Pernyataan Cinta yang Halal---
Matahari sore di Istanbul memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat, memantul megah di atas permukaan air Selat Bosphorus yang membentang luas. Di sebuah taman terbuka privat yang terletak di kawasan perbukitan Çamlıca—tempat di mana panorama kota dua benua itu dapat terlihat secara utuh dari ketinggian—angin sepoi-sepoi berembus lembut membawa kesejukan akhir musim gugur. Di tempat eksklusif yang dikelilingi rimbunnya pohon pinus dan deretan bunga tulip merah itu, sebuah meja kecil berbalut taplak putih bersih disiapkan khusus untuk pertemuan yang sangat sakral.
Hari ini bukanlah sekadar pertemuan biasa antara dua orang muda yang merajut kasih di tanah rantau. Setelah badai keraguan, ujian penyamaran identitas, dan ketegangan panjang dengan sang kepala keluarga Al-Banna, Ammar melangkah mantap menuju babak paling menentukan dalam lembaran hidupnya. Mengenakan setelan jas formal berwarna navy berdasi sutra perak, pemuda asal Indonesia itu berdiri di samping pagar pembatas taman, merapikan letak dokumen lamaran resmi yang tersimpan rapi di dalam map kulit cokelat di tangannya.
Tidak lama kemudian, suara deru mesin mobil sedan mewah berhenti di pelataran parkir khusus taman tersebut. Seorang pengawal membukakan pintu mobil, dan keluarlah Tuan Tariq Al-Banna bersama Dilara. Sang kepala keluarga mengenakan setelan jas kelabu gelap berwibawa, sementara Dilara tampil anggun dalam balutan gaun panjang berwarna mint lembut dengan selendang sutra putih menutupi kepalanya dengan sangat anggun.
Dilara melangkah mendekati Ammar, melempar senyuman manis yang memancarkan kelegaan luar biasa di matanya. Namun, ada debar ketegangan yang tertahan di balik keindahan senyuman itu. Mereka tahu bahwa apa yang akan diucapkan hari ini bukan lagi sekadar janji-janji manis masa muda, melainkan sebuah komitmen moral dan spiritual yang diikat di hadapan wali sah.
"Kau tampak sangat gugup, Ammar," bisik Dilara pelan dalam bahasa Turki ketika ia berdiri di samping pemuda itu, sementara sang ayah berjalan perlahan mendekati meja taman.
Ammar menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum menatap mata Dilara dengan ketenangan yang terpancar dari lubuk hatinya. "Aku tidak gugup karena takut, Dilara, melainkan karena aku menyadari betapa sakralnya amanah yang akan aku jemput hari ini, " balas Ammar lembut.
Tariq Al-Banna menarik sebuah kursi kayu berlapis bantalan beludru di seberang meja, lalu duduk dengan postur tegap khas seorang patriark berpengaruh. Ia menatap kedua anak muda di hadapannya secara bergantian dengan sorot mata tajam namun menyiratkan keteduhan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Duduklah, Ammar, Dilara, " titah Tuan Tariq dengan suara baritonnya yang tenang dan berwibawa. "Kita tidak sedang berada di ruang rapat dewan direksi perusahaan. Tempat ini dipilih agar kita bisa berbicara dari hati ke hati mengenai masa depan kalian."
Ammar dan Dilara langsung duduk berdampingan di sisi meja yang berhadapan langsung dengan sang kepala keluarga. Suasana taman mendadak terasa begitu hening, diiringi desau angin pinus yang bergesekan pelan di atas kepala mereka.
"Tuan Tariq, " buka Ammar dengan nada suara yang sangat terukur dan penuh rasa hormat. Ia meletakkan map kulit cokelat di atas meja marmer putih. "Sebelum saya memulai maksud kedatangan saya hari ini, izinkan saya sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kesempatan dan kepercayaan yang Anda berikan kepada saya setelah sekian banyak ujian yang harus kami lalui."
Tariq mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan agar Ammar langsung pada inti tujuan tanpa perlu basa-basi formal yang berlebihan. "Aku sudah melihat ketahanan mentalmu, integritasmu, dan kejujuranmu di bawah tekanan, Ammar, " potong Tariq datar namun tegas. "Sekarang, katakan apa niat sesungguhnya yang membawamu duduk di hadapanku sore ini di tempat sepi ini."
❖ ❖ ❖
Ammar mengangguk perlahan. Ia merapatkan kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam manik mata Tuan Tariq Al-Banna dengan sorot ketulusan yang tak terbantahkan.
"Kedatangan saya sore ini adalah untuk melangkah ke jalur yang diridhai, Tuan Tariq," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang jelas dan berwibawa. "Ben burada, Allah'ın emri ve Peygamber'in kavliyle kızınız Dilara'ya talip olmaya geldim. (Saya berada di sini, atas perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, berniat meminang putri Anda, Dilara.")
Pernyataan lugas dan sakral itu terucap begitu tegas di tengah keheningan taman Çamlıca. Dilara menundukkan kepalanya, meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan gaunnya, sementara rona merah muda merekah malu-malu di kedua pipinya. Kalimat tersebut bukanlah ungkapan cinta biasa yang sering diobral para remaja di kampus, melainkan sebuah ikrar keseriusan seorang pria dewasa yang siap memikul tanggung jawab penuh di hadapan wali dan Sang Pencipta.
Tariq Al-Banna terdiam sejenak. Ia tidak langsung merespons dengan senyuman ataupun penolakan. Sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi satu-satunya putrinya, ia membiarkan keheningan itu menggantung beberapa detik untuk menguji seberapa besar keteguhan di balik kalimat pemuda Indonesia tersebut.
"Meminang seorang Dilara Al-Banna bukanlah perkara mudah, anak muda, " ucap Tariq akhirnya dengan suara rendah yang sarat akan pengalaman hidup. "Dilara adalah permata di dalam keluarga besar kami. Dia dibesarkan dengan standar kehormatan, pendidikan, dan fasilitas terbaik di kota ini. Apakah kau yakin mampu membimbingnya, melindunginya, dan memikul seluruh tanggung jawab rumah tangga di atas pundakmu sendiri tanpa bergantung pada bayang-bayang kekayaan keluargamu di Indonesia?"
Pertanyaan tajam itu dilontarkan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai ujian terakhir seorang ayah sebelum menyerahkan masa depan putrinya kepada pria lain.
Ammar tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus tanpa berkedip.
"Saya sangat menyadari hal itu, Tuan Tariq," jawab Ammar dengan penuh keyakinan. "Seperti prinsip hidup yang saya pegang selama di tanah rantau, saya tidak akan pernah menyandarkan masa depan rumah tangga saya pada fasilitas orang tua saya di Sumatera. Saya telah merintis kemandirian akademik dan profesional saya di Istanbul dengan keringat saya sendiri. Dan insya Allah, dengan izin Allah serta restu dari Anda, saya siap menjadi pelindung, suami, dan imam yang bertanggung jawab penuh atas Dilara dengan hasil kerja halal saya."
Mendengar jawaban yang begitu matang, tegas, dan penuh rasa tanggung jawab itu, ekspresi wajah Tuan Tariq Al-Banna melunak sepenuhnya. Garis-garis ketegasan di wajah sang taipan hotel berangsur hilang, digantikan oleh senyuman tipis penuh kebanggaan seorang ayah.
"Cevabın tam olarak duymak istediğim cevaptı, Ammar, " ucap Tariq dalam bahasa Turki dengan nada yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. (Jawabanmu adalah jawaban yang sangat ingin kudengar, Ammar.)