ucap Ammar tiba-tiba dengan fasih menggunakan bahasa Turki, menatap lurus ke langit fajar Cappadocia seolah mengambil alam semesta sebagai saksi atas kata-katanya. (Biarlah langit menjadi saksi bahwa niatku sepenuhnya suci dan benar.)
Dilara membelalakkan matanya, terkejut mendengar kalimat bermakna mendalam yang diucapkan Ammar dalam bahasa Turki. "Ammar... apa maksud dari ucapan itu?" tanyanya ragu, suaranya sedikit bergetar karena udara dingin sekaligus emosi yang membuncah di dadanya.