Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

Ijab Kabul

Ijab Kabul di Tepi Selat---

Matahari sore di atas Selat Bosphorus memancarkan bias keemasan yang megah, memantulkan kilau kemilau cahaya mentari pada permukaan air laut yang bergolak tenang diterpa angin lembut awal musim panas. Di halaman terbuka sebuah paviliun marmer putih bersejarah yang terletak persis di tepi selat kawasan Bebek, dekorasi bunga-bunga cicek putih segar—terutama mawar putih dan tulip khas Istanbul—terbentang indah menghias pilar-pilar batu kuno. Alunan lembut musik petik tradisional kanun dan nay mengalun syahdu, membelai telinga para tamu undangan terbatas yang terdiri dari keluarga besar, sahabat terdekat, serta para civitas akademika unggulan yang hadir mengenakan busana resmi terbaik mereka.

Di bawah naungan gazebo kain putih transparan yang berkibar ditiup angin laut, Ammar Fathan berdiri tegap mengenakan setelan jas pengantin klasik berwarna hitam dengan potongan elegan. Di saku jasnya terselip sehelai kain sutra halus, simbol warisan arsip keluarga yang kini telah menemukan kedamaian sejatinya. Wajah Ammar memancarkan ketenangan batin yang luar biasa; bayang-bayang masa lalu yang kelam, penyamaran panjang sebagai sang Navigator, serta ketegangan konspirasi sindikat Victor Rogov kini telah sepenuhnya lebur, menyisakan keikhlasan dan rasa syukur yang mendalam di lubuk hatinya.

Beberapa langkah dari tempat Ammar berdiri, pintu kayu ukir besar paviliun perlahan terbuka. Langkah kaki lembut berpadu dengan gemerisik kain gaun sutra pengantin yang elegan menarik perhatian seluruh pasang mata yang hadir di tempat itu. Dilara Al-Banna—kini dengan nama lengkap yang disematkan penuh kehormatan—melangkah anggun didampingi oleh ayahnya, Tuan Cihangir Aksu. Mengenakan gaun pengantin panjang berwarna putih gading berpayet mutiara dengan tudung tipis transparan menutupi sebagian wajahnya, Dilara memancarkan pesona kecantikan seorang putri bangsawan modern Istanbul yang keanggunannya sanggup memukau siapa saja yang memandang.

"Çok güzel görünüyorsun, Dilara," (Kamu terlihat sangat cantik, Dilara,) bisik Tuan Cihangir lembut dalam bahasa Turki kepada putrinya, mengecup kening Dilara penuh kasih sayang sebelum menyerahkan tangan gadis itu langsung ke dalam genggaman Ammar yang menyambutnya di depan meja akad nikah berhias ukiran kayu mahoni.

Dilara menatap Ammar melalui balik tudung tipisnya. Binar kebahagiaan terpancar jelas di mata indahnya. "Beklediğimiz güne değdi, değil mi Fathan?" (Hari yang kita tunggu ini sangat sepadan, bukan Fathan?) bisik Dilara pelan, suaranya bergetar lembut menahan haru.

Ammar membalas tatapan itu dengan senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. "Her saniyesi, her zorluğu ve her gözyaşı buna değdi, Dilara," (Setiap detiknya, setiap kesulitannya, dan setiap air matanya sangat sepadan, Dilara,) jawab Ammar hangat. "Çünkü sonunda yolumuz doğru limana çıktı." (Karena pada akhirnya jalan kita berlabuh di pelabuhan yang benar.)

❖ ❖ ❖

Suasana di sekitar gazebo mendadak hening ketika penghulu resmi pernikahan—seorang pejabat Kantor Urusan Agama distrik Beşiktaş yang mengenakan jubah kebesaran hitam—duduk di kursi tengah di hadapan meja akad, didampingi oleh dua orang saksi terhormat, yaitu Karima Hanım dan Tariq Al-Ghazali.

"Saygıdeğer misafirler, mukaddes bir akit için burada toplanmış bulunuyoruz," (Para tamu yang terhormat, kita berkumpul di sini untuk sebuah ikatan yang suci,) ucap sang penghulu dengan suara berat yang berwibawa, membuka prosesi akad nikah dengan khidmat.

Ammar menarik napas dalam-dalam, merasakan debar jantungnya berdetak kencang namun teratur. Titik Jepit 1 mencengkeram ruang emosionalnya bukan lagi karena rasa takut akan ancaman bahaya fisik, melainkan karena kesadaran spiritual yang amat agung—bahwa sebentar lagi, ia akan memikul tanggung jawab suci sebagai suami dari wanita luar biasa yang telah mendampinginya melewati badai kehidupan paling mematikan di kota ini.

"Ammar Fathan bin Kemal Fathan," ucap sang penghulu menatap tajam kepada Ammar, menyebut nama lengkap mendiang ayahnya sebagai bentuk penghormatan silsilah keluarga. "Dilara Al-Banna'yı, kanunların ve mukaddes akdin hükümlerine göre eş olarak kabul ediyor musun?" (Ammar Fathan bin Kemal Fathan, apakah kamu menerima Dilara Al-Banna sebagai istrimu menurut ketentuan hukum dan ikatan suci?)

Seluruh pasang mata tamu undangan tertuju lurus kepada Ammar. Naya Candan, yang duduk di barisan depan bersama para akademisi universitas, tampak meremas tangan Tariq karena ikut merasa tegang.

Ammar menatap lurus ke dalam mata Dilara sesaat, lalu mengalihkan pandangannya kepada sang penghulu dengan suara yang lantang, jernih, dan memenuhi seluruh sudut paviliun terbuka tersebut:

"Kabul ediyorum," (Saya terima nikahnya,) ucap Ammar tegas tanpa keraguan sedikit pun, memancarkan ketulusan jiwa yang menggetarkan siapa saja yang mendengarkan. "Allah'ın emri, Peygamber'in kavli ve şahitlerin huzurunda onu eş olarak kabul ettim." (Atas perintah Allah, sunnah Rasul, dan di hadapan para saksi, aku menerimanya sebagai istri.)

Lihat selengkapnya