Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #48

Tatapan Terkejut

Tatapan Terkejut – Bayang-Bayang Asli di Balik Jas Sederhana---

Kemegahan aula utama di sebuah hotel bersejarah di kawasan distrik Beşiktaş, Istanbul, memancarkan pendar cahaya keemasan dari puluhan lampu gantung kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi berukir klasik. Malam itu, gelaran jamuan gala malam internasional penutupan program riset ekonomi maritim dan investasi strategis Asia-Eropa tengah berlangsung meriah. Para profesor universitas terkemuka, pejabat kamar dagang internasional, serta puluhan pengusaha multinasional berjas rapi tampak berbaur sambil menikmati alunan musik klasik biola yang mengalun lembut di sudut ruangan.

Di dekat meja prasmanan mewah yang menyajikan berbagai hidangan khas Mediterania, Farhan berdiri berdampingan dengan Rian. Farhan mengenakan setelan jas hitam sederhana yang dibelinya dari toko lokal menjelang keberangkatan mereka ke acara tersebut—tanpa merek mewah, tanpa potongan mencolok, murni menunjukkan kesan rapi seorang mahasiswa beasiswa biasa. Sementara itu, Rian tampak sibuk mencicipi kue lapis pistachio khas Turki sambil berbisik takjub melihat kerumunan elit bisnis di sekeliling mereka.

"Lihat sekeliling kita, Han," bisik Rian bersemangat di dekat telinga Farhan. "Orang-orang di sini semuanya adalah para direktur perusahaan raksasa, investor properti internasional, dan para tokoh penting perdagangan dunia. Suasananya benar-benar membuat nyali kecilku menciut."

Farhan tersenyum tipis, meneguk air mineral dari gelas kecil di tangannya. Matanya tenang memandang lurus ke arah panggung utama. "Buradaki herkes sadece unvanlarıyla var olmaya çalışıyor, Rian," ucap Farhan tenang menggunakan bahasa Turki.

("Setiap orang di sini hanya berusaha eksis dengan gelar dan jabatan mereka, Rian.")

"Vay canına, Türkçe konuşman gittikçe akıcılaşıyor!" puji Rian terkekeh pelan. "Tapi serius, kalau seandainya mereka tahu siapa kau sebenarnya di balik jas sederhana itu—bahwa kau adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis tekstil raksasa di Solo—mungkin para direktur itu akan langsung berebut antre untuk menyapamu duluan."

"Sudahlah, Rian. Jangan mulai lagi," potong Farhan dengan nada mengingatkan, meskipun sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. "Tujuan kita di sini bukan untuk pamer identitas atau mencari perhatian para investor global. Kita datang untuk menutup babak akhir riset akademik kita dengan terhormat."

Tepat pada saat itu, di seberang aula yang cukup megah, pandangan mata Farhan tak sengaja beradu dengan sosok yang sangat dikenalnya. Di dekat pintu masuk utama, Dilara tampak anggun mengenakan gaun malam panjang berwarna emerald berbalut syal sutra halus. Ia berdiri di samping seorang pria paruh baya bertubuh tegap, berambut perak rapi, mengenakan setelan jas eksekutif tailor-made berkelas tinggi yang memancarkan wibawa luar biasa—Tuan Al-Banna, ayah kandung Dilara sekaligus salah satu tokoh konglomerat perhotelan dan properti multinasional terkemuka di kawasan Mediterania.

Jantung Farhan berdegup sedikit lebih kencang. Selama berminggu-minggu di Istanbul, meskipun ia sudah sangat dekat dengan Dilara, ia belum pernah sekalipun dipertemukan secara langsung dengan Tuan Al-Banna, yang dikenal sangat sibuk mengurus jaringan bisnis global keluarganya. Dan malam ini, di tengah gemerlapnya jamuan internasional tersebut, pertemuan yang tidak terduga itu akhirnya tak terelakkan lagi.

❖ ❖ ❖

Dilara yang berdiri di samping ayahnya tiba-tiba menyadari kehadiran Farhan di seberang ruangan. Wajahnya berseri cerah. Ia membisikkan sesuatu kepada Tuan Al-Banna, lalu menunjuk ke arah tempat Farhan dan Rian berdiri. Sang ayah menoleh, menyipitkan mata sejenak memperhatikan pemuda berjas sederhana yang menjadi rekan riset putrinya selama di Turki.

"Mari kita hampiri mereka, Ayah," ajak Dilara lembut kepada Tuan Al-Banna. "Babacığım, seni proje arkadaşım Farhan ile tanıştırmak istiyorum."

("Ayah, aku ingin mengenalkanmu dengan rekan projekku, Farhan.")

Tuan Al-Banna mengangguk tenang, melangkah pasti mendampingi putrinya menyeberangi lantai marmer aula yang mengkilap. Namun, sebelum langkah mereka mencapai meja tempat Farhan berdiri, sebuah kejadian tak terduga mendadak menghentikan langkah sang konglomerat dan membuat seluruh atensi di sekitar sudut ruangan itu beralih ke arah Farhan.

Dari arah koridor VIP utama, seorang tokoh penting dunia bisnis internasional—Tuan Hakan Demir, CEO dari salah satu holding logistik terbesar di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah yang juga menjadi keynote speaker malam itu—tiba-tiba berjalan tergesa-gesa menghampiri Farhan dengan ekspresi wajah yang sumringah dan penuh rasa hormat.

"Bay Ammar! Sonunda sizi bulabildim!" seru Tuan Demir lantang dalam bahasa Turki, merentangkan tangan menyambut Farhan dengan hangat.

("Tuan Ammar! Akhirnya saya bisa menemukan Anda!")

Farhan—yang akrab disapa dengan nama tengahnya, Ammar, oleh para kolega bisnis internasional keluarganya—tertegun sejenak sebelum tersenyum ramah dan menyambut jabat tangan hangat dari sang CEO multinasional tersebut. "Merhaba, Tuan Demir. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi di acara malam ini," jawab Farhan fasih dalam bahasa Turki.

Di belakang Tuan Demir, dua orang direktur bank investasi asal Swiss turut mendekat, membungkuk sedikit memberikan gestur hormat yang lazim ditujukan kepada mitra strategis kelas atas. "Şirketinizin Solo'daki yeni tekstil yatırımları hakkında çok harika haberler duyduk, Ammar Bey. Sizinle tekrar iş birliği yapmak bizim için büyük bir onur olur," ujar salah satu direktur bank tersebut dengan nada sangat sopan.

("Kami mendengar kabar luar biasa tentang investasi tekstil baru perusahaan Anda di Solo, Tuan Ammar. Merupakan kehormatan besar bagi kami untuk bisa bekerja sama kembali dengan Anda.")

Percakapan singkat itu terjadi dengan sangat natural di tengah ruangan. Namun bagi orang-orang di sekitar mereka, terutama bagi Tuan Al-Banna dan Dilara yang baru saja tiba beberapa meter dari tempat itu, pemandangan tersebut mendatangkan gelombang kejutan yang luar biasa besar.

Lihat selengkapnya