Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Persiapan Pernikahan

Persiapan Pernikahan Impian---

Udara pagi di kota Bandung terasa begitu sejuk, membawa aroma basah khas sisa embun yang menempel di pucuk-pucuk daun hijau di halaman sebuah galeri pernikahan tradisional bernuansa modern. Di dalam ruangan yang luas berhias dekorasi kain kain berwarna putih gading dan pastel, suasana tampak begitu sibuk namun tertib. Aroma wangi dupa gaharu berpadu dengan harumnya bunga-bunga segar seperti melati, mawar putih, dan hydrangea yang tersusun rapi di sudut ruangan. Di hadapan sebuah meja peraga besar, Dilara berdiri bersama ibunya, sibuk membolak-balik katalog rancangan busana pengantin muslimah yang memadukan sentuhan budaya Nusantara dengan keanggunan gaya klasik Utsmaniyah.

Pernikahan impian yang selama ini hanya menjadi perbincangan dalam angan-angan di bawah langit Istanbul kini selangkah lagi menjadi kenyataan nyata. Setelah restu mutlak dikantongi dari Tuan Al-Banna, Ammar dan Dilara mendedikasikan seluruh waktu luang mereka di antara tumpukan draf tesis dan kesibukan profesional untuk merancang sebuah hari istimewa—hari di mana ikatan suci dua hati akan diresmikan di hadapan Sang Pencipta, keluarga, dan para sahabat terdekat.

"Bagaimana dengan model kerah renda beraksen sulaman benang perak ini, Dilara?" tanya sang ibu sambil menunjuk salah satu sketsa gaun pengantin putih bersih yang tampak anggun dan sopan. "Kombinasi brokat tradisional dengan potongan abaya panjang ini sangat cocok dengan postur tubuhmu."

Dilara menatap sketsa tersebut dengan mata berbinar, membayangkan bagaimana busana itu akan melekat sempurna di hari bahagianya nanti. "Indah sekali, Bu. Desainnya tidak berlebihan, tetapi tetap memancarkan kesan elegan dan terhormat."

Di sisi lain ruangan, di area pojok konsultasi dekorasi, Ammar sedang berdiskusi serius dengan perencana pernikahan mengenai tata letak kursi tamu dan konsep pencahayaan aula resepsi yang mengusung tema garden party Islami. Mengenakan kemeja katun abu-abu muda dengan lengan digulung rapi hingga siku, pemuda itu mendengarkan setiap detail penjelasan vendor dengan tingkat ketelitian yang luar biasa, persis seperti cara ia menganalisis naskah-naskah kuno di perpustakaan.

"Pastikan tidak ada musik yang melanggar batasan syariat, dan susunan acara harus memberi ruang yang cukup untuk waktu salat berjemaah bagi para tamu," pesan Ammar dengan suara baritonnya yang tegas namun santun.

"Tenang saja, Tuan Ammar. Semua daftar permintaan khusus Anda mengenai konsep halal wedding sudah kami masukkan ke dalam protokol utama acara," jawab sang perencana pernikahan sambil mengangguk penuh hormat.

Dilara melangkah mendekati Ammar, membawa serta secangkir teh hangat untuk calon suaminya. Ia tersenyum geli melihat betapa seriusnya Ammar menangani urusan dekorasi bunga dan tata suara, seolah acara pernikahan ini adalah sidang tesis tingkat internasional yang paling krusial dalam hidupnya.

"Kau terlihat sangat tegang, Tuan Sejarahwan," goda Dilara pelan sambil menyodorkan cangkir teh hangat ke tangan Ammar. "Ini baru tahap pemilihan konsep dekorasi, bukan sidang pengujian disertasi di depan Profesor Orhan."

Ammar menerima cangkir teh tersebut, lalu menoleh menatap Dilara dengan senyuman tipis yang langsung melunakkan garis wajahnya yang kaku. "Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sempurna, Dilara. Hari itu adalah momen sakral di mana kita memulai babak baru hidup kita bersama, aku tidak ingin ada satu detail pun yang terlewat."

"Her şeyin kusursuz olmasını istiyorum, çünkü bu bizim hikayemizin en güzel başlangıcı olacak," ucap Ammar dengan fasih menggunakan bahasa Turki, menegaskan ketulusan di balik sikap perfeksionisnya. (Aku ingin segalanya berjalan sempurna, karena ini akan menjadi awal terindah dari kisah kita.)

Dilara merasakan pipinya merona hangat mendengar kalimat manis yang diucapkan dalam bahasa Turki itu. "Kau selalu tahu cara membuat hatiku luluh, Ammar," balasnya lembut dengan binar kebahagiaan terpancar nyata di matanya.

❖ ❖ ❖

Diskusi berlanjut ke bagian pemilihan undangan dan suvenir pernikahan yang ramah lingkungan serta bernilai guna tinggi. Dilara ingin suvenir pernikahan mereka bukan sekadar barang pajangan yang berakhir di tempat sampah, melainkan cinderamata bermakna yang bisa memberikan manfaat bagi para tamu undangan, seperti buku saku doa harian atau bibit tanaman kecil dalam pot tanah liat.

"Ide suvenir bibit tanaman ini sangat brilian, Dilara," puji Ammar sambil memeriksa contoh pot kecil berisi bibit pohon zaitun mini yang dipajang di atas meja sampel. "Tanaman zaitun melambangkan kedamaian, keberkahan, dan umur panjang yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan yang ingin kita bangun."

Lihat selengkapnya