Kejutan di Ballroom Mewah---
Malam penganugerahan investasi regional tahunan yang diselenggarakan di grand ballroom Hotel Conrad Bosphorus, Istanbul, memancarkan kemegahan yang luar biasa. Langit malam kota dua benua itu dihiasi taburan bintang, sementara lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula memantulkan cahaya berkilauan ke atas lantai marmer hitam yang bersih berkilat. Ratusan tamu undangan yang terdiri atas para menteri kabinet, duta besar asing, konglomerat papan atas, serta para direktur eksekutif multinasional tampak berjejal menikmati alunan musik orkestra klasik yang mengalir lembut dari sudut ruangan.
Di tengah lautan manusia berbusana adibusana dan perhiasan berlian mewah, Dilara berdiri gelisah di dekat pilar kristal utama mengenakan gaun malam haute couture berwarna zamrud tua. Ia terus melirik ke arah pintu masuk utama, jemarinya meremas tas tangan kecilnya dengan kuat. Malam ini adalah acara formal wajib bagi keluarga besar Al-Banna, dan Tuan Tariq Al-Banna telah memerintahkan putrinya untuk hadir mendampingi para investor senior dari Ankara. Namun, bukan urusan bisnis yang mencemaskan hati Dilara, melainkan sebuah pesan singkat darurat yang ia terima dari Ammar setengah jam yang lalu.
“Dilara, aku di luar. Keadaan mendesak memaksaku untuk datang ke acara ini mengenakan setelan jas formal demi melewati penjagaan ketat panitia.”
Dilara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak karuan. Sejak pertemuan jujur di ruang kerja Tuan Tariq beberapa waktu lalu, hubungan antara Ammar dan keluarga Al-Banna memang mencair secara perlahan, namun sang ayah tetap melarang Ammar menghadiri jamuan elite resmi sebelum identitas dan status akademiknya benar-benar mapan di mata publik bisnis Istanbul. Kehadiran Ammar malam ini di tengah-tengah ratusan elite ekonomi Turki tentu akan memicu kehebohan besar, terutama jika Zaid Al-Faruq—yang juga diundang sebagai tamu kehormatan dari Al-Faruq Holding—melihatnya.
"Dilara, apa yang sedang kau cari di dekat pintu masuk?" suara bariton yang tegas dan familier tiba-tiba menginterupsi lamunannya.
Dilara terperanjat kecil, lalu menoleh mendapati Tuan Tariq Al-Banna berdiri di sampingnya dengan setelan tuksedo hitam berpotongan klasik yang sangat rapi. Di belakang sang ayah, Zaid Al-Faruq berdiri tegap mengenakan jas desainer Italia warna arang dengan senyuman penuh percaya diri tersungging di bibirnya.
"Ah, tidak ada apa-apa, Ayah. Aku hanya... merasa udara di dalam ruangan ini sedikit pengap," jawab Dilara cepat, berusaha menyembunyikan kegugupannya setengah mati.
Zaid tertawa kecil, melangkah mendekat dengan gaya angkuhnya yang biasa. "Sıcak bir gece, Dilara. Ve görünüşe göre içerideki heyecan henüz yeni başlıyor. (Malam yang hangat, Dilara. Dan sepertinya kegembiraan di dalam baru saja akan dimulai.") Zaid melirik ke arah pintu masuk utama ballroom. "Ngomong-ngomong, saya mendengar desas-desus menarik bahwa beberapa tamu tak diundang dari kalangan kampus mencoba menyusup ke acara eksklusif ini."
Jantung Dilara berdegup kencang mendengar sindiran tajam dari Zaid. Sebelum ia sempat membalas ucapan tersebut, perhatian seluruh tamu di dalam grand ballroom tiba-tiba teralihkan ke arah pintu utama yang perlahan terbuka lebar.
❖ ❖ ❖
Pintu kayu berlapis ukiran emas di pintu masuk grand ballroom terbuka lebar, diiringi sorot lampu panggung yang seketika menyapu area lobi dalam. Para penjaga keamanan hotel berdiri tegak memberi jalan kepada seorang tamu pria muda yang melangkah masuk dengan postur tegap dan penuh wibawa.
Sosok itu adalah Ammar.
Pria muda asal Indonesia tersebut mengenakan setelan jas formal berwarna midnight blue berpotongan modern Italia yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Dasi kupu-kupu hitam tersimpul rapi di kerah kemeja putihnya, sementara rambut hitamnya disisir ke belakang dengan gaya eksekutif muda yang sangat elegan. Penampilan baru yang luar biasa rapi itu seketika mematahkan seluruh bayangan orang tentang sosok Ammar yang selama ini dikenal hanya mengenakan kemeja flanel sederhana dan jaket katun lusuh di lingkungan kampus.
Kehadiran Ammar di ambang pintu membuat beberapa kepala pejabat tinggi menoleh heran. Namun, bagi keluarga Al-Banna, kemunculan itu terasa bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Tuan Tariq Al-Banna menghentikan percakapannya, menyipitkan mata menatap tajam ke arah pemuda yang berjalan tenang menyusuri karpet merah ballroom. Alis sang taipan berkerut dalam, memancarkan memancarkan wibawa dingin yang mengintimidasi. Di sampingnya, Zaid Al-Faruq membelalakkan mata tak percaya, rahangnya sedikit mengatup rapat menahan rasa kesal bercampur heran.
"Bu da kim? (Siapa anak muda ini?)" gumam Zaid sinis dalam bahasa Turki, melipat kedua tangannya di dada. "Bagaimana bisa mahasiswa penerima beasiswa miskin itu mengenakan setelan jas desainer mahal dan masuk ke ruang utama acara kita?"
Dilara merasakan kelegaan sekaligus kecemasan yang bergemuruh di dadanya secara bersamaan. Ia tahu bahwa Ammar terpaksa mengenakan pakaian resmi itu demi bisa lolos dari sistem pengamanan ketat panitia yang menerapkan aturan black-tie dress code secara mutlak bagi setiap tamu malam ini.
Ammar berjalan dengan langkah tenang namun pasti, melewati deretan meja bundar berbalut kain putih sutra. Sorot matanya lurus menatap ke arah tempat Tuan Tariq dan Dilara berdiri. Tidak ada secercah pun rasa gentar di wajahnya, meski ratusan pasang mata dari para elite bisnis Turki kini mengarah kepadannya.
Begitu berjarak beberapa meter dari kelompok Tuan Tariq, Ammar menghentikan langkahnya, menegakkan tubuh, lalu membungkuk hormat secara sopan.
"Selamat malam, Tuan Tariq. Selamat malam, Zaid," sapa Ammar dengan suara baritonnya yang tenang, fasih, dan sangat berwibawa dalam bahasa Turki.
Tariq Al-Banna melangkah maju satu langkah, menatap tajam dari ujung sepatu kulit hitam mengilap Ammar hingga ke bagian kerah jasnya. "Ammar... (Ammar...)" ucap Tariq dingin dengan nada suara rendah. "Gedung ini tidak terbuka untuk umum, dan undangan malam ini bersifat sangat eksklusif. Atas dasar apa kau berdiri di tengah-tengah acara ini dengan setelan formal mahal seperti itu?"
❖ ❖ ❖