Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Detik-Detik Menuju Akad

Detik-Detik Menuju Akad – Refleksi Ammar menatap masa lalunya yang penuh liku hingga tiba di gerbang pernikahan---

Suasana pagi di kawasan pesisir Bosporus, Istanbul, terasa begitu khidmat dan menyelimuti hati dengan kehangatan yang belum pernah dirasakan Ammar seumur hidupnya. Dari balik jendela kaca kamar penginapan tradisional berbingkai kayu jati tua, sinar matahari keemasan perlahan-lahan membelah kabut tipis di atas permukaan selat, memantulkan kilau terang pada kubah-kubah masjid tua yang berdiri megah di kejauhan. Di dalam kamar yang beraroma kayu manis dan wewangian khas timur tengah itu, Ammar duduk seorang diri di atas kursi rotan tua, mengenakan setelan jas tradisional berwarna putih gading yang disulam rapi dengan benang perak halus di bagian kerahnya.

Hari ini adalah hari yang paling menentukan dalam lembaran hidupnya. Setelah badai keraguan, air mata kekecewaan, benturan ego keluarga di Jakarta, hingga malam-malam panjang penuh doa istikharah di tanah rantau, takdir akhirnya mempertemukan kembali hatinya dengan Dilara dalam ikatan suci yang diridhai-Nya. Namun, sebelum langkah kakinya menapaki pintu utama tempat akad nikah dilangsungkan, pikiran Ammar justru terlempar jauh ke belakang, menyusuri lorong-lorong waktu masa lalunya yang penuh liku, luka, dan penyamaran.

Ia memandang pantulan wajahnya sendiri pada cermin antik berbingkai tembaga di sudut kamar. Di balik bayangan cermin itu, ia melihat kembali sosok pemuda egois beberapa tahun lalu—seorang pewaris tunggal tahta kekaisaran bisnis logistik Hartono Group yang sengaja melarikan diri dari kenyamanan fasilitas mewah demi mencari pengakuan semu. Ammar mengingat bagaimana ia dengan sengaja menanggalkan seluruh atribut kekayaan keluarganya, mengenakan kemeja katun polos yang murah, memakai kacamata berbingkai usang, dan menyamar sebagai mahasiswa perantauan biasa di universitas tua kawasan Fatih hanya demi membuktikan bahwa dirinya bisa dicintai tanpa embel-embel harta.

“Ne kadar saklarsan sakla, geçmişin gölgesi seni takip eder, Ammar,” suara bisikan batin dalam bahasa Turki itu seolah bergema di kepalanya, mengingatkannya pada peringatan-peringatan masa lalu yang pernah iaabaikan.

(Seberapa pintar pun kamu menyembunyikannya, bayangan masa lalu akan selalu mengikutimu, Ammar)

Kebohongan penyamaran itu memang sempat menjadi jurang paling dalam yang hampir merenggut wanita paling berharga dalam hidupnya. Luka kekecewaan yang terpancar di mata Dilara saat dokumen perusahaan terbongkar di ruang perpustakaan Menteng masih menyisakan rasa bersalah yang menusuk di relung hatinya. Jika saja saat itu ia terlambat menyusul, jika saja doa-doa malam dan ketulusan niat tidak menyelamatkan hubungan mereka, mungkin hari ini ia tidak akan pernah berdiri di ambang pintu gerbang pernikahan yang suci ini.

Pintu kamar berderit perlahan, membuyarkan lamunan panjang Ammar. Sosok Tariq—sahabat setianya yang setia mendampingi dari hari-hari tergelap di Jakarta hingga detik-detik sakral di Istanbul—muncul di ambang pintu dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Tariq mengenakan setelan jas senada, membawa sebuah kotak beludru kecil berisi cincin pernikahan di tangan kanannya.

"Masih melamangkan masa lalu, pengantin pria?" tegur Tariq ramah dalam bahasa Indonesia, melangkah masuk mendekati Ammar dengan langkah tegap penuh wibawa.

Ammar menarik napas panjang, tersenyum tipis sembari merapikan kerah jasnya. "Aku hanya sedang merenungkan betapa panjang dan berliku jalan yang harus kutempuh untuk sampai di titik ini, Tariq. Kalau bukan karena kesabaranmu dan petunjuk Allah, aku mungkin sudah kehilangan segalanya."

“Geçmiş sadece bir derstir, Ammar; önemli olan bugünü nasıl yazdığındır,” jawab Tariq bijak menggunakan bahasa Turki, menepuk pelan bahu sahabatnya itu untuk memberikan ketenangan.

(Masa lalu hanyalah sebuah pelajaran, Ammar; yang terpenting adalah bagaimana kamu menulis hari ini)

❖ ❖ ❖

Tariq meletakkan kotak cincin beludru itu di atas meja kayu di dekat jendela, lalu menarik kursi kecil untuk duduk berhadapan langsung dengan Ammar. Sorot mata Tariq memancarkan kebanggaan yang tulus melihat transformasi besar pada diri sahabat karibnya itu. Perjalanan hidup Ammar dari seorang pemuda yang penuh pemberontakan dan kebohongan identitas menjadi seorang pria dewasa yang siap mengemban amanah rumah tangga adalah sebuah mukjizat tersendiri.

"Ayahmu tidak hadir secara fisik di Istanbul hari ini, tapi aku tahu pesannya tadi malam adalah awal dari perdamaian batin kalian," ucap Tariq membuka topik yang lebih mendalam.

Ammar mengangguk pelan. Kenangan tentang panggilan telepon panjang dengan ayahnya, Pak Hartono, semalam sebelum hari pernikahan berputar kembali di kepalanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun penuh ketegangan, sang ayah berbicara dengan nada suara yang tenang, melepaskan segala tuntutan korporasi, dan memberikan restu tulus agar putranya membangun keluarga dengan cara yang benar dan penuh kejujuran. Pak Hartono menyadari bahwa kekayaan sebesar apa pun tidak akan pernah bisa membeli ketenangan jiwa yang kini ditemukan Ammar di sisi Dilara.

"Ayah sudah melepaskan topeng bisnis itu, Tariq," kata Ammar pelan. "Beliau berpesan agar aku menjaga Dilara dengan segenap jiwa ragaku, menebus setiap kesalahan masa lalu dengan tanggung jawab yang nyata sebagai seorang suami."

“Babalar bazen geç anlar, ama sevgi her zaman yolunu bulur,” timpal Tariq lembut dalam bahasa Turki, mengamini perubahan besar dalam silsilah keluarga Hartono tersebut.

(Ayah kadang-kadang terlambat memahami, tapi cinta selalu menemukan jalannya)

"Aku tahu," ujar Ammar menatap cincin perak sederhana di dalam kotak beludru. Cincin itu sangat kontras dengan standar kemewahan keluarga konglomerat, namun cincin itulah simbol kejujuran sejati yang ia pilih bersama Dilara di bawah langit Eminönü. "Dulu aku mengira bahwa untuk dihormati orang lain, aku harus menyembunyikan siapa diriku di balik topeng kemelaratan palsu. Sekarang aku sadar, kehormatan sejati tidak datang dari status sosial atau harta, melainkan dari keberanian untuk berdiri di atas kebenaran."

Tariq berdiri dari duduknya, merapikan lipatan jas Ammar dengan gerakan cekatan. "Waktu akad sudah semakin dekat. Para tamu undangan dari kalangan akademisi Fatih dan kerabat dekat Dilara sudah mulai mengisi kursi di taman halaman belakang gedung resepsi tepi selat. Kamu siap menghadapi babak baru hidupmu?"

Ammar berdiri tegak, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan keyakinan penuh. Bayangan wajah Dilara yang tersenyum manis di balik balutan kerudung pengantin putih terbayang jelas di benaknya, menghapus segala keraguan yang tersisa. "Aku siap, Tariq. Aku siap menempuh sisa hidupku dengan kejujuran."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya