Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Peringatan Waktu

Peringatan Waktu – Tariq mengingatkan Ammar bahwa segala rahasia besar pasti akan terbuka pada waktunya---

Suasana di ruang perpustakaan pribadi keluarga Hartono di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu mencekam. Di balik rak-rak buku kayu jati besar yang dipenuhi ensiklopedia hukum dan bisnis internasional, Ammar duduk dengan punggung tegak di atas kursi kerja berlapis kulit hitam. Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredakan peluh tipis yang merembes di keningnya setelah perdebatan sengit dengan ayahnya sore tadi.

Pintu perpustakaan terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Tariq—sahabat karibnya sesama perantau asal Indonesia yang kebetulan sedang berada di Jakarta untuk urusan publikasi jurnal akademik—berdiri membawa dua cangkir kopi hitam hangat. Tariq melangkah masuk dengan tenang, mengenakan kemeja katun abu-abu rapi, membawa aura keteduhan yang sangat kontras dengan ketegangan yang masih membekas di wajah Ammar.

"Minumlah dulu, Ammar. Wajahmu terlihat seperti orang yang baru saja kalah perang melawan pasukan Bizantium," ucap Tariq ramah sambil meletakkan salah satu cangkir kopi di atas meja kerja Ammar.

Ammar mendongak, menarik napas panjang sebelum menerima cangkir kopi tersebut. "Perang yang kuhadapi jauh lebih melelahkan daripada sejarah Bizantium, Tariq. Ayahku menolak mentah-mentah kehadiran Dilara. Beliau menganggap keputusanku membawa Dilara pulang tanpa restu awal adalah sebuah bentuk pembangkangan terbesar terhadap garis keturunan keluarga."

Tariq menarik sebuah kursi kayu di seberang meja, lalu duduk dengan tenang sambil menyesap kopinya perlahan. "Sudah kuduga reaksi Pak Hartono tidak akan jauh berbeda. Dunia bisnis keluarga besar di Jakarta diatur oleh angka, portofolio investasi, dan gengsi sosial. Bagi mereka, cinta dan idealisme tidak memiliki nilai tukar di pasar bursa."

"Tapi Dilara bukan sekadar gadis biasa, Tariq," bela Ammar dengan suara bergetar tertahan. "Dia adalah wanita yang menemaniku menyusuri lembaran naskah kuno di Fatih, wanita yang mengajarkanku arti ketenangan di tengah badai perantauan. Bagaimana bisa ayahku menilai derajat seseorang hanya dari silsilah keluarga?"

“Zaman her şeyi gösterir, Ammar,” ucap Tariq lembut menggunakan bahasa Turki, menatap mata sahabatnya dengan sorot ketenangan yang mendalam. “Sırlar ve niyetler uzun süre saklanamaz.”

(Waktu akan menunjukkan segalanya, Ammar. Rahasia dan niat tidak bisa disembunyikan selamanya)

Ammar tertegun mendengarkan kalimat tersebut. Penggunaan bahasa Turki oleh Tariq di tengah ruang perpustakaan Jakarta itu seolah membawa kembali ingatan mereka ke sudut-sudut kota Istanbul yang penuh kenangan—ke kedai teh kecil di Eminönü, ke halaman Masjid Biru, dan ke lembaran riset arsip Utsmaniyah yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka.

"Apa maksudmu dengan rahasia, Tariq?" tanya Ammar penasaran, mengerutkan keningnya. "Apakah ada sesuatu tentang Dilara atau keluarganya yang belum aku ketahui?"

Tariq menggeleng pelan, meletakkan cangkir kopinya di atas meja dengan hati-hati. "Bukan tentang Dilara, Ammar. Tapi tentang bagaimana waktu bekerja. Kamu mengira rahasia kepulanganmu ke Indonesia, alasan mengapa kamu menolak posisi direktur utama, serta ketulusan hubunganmu dengan Dilara adalah hal-hal yang bisa diatur oleh skenario keluargamu. Padahal, waktu memiliki caranya sendiri untuk membongkar kebenaran yang paling tersembunyi."

Ammar terdiam meresapi kata-kata sahabatnya. Ia tahu Tariq bukan tipe orang yang berbicara tanpa pertimbangan matang. Setiap nasihat yang meluncur dari bibir pemuda itu selalu berakar dari kedalaman spiritual dan pengalaman hidup yang matang selama bertahun-tahun di tanah perantauan.

❖ ❖ ❖

Suasana perpustakaan kembali diselimuti kesunyian sejenak, hanya terdengar suara dengung halus pendingin ruangan. Ammar menatap cairan hitam di dalam cangkirnya yang memantulkan bayangan lampu meja.

"Aku takut, Tariq," aku Ammar jujur, suaranya terdengar begitu rapuh untuk ukuran seorang pria yang selama ini dikenal keras kepala di hadapan keluarganya. "Aku takut jika pada akhirnya aku harus memilih antara berbakti kepada ayahku atau mempertahankan wanita yang kucintai. Pilihan itu terlalu berat untuk ditanggung."

Tariq menatap Ammar dengan pandangan penuh empati. Ia tahu persis beban psikologis yang sedang dipikul oleh sahabatnya itu. Menjadi anak tunggal dari keluarga konglomerat besar menuntut kepatuhan mutlak yang sering kali merampas kebebasan nurani seseorang.

"Pilihan itu tidak pernah bersifat hitam dan putih, Ammar," kata Tariq bijak. "Dalam tradisi Islam dan sejarah para leluhur kita, berbakti kepada orang tua tidak pernah berarti kita harus menyerahkan akal sehat dan prinsip kebenaran kita untuk disetir oleh ego mereka. Waktu akan membuktikan bahwa ketulusan niatmu jauh lebih kuat daripada amarah sesaat ayahmu."

“Zaman her yarayı sarar ve her gerçeği gün yüzüne çıkarır,” lanjut Tariq menegaskan dalam bahasa Turki, memperkuat pesannya. “Sabırlı olmalısın.”

(Waktu menyembuhkan setiap luka dan membawa setiap kebenaran ke permukaan. Kamu harus bersabar)

Ammar menghela napas panjang, merilekskan bahunya yang sejak tadi terasa kaku. "Aku mencoba bersabar, Tariq. Tapi setiap kali aku melihat Dilara duduk sendirian di kamar tamu hotel, merasa asing dan tidak diinginkan di kota ini, dadaku terasa sesak. Aku merasa gagal melindunginya dari amarah keluargaku."

"Dilara wanita yang kuat, Ammar," sanggah Tariq cepat. "Jangan remehkan ketahanan mental seorang peneliti sejarah yang terbiasa membongkar arsip-arsip kuno penuh intrik politik Utsmaniyah. Dia tahu apa risiko yang dihadapinya saat memutuskan terbang ke Jakarta bersamamu."

Tiba-tiba, suara ketukan pintu perpustakaan terdengar pelan. Pintu itu terbuka, dan sosok Dilara muncul di ambang pintu. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda, dengan senyuman tipis yang berusaha ia simpulkan di bibirnya, meskipun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kelelahan akibat jet lag dan tekanan mental selama berada di rumah besar tersebut.

"Maaf, apakah aku mengganggu percakapan kalian?" tanya Dilara sopan dalam bahasa Indonesia yang terdengar semakin fasih.

Tariq segera berdiri dari kursinya, memberikan gestur hormat kepada Dilara. “Buyurun, Dilara Hanım. Asla rahatsız etmiyorsunuz,” sapa Tariq ramah dalam bahasa Turki.

(Silakan, Naya—maksudku Dilara. Anda sama sekali tidak mengganggu)

Lihat selengkapnya