Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Tabir Terbuka

Tabir Terbuka---

Langit Jakarta sore itu tampak mendung menggantung, menumpahkan rintik hujan gerimis yang membasahi kaca jendela besar sebuah restoran kontemporer bergaya minimalis di kawasan Menteng. Di dalam ruangan yang hangat berbalut alunan musik instrumental lembut, aroma kopi hitam bercampur wangi rempah makanan berkelas menyelimuti udara. Dilara duduk terpaku di kursi beludru berwarna abu-abu tua, menatap lurus ke arah amplop cokelat tebal yang tergeletak di atas meja marmer di hadapannya. Dokumen-dokumen resmi di dalam amplop itu baru saja ia buka beberapa menit lalu, memuat lembaran profil perusahaan multinasional raksasa dan akta kepemilikan aset properti di berbagai kota besar internasional.

Di seberangnya, Ammar duduk dengan postur tubuh tegap mengenakan kemeja biru dongker formal. Wajah pemuda itu tampak tenang, namun ada sorot ketegangan dan kelegaan yang bercampur aduk di dalam mata cokelatnya di balik kacamata berbingkai tipis. Pertemuan sore itu bukanlah agenda akademis atau diskusi riset sejarah seperti yang biasa mereka lakukan, melainkan sebuah pengakuan besar yang selama ini sengaja disimpan rapat oleh Ammar dari lingkaran pertemanannya di kampus.

"Jadi... semua data ini benar, Ammar?" suara Dilara bergetar halus, jemarinya meraba kertas laporan perusahaan yang mencantumkan nama keluarga Al-Faruq sebagai pemegang saham pengendali konglomerasi terbesar di sektor energi dan maritim regional. (Jadi semua ini nyata?)

Ammar menarik napas dalam-dalam, menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi. "Aku tidak pernah berniat untuk membohongimu atau siapa pun di kampus, Dilara. Hanya saja, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di dunia perkuliahan, aku ingin dikenal sebagai Ammar si pencari ilmu, bukan sebagai pewaris takhta kekaisaran bisnis keluargamu—maksudku, keluarga ayahku."

"Keluarga Al-Faruq Group..." gumam Dilara pelan, matanya menatap tajam ke arah lembaran korporasi multinasional tersebut. "Selama ini seluruh mahasiswa dan dosen mengira kau hanyalah pemuda biasa penerima beasiswa penuh yang hidup sederhana di kos-kosan sempit dekat kampus. Dan ternyata... kau adalah anak tunggal dari salah satu konglomerat paling berpengaruh di negeri ini."

"Para mühim değil, Dilara; kedudukan keluarga tidak pernah mendefinisikan siapa diriku yang sebenarnya di hadapan ilmu," ucap Ammar tenang menggunakan bahasa Turki, mencoba meredakan kejut emosional yang melanda gadis di depannya. (Uang tidaklah penting, Dilara; kedudukan keluarga tidak pernah mendefinisikan siapa diriku yang sebenarnya di hadapan ilmu.)

Dilara mendongak, menatap pemuda yang telah menemaninya berjuang meneliti naskah kuno di Istanbul dan Cappadocia itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ada rasa tidak percaya, kagum, sekaligus kebingungan yang luar biasa besar atas rahasia besar yang baru saja terbuka di hadapannya.

❖ ❖ ❖

Suasana di meja restoran mendadak terasa hening di tengah gemercik rintik hujan yang menimpa kaca jendela luar. Dilara melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lekat-lekat ke dalam mata Ammar tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Selama bertahun-tahun mengenal pemuda itu, tidak ada satu pun gestur, gaya hidup, atau tutur kata Ammar yang mencerminkan status sosial luar biasa mewah yang kini tertera jelas di lembaran dokumen investigasi kecil tersebut.

"Mengapa kau menyembunyikan identitas sebesar ini dariku, Ammar?" tanya Dilara dengan nada suara yang terdengar lirih namun menuntut kejujuran penuh. "Kita telah melalui perjalanan panjang bersama, menembus batas negara, berbagi impian, dan berdiskusi tentang masa depan. Tidakkah aku berhak tahu siapa dirimu sebenarnya sejak awal?"

Ammar menunduk sejenak, merapikan letak cangkir kopi di atas meja sebelum kembali mengangkat wajahnya menatap Dilara dengan sorot mata yang penuh kejujuran mutlak. "Karena aku ingin kau melihatku sebagai diriku, Dilara. Bukan sebagai anak dari seorang konglomerat yang dikelilingi fasilitas mewah."

"Jika aku memamerkan kekayaan keluarga sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan, hubungan kita tidak akan pernah murni," lanjut Ammar dengan suara baritonnya yang tegas. "Setiap pencapaian riset, setiap perdebatan sengit kita, dan setiap tetes keringat perjuangan kita di Istanbul akan ternodai oleh bayang-bayang status sosial keluargaku. Aku ingin dihormati karena usahaku sendiri, bukan karena harta orang tuaku."

Dilara tertegun mendengar penjelasan yang begitu rasional dan penuh prinsip tersebut. Kemarahan kecil yang sempat tebersit di dalam hatinya perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa hormat yang semakin dalam terhadap integritas moral pemuda di hadapannya.

"Kau benar-benar manusia yang sulit ditebak, Tuan Sejarahwan," kata Dilara sambil menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menyunggingkan senyuman tipis untuk mencairkan ketegangan. "Semua orang di kampus mengira kau hidup dalam kesederhanaan mutlak, sementara di belakang layar, kau memegang kendali atas jaringan korporasi multinasional."

Lihat selengkapnya