Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Refleksi Kesalahan

Refleksi Kesalahan---

Langit di atas distrik Süleymaniye malam itu membentang luas dalam balutan warna biru tua yang pekat, dihiasi taburan bintang-bintang redup yang bersembunyi di balik gumpalan awan tipis. Dari pelataran masjid bersejarah yang berdiri megah menatap ke arah Teluk Golden Horn, pemandangan lampu-lampu kota Istanbul berkilauan bagaikan permadani emas yang ditebar di atas beludru malam. Di sebuah sudut bangku taman batu yang sepi dari hiruk-pikuk wisatawan, Ammar Fathan duduk seorang diri dengan postur sedikit membungkuk. Kedua tangannya meremas tepi jaket wol abu-abunya, sementara pandangannya kosong menatap pantulan cahaya lampu jembatan di atas permukaan air laut yang tenang di kejauhan.

Setelah rentetan peristiwa menegangkan mulai dari penggagalan konspirasi di pesta perayaan hotel hingga penangkapan jaringan sindikat Victor Rogov di berbagai titik strategis kota, ketegangan fisik yang selama ini mencengkeram hari-hari mereka akhirnya mereda. Namun, di balik keheningan malam yang menyejukkan itu, badai sesungguhnya justru berkecamuk di dalam benak Ammar. Ia menyadari bahwa kemenangan yang baru saja mereka raih dibayar dengan harga yang mahal—bukan sekadar luka fisik atau keringat dingin, melainkan tumpukan rahasia, setengah kebenaran, dan manipulasi informasi yang selama ini ia gunakan untuk "melindungi" orang-orang terdekatnya.

Langkah kaki ringan terdengar mendekat di atas kerikil taman, disusul oleh suara gemerisik mantel panjang yang menyapu udara dingin. Dilara Aksu berjalan menghampiri dengan membawa dua cangkir kertas berisi kopi panas, lalu duduk perlahan di sebelah Ammar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk beberapa saat. Ia menyerahkan salah satu cangkir hangat itu kepada Ammar dengan sentuhan jemari yang lembut.

"Burası her zaman şehre yukarıdan bakıp insanin kendi iç sesini duyabileceği en sessiz yer olmuştur, Fathan," (Tempat ini selalu menjadi tempat paling sunyi untuk melihat kota dari atas dan mendengar suara hati sendiri, Fathan,) ucap Dilara pelan dalam bahasa Turki, memecah keheningan malam yang panjang. "Ama sen bu sessizliğin içinde kaybolmuş gibisin." (Tapi kamu seolah tersesat di dalam keheningan ini.)

Ammar menerima cangkir kopi tersebut, merasakan kehangatannya meresap ke dalam telapak tangannya yang dingin. Ia menoleh menatap Dilara, melihat binar mata gadis itu yang selalu memancarkan ketulusan tanpa batas. Tatapan itu justru membuat rasa bersalah di dada Ammar semakin menghimpit kuat.

"Çünkü sessizlik bazen en yüksek sesli vicdan muhasebesidir, Dilara," (Karena kesunyian terkadang adalah audit nurani dengan suara paling nyaring, Dilara,) jawab Ammar dengan suara serak berat, mengalihkan pandangannya kembali ke arah lampu-lampu kota di bawah sana. "Günlerdir zaferden bahsediyoruz, ama benim içimde hâlâ çözülmemiş bir yalan var." (Selama berhari-hari kita berbicara tentang kemenangan, tapi di dalam diriku masih ada kebohongan yang belum terselesaikan.)

Dilara mengernyitkan dahi, menatap Ammar dengan pandangan penuh selidik namun sarat akan kelembutan. "Hangi yalandan bahsediyorsun, Ammar? Biz birlikte başardık, tehlikeyi atlattık." (Kebohongan apa yang kamu bicarakan, Ammar? Kita berhasil bersama-sama, kita melewati bahaya.)

"Hayır, Dilara," sela Ammar lirih. "Benim sakladığım gerçekler, koruma kisvesi altında yürüttüğüm gizlilikler... Niyetim iyi olsa bile, izlediğim yol o kadar da masum değildi." (Tidak, Dilara. Kebenaran yang aku sembunyikan, kerahasiaan yang aku jalankan dengan kedok perlindungan... Sekalipun niatku baik, jalan yang aku tempuh tidaklah semurni itu.)

❖ ❖ ❖

Pengakuan jujur itu meluncur begitu saja dari bibir Ammar, memecah dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan begitu rapat. Udara malam yang dingin seolah menusuk tulang, mempertegas kejujuran yang terasa pahit namun mendesak untuk dikeluarkan.

"Babamın geçmişini benden ilk başta sakladın, evet; bunu güvenlik için yaptığını söyledin," (Kamu menyembunyikan masa lalu ayahmu dariku sejak awal, ya; kamu bilang itu dilakukan demi keamanan,) ucap Dilara dengan nada suara yang tenang namun mulai menyiratkan getaran emosi di dalam dadanya. "Aynı şekilde Tariq ve Naya'yı da tehlikeli kararların içine adım adım çekerken, onlara her şeyi açıkça anlatmadın." (Begitu juga saat kamu menyeret Tariq dan Naya ke dalam keputusan-keputusan berbahaya secara bertahap, kamu tidak menceritakan semuanya secara terbuka kepada mereka.)

*"Çünkü korkuyordum, Dilara,"*aku Ammar jujur, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Doğru olanı yapma arzusu, beni insanları manipüle etmeye haklı kıldığını düşündürdü. İyi niyetin arkasına sığınarak, gerçeği söyleme cesaretinden kaçtım. Bu, bir liderlik değil, bir korkaklıktı." (Karena aku takut, Dilara. Keinginan untuk melakukan hal yang benar membuatku berpikir bahwa itu memberiku hak untuk memanipulasi orang. Bersembunyi di balik niat baik, aku lari dari keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Ini bukan kepemimpinan, ini adalah kepengecutan.)

Titik Jepit 1 mencengkeram erat ruang batin Ammar. Pengakuan atas kelemahan diri sendiri di hadapan wanita yang dicintainya adalah ujian mental yang jauh lebih berat daripada menghadapi todongan senjata para pembunuh bayaran Victor Rogov di lorong-lorong bawah tanah Istanbul. Di titik ini, Ammar dihadapkan pada cermin kebenaran yang mutlak: bahwa niat yang suci tidak pernah bisa dibenarkan sepenuhnya jika dicapai melalui cara-cara yang menepis keterbukaan dan kejujuran pada sahabat.

Dilara terdiam sejenak. Ia merapatkan mantelnya, lalu bergeser sedikit mendekat ke arah Ammar di bangku taman tersebut. Jemarinya meraih tangan Ammar yang menggenggam cangkir kopi, meremasnya dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan.

"İyi niyet her şeyi temizlemez, Ammar," kata Dilara dengan suara yang sangat tulus, menatap tepat ke dalam mata pemuda itu. "Ama hatanı şimdi fark edip bunu itiraf edebilmek, seni korkak değil, aksine onurlu bir insan yapar. Biz hata yapmayan makineler değiliz; hata yapacağız, ama önemli olan birbirimizin elini bırakmamak." (Niat baik tidak membersihkan segalanya, Ammar. Tapi menyadari kesalahanmu sekarang dan mampu mengakuinya, membuatmu bukan pengecut, melainkan manusia yang terhormat. Kita bukan mesin yang tidak pernah berbuat salah; kita akan berbuat salah, tapi yang penting adalah tidak melepaskan tangan satu sama lain.)

Lihat selengkapnya