Kecewa yang Menghujam – Dilara merasa tertipu oleh penyamaran yang dilakukan Ammar selama ini---
Udara sore di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa pengap dan menyesakkan, sangat kontras dengan sejuknya angin Selat Bosphorus yang biasa menemani langkah Dilara dan Ammar di Istanbul. Di dalam perpustakaan pribadi keluarga Hartono yang megah, keheningan mendadak pecah oleh denting suara gelas kristal yang diletakkan terlalu keras di atas meja kerja mahoni.
Dilara berdiri terpaku di hadapan meja tersebut, menatap selembar dokumen resmi berkop perusahaan logistik multinasional raksasa yang baru saja diserahkan oleh asisten pribadi Pak Hartono. Matanya membelakik membaca deretan angka, struktur kepemilikan saham, serta nama lengkap pemegang hak kendali utama korporasi tersebut.
Nama yang tertera jelas di dokumen itu bukanlah nama seorang pemuda perantau sederhana yang selama ini ia kenal sebagai mahasiswa miskin berpenampilan kemeja katun polos dan kacamata usang. Nama yang tertulis di sana adalah Ammar Hartono—pejuang tunggal kekaisaran bisnis logistik terbesar di Asia Tenggara, seorang konglomerat muda yang selama bertahun-tahun sengaja menyembunyikan identitas aslinya di balik topeng kesederhanaan di universitas tempat mereka meriset naskah kuno.
"Apa... apa arti semua ini?" bisik Dilara dengan suara bergetar hebat. Tenggorokannya terasa kering, dan dadanya mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa tajam.
Pintu perpustakaan terbuka lebar, memperlihatkan Ammar yang baru saja melangkah masuk dengan napas sedikit memburu, seolah ia baru saja berlari mengejar waktu. Wajah pemuda itu tampak pucat pasi melihat dokumen di tangan Dilara.
"Dilara... biarkan aku menjelaskan semuanya," ucap Ammar lirih, melangkah maju perlahan dengan tangan terulur, mencoba mendekati gadis yang dicintainya itu.
Dilara mengangkat tangan kanannya, menghentikan langkah Ammar seketika. Sorot mata gadis itu tidak lagi memancarkan kehangatan dan kekaguman seperti biasa; yang ada kini hanyalah kilat kekecewaan yang mendalam, rasa sakit, dan kehancuran batin yang tak terperi.
"Menjelaskan apa, Ammar?" suara Dilara melengking tajam di ruang perpustakaan yang luas itu, air matanya tumpah membasahi pipinya tanpa bisa ia bendung lagi. "Menjelaskan bagaimana caramu membohongiku selama bertahun-tahun? Menjelaskan bagaimana caramu mempermainkan perasaanku dengan berpura-pura menjadi pria melarat yang berjuang mati-matian hidup di perantauan?"
"Bukan begitu, Dilara. Aku tidak pernah berniat membohongimu," bela Ammar dengan suara putus asa, mencoba mendekat lagi. "Dengarkan aku dulu..."
“Bana yalan söyledin, Ammar!” potong Dilara dengan teriakan penuh kepedihan menggunakan bahasa Turki, melampiaskan amarah yang menyesakkan dadanya. “Bütün bu olanlar bir oyun muydu?”
(Kamu berbohong kepadaku, Ammar! Apakah semua yang terjadi ini adalah sebuah permainan?)
Ammar tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan kalimat berbahasa Turki yang diucapkan Dilara dengan nada penuh luka. Ia tahu saat paling menakutkan dalam hidupnya telah tiba—saat di mana topeng kesederhanaan yang ia kenakan untuk mencari ketulusan hidup justru berubah menjadi pisau bermata dua yang menusuk hati wanita paling berharga di dunia baginya.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruangan megah itu menjadi sunyi senyap, menyisakan isak tangis tertahan dari Dilara yang meremas lembaran kertas dokumen di tangannya hingga berkerut. Selama ini, Dilara dikenal sebagai wanita yang cerdas, kritis, dan sangat menghargai kejujuran di atas segalanya. Ia telah mengorbankan masa depannya di Ankara, melawan standar keluarganya sendiri, dan terbang jauh ke Jakarta karena ia percaya bahwa Ammar adalah pria jujur yang berjuang dari titik nol sepertinya.
Namun, kenyataan yang tersaji di hadapannya hari ini menghancurkan seluruh fondasi kepercayaan itu dalam sekejap.
"Selama ini, setiap kali aku merasa kasihan melihatmu kesulitan membayar sewa kamar kos..." suara Dilara tercekat, air matanya semakin deras mengalir. "Setiap kali kita makan roti simit di pinggir jalan Eminönü dan kamu berlagak seolah uang receh itu sangat berarti bagimu... apakah itu semua hanya sandiwara? Apakah kamu sedang menikmati kebodohanku yang tulus mencintaimu apa adanya?"
"Tidak, Dilara! Demi Allah, cintaku padamu tulus!" seru Ammar dengan suara parau, ia tidak tahan lagi melihat air mata wanita yang dicintainya tumpah karenanya. Ia maju dan mencengkeram kedua bahu Dilara dengan lembut, memaksa gadis itu menatap matanya. "Aku tidak pernah mempermainkan perasaanmu. Alasan aku menyembunyikan identitasku di Istanbul adalah karena aku ingin dicintai bukan sebagai pewaris takhta kekayaan keluarga Hartono, melainkan sebagai diriku sendiri—sebagai Ammar!"
Dilara menatap tajam ke dalam mata Ammar, namun rasa sakit di hatinya membuat penjelasan itu terdengar seperti alasan yang keji. Ia menepis tangan Ammar dari bahunya dengan kasar.
"Dan dengan cara apa kamu membuktikannya? Dengan cara membohongiku?!" seru Dilara penuh amarah. "Kalau kamu memang ingin mencari ketulusan, bukan berarti kamu berhak merendahkan kejujuran! Kamu membiarkan aku hidup dalam ketakutan melawan keluargamu, kamu membiarkan aku merasa minder dengan latar belakangku, sementara di balik punggungku, kamu adalah pemilik sah dari seluruh korporasi raksasa ini!"
“Bana güvendiğini sanıyordum, Dilara,” ucap Ammar lirih dengan mata berkaca-kaca, suaranya nyaris tak terdengar.
(Aku pikir kamu mempercayaiku, Dilara)
“Nasıl güvenebilirdim ki, Ammar?” balas Dilara tajam, menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyuman pahit di bibirnya. “Bana kendin hakkında gerçeği söylemeyen birine nasıl güvenebilirdim?”
(Bagaimana aku bisa percaya, Ammar? Bagaimana aku bisa percaya pada seseorang yang tidak pernah mengatakan kebenaran tentang dirinya sendiri kepadaku?)
Argumen itu telak menghantam batin Ammar. Ia tidak bisa membela diri lagi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sekecil apa pun niat baik di balik penyamarannya, kebohongan tetaplah sebuah kebohongan yang meninggalkan luka mendalam di hati orang yang paling ia cintai.
❖ ❖ ❖
Pintu perpustakaan kembali berderit pelan. Sosok Pak Hartono—ayah Ammar—berdiri di ambang pintu, menyaksikan perdebatan hebat tersebut dengan ekspresi dingin yang sulit diartikan. Di balik topeng ketegasannya sebagai seorang pengusaha senior, ada kepuasan tersendiri yang tersembunyi melihat rencana terselubung perusahaannya berhasil membongkar rahasia putranya di hadapan gadis itu.