Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #55

Shalat Istikharah Dilara

Shalat Istikharah Dilara – Dilara meminta petunjuk Allah SWT di tengah gundah gulana hatinya---

Suasana malam di kamar apartemen Dilara di kawasan Fatih, Istanbul, terasa begitu sunyi dan dingin. Jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah jalanan tua berbatu dibasahi oleh rintik hujan gerimis yang turun tanpa suara sejak beberapa jam lalu. Di dalam ruangan bercat putih bersih itu, hanya ada secercah cahaya kekuningan dari lampu tidur meja belajar yang menerangi sudut kamar.

Dilara duduk bersimpuh di atas sajadah tebal berwarna hijau tua dengan motif sulaman oriental lembut. Mengenakan mukena putih bersih yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, ia baru saja merampungkan salat malam yang panjang. Kedua telapak tangannya menengadah ke hadapan Ilahi, sementara air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah tak terbendung, membasahi pipinya yang pucat.

Pikiran gadis itu berkecamuk hebat, terjebak di antara dua dunia yang saling bertarung di dalam dadanya. Bayangan pertemuan terakhirnya di Jakarta—saat ia mengetahui bahwa Ammar, pria yang dicintainya selama bertahun-tahun, ternyata adalah seorang konglomerat pewaris takhta korporasi logistik multinasional besar—terus berkelebat di dalam kepalanya bagaikan guliran film bisu yang menyiksa.

“Bana yalan söyledin, Ammar,” bisik Dilara seorang diri di dalam kamar yang sunyi itu, melafalkan kembali kalimat penuh luka yang ia ucapkan di malam perpisahan mereka. Rasa sakit karena merasa ditipu oleh penyamaran identitas itu masih menggoreskan luka yang sangat dalam di relung hatinya.

(Kamu berbohong kepadaku, Ammar)

Namun, di balik rasa kecewa dan amarah yang membakar dada, ada bayangan lain yang tidak bisa begitu saja ia hapus dari ingatannya. Bayangan saat Ammar dengan tulus menemaninya menyusuri lembaran naskah kuno di perpustakaan Fatih, saat mereka berbagi gelas teh çay hangat di kedai kecil Eminönü di bawah senja Bosphorus, serta ketulusan mata pemuda itu yang memohon ampun di pelataran rumah Menteng. Apakah seluruh kenangan indah itu palsu? Apakah cinta yang mereka bangun di tanah perantauan selama ini hanyalah sebuah sandiwara korporasi yang kejam?

Dilara menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak beraturan. Ia tahu bahwa logika manusia, amarah sesaat, dan gengsi perasaannya tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang adil atas kemelut hidup yang sedang dihadapinya. Di saat-saat paling rapuh dan buntu seperti inilah, ia memilih untuk mengadu kepada Zat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia.

Sebelum ia memulai salat malam tadi, Dilara telah melaksanakan salat sunnah Istikharah dua rakaat—sebuah ikhtiar batin untuk memohon petunjuk terbaik dari Allah SWT mengenai masa depan hubungannya dengan Ammar. Apakah ia harus benar-benar menutup lembaran kisah cinta itu selamanya dan melupakan pria asal Indonesia tersebut, ataukah masih ada ruang maaf dan takdir yang mempertemukan mereka kembali di jalan yang diridhai-Nya?

❖ ❖ ❖

Udara dingin malam semakin menusuk tulang, namun peluh tipis justru merembes di kening Dilara setelah ia selesai memanjatkan doa-doa panjang yang sarat akan air mata. Ia duduk termenung di atas sajadahnya, menatap kosong ke arah dinding kamar sambil merenungkan setiap ayat suci Al-Qur'an yang baru saja ia baca seusai salat.

Ponsel pintar miliknya tergeletak diam di atas meja nakas samping tempat tidur, dalam keadaan mati sejak ia mendarat kembali di bandara Istanbul beberapa hari lalu. Ia sengaja memutuskan segala kontak dengan dunia luar, menutup diri dari pesan-pesan penyesalan dan panggilan telepon yang mungkin dikirimkan oleh Ammar dari Jakarta. Ia ingin membersihkan pikirannya dari segala kebisingan duniawi agar petunjuk yang ia terima melalui istikharah benar-benar murni datang dari ketukan nuraninya yang paling dalam.

"Ya Allah, tunjukkanlah jalan-Mu," bisik Dilara lirih, suaranya parau karena terlalu lama menangis. “Kalbimdeki bu ağır yükü hafiflet, Allah’ım. Bana doğru olanı göster.”

(Ringankanlah beban berat di hatiku ini, ya Allah. Tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar)

Ingatannya melayang kembali ke percakapannya dengan Tariq—sahabat karib Ammar—di malam perpisahan mereka di Jakarta. Kata-kata bijak pemuda itu terngiang kembali di telinganya: “İnsanlar hata yapar, Dilara. Ama pişmanlık ve sevgi gerçektir.” Manusia memang membuat kesalahan, tetapi penyesalan dan rasa cinta yang tulus adalah hal yang nyata.

Dilara menarik lututnya mendekati dada, memeluk kedua kakinya di balik balutan mukena putih. Di satu sisi, harga dirinya sebagai seorang peneliti wanita yang mandiri merasa diinjak-injak oleh kebohongan identitas. Menikahi seorang pewaris konglomerat besar dengan segala intrik keluarga dan kekayaannya bukanlah impian hidup yang pernah ia bayangkan. Ia selalu mendambakan kesederhanaan, kejujuran, dan ketenangan hidup yang dibangun dari nol—persis seperti persona palsu yang dulunya ditampilkan oleh Ammar di Istanbul.

Namun, di sisi lain, nuraninya berbisik bahwa Ammar menyembunyikan identitasnya bukan karena ingin mempermainkannya, melainkan karena kelelahan hidup di bawah bayang-bayang ekspektasi keluarga konglomerat yang menuntut segalanya diukur dengan uang. Apakah kesalahan sebesar itu tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua? Apakah amarah sesaat harus menghancurkan ikatan batin yang telah mereka rajut dengan susah payah di kota dua benua ini?

❖ ❖ ❖

Gerimis di luar jendela perlahan mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh secara teratur dari genting bangunan tua di kawasan Fatih. Dilara meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, melipat sajadah dan mukenanya dengan rapi, lalu meletakkannya kembali ke dalam lemari kayu kamarnya.

Ia berjalan pelan menuju jendela kaca, membukanya sedikit untuk membiarkan udara malam yang segar masuk ke dalam kamar. Aroma khas tanah basah dan kesejukan angin malam Istanbul langsung menyapa wajahnya, sedikit mendinginkan kepalanya yang sejak tadi terasa panas karena terlalu banyak berpikir.

Lihat selengkapnya