Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #64

Wisata Alam

Wisata Alam: Princes' Islands---

Udara pagi di pesisir Laut Marmara terasa begitu segar, membawa aroma air asin yang berpadu dengan angin sepoi-sepoi khas musim semi di Istanbul. Di pelabuhan feri Kabataş yang sibuk, Ammar dan Dilara berdiri berdampingan mengenakan pakaian santai namun tetap elegan; Ammar berbalut jaket windbreaker abu-abu tua sementara Dilara mengenakan mantel rajut krem dengan syal biru muda yang melingkar di lehernya. Hari itu, di tengah jadwal bulan madu kultural mereka yang padat di Turki, keduanya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak demi menikmati ketenangan alam di Kepulauan Pangeran atau yang lebih dikenal sebagai Kızıl Adalar—khususnya Büyükada, pulau terbesar yang bebas dari kendaraan bermotor.

"Feri kita akan segera berangkat ke Büyükada, Dilara," kata Ammar sambil melirik tiket kertas di tangannya, lalu menoleh ke arah istrinya dengan senyuman hangat yang selalu berhasil menenangkan hati.

Dilara mengangguk antusias, matanya berbinar menatap hamparan laut biru di hadapan mereka di mana kapal feri besar perlahan merapat ke dermaga. "Aku sudah tidak sabar ingin merasakan suasana pulau yang tenang tanpa bisingnya klakson mobil dan deru mesin kendaraan kota besar, Ammar. Rasanya ini pelarian terbaik setelah berbulan-bulan kita disibukkan oleh urusan akademik dan resepsi pernikahan."

"Pulau-pulau itu menyimpan sejarah panjang sebagai tempat pengasingan para pangeran Bizantium di masa lalu," jelas Ammar dengan nada khas seorang sejarawan yang antusias ketika membahas masa lalu. "Namun hari ini, tempat itu menjadi surga kedamaian bagi para pejalan kaki dan pencinta alam."

"Haydi o zaman, vapura binme vaktidir," ajak Ammar menggunakan bahasa Turki yang fasih, membimbing Dilara melangkah menaiki titian jembatan feri. (Kalau begitu ayo, saatnya naik ke atas kapal feri.)

Dilara tertawa kecil mengikuti langkah suaminya. "Kau semakin mahir berbahasa Turki saja, Tuan Sejarahwan. Sepertinya kau sudah siap jika suatu saat kita harus pindah menetap di Istanbul."

"Jika kotanya bersama denganmu, aku siap menetap di belahan bumi mana pun," balas Ammar lembut, membuat pipi Dilara merona merah seketika di balik syal hangatnya.

Kapal feri berukuran besar itu perlahan meninggalkan pelabuhan Kabataş, membelah ombak Selat Bosphorus dan melaju menuju gugusan kepulauan di Laut Marmara. Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam tersebut, mereka berdiri di anjungan luar kapal, menikmati angin laut yang berhembus kencang menerbangkan helai rambut Dilara, sementara burung-burung cemar (seagulls) beterbangan rendah mengikuti laju kapal demi remah-remah roti yang dilempar oleh para penumpang.

❖ ❖ ❖

Setibanya di Dermaga Büyükada, suasana langsung berubah drastis dari hiruk-pikuk metropolis Istanbul. Tidak ada suara kendaraan bermotor roda empat atau deru motor yang memekakkan telinga; yang terdengar hanyalah derap langkah kaki para pejalan kaki, derit roda sepeda, dan suara dentang lonceng kereta kuda (phaeton) yang kini mulai dibatasi demi kesejahteraan hewan. Jalanan di sekitar pelabuhan dipenuhi oleh bangunan-bangunan rumah kayu bergaya era Victoria abad kesembilan bilen yang dicat warna-warni cerah, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi menyejukkan udara.

Ammar dan Dilara memutuskan untuk menyewa dua buah sepeda sewaan di dekat pelabuhan agar bisa menjelajahi jalur lingkar pulau dengan leluasa. Meskipun awalnya Dilara sempat ragu dengan keseimbangannya mengenakan rok panjang, Ammar dengan sigap membantu memegangi sadel sepeda hingga istrinya berhasil menguasai kayuhan pertama.

"Kau siap membonceng di jalur menanjak bukit pulau ini, Dilara?" tanya Ammar sambil tersenyum menyemangati dari atas sepedanya.

"Tentu saja! Jangan remehkan kekuatan seorang arkeolog lapangan yang biasa mendaki situs ekskavasi terjal," jawab Dilara penuh percaya diri, mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalan setapak di bawah naungan pohon pinus yang rindang.

Mereka mengayuh sepeda berdampingan menyusuri jalanan berbatu yang meliuk-liuk menanjak naik ke arah bukit tertinggi di pulau tersebut. Di sepanjang perjalanan, pemandangan laut biru Laut Marmara tampak terbentang luas di balik barisan pohon pinus, menciptakan lanskap visual yang begitu menenangkan jiwa. Udara di pulau itu terasa begitu bersih, bebas dari polusi kota besar, dipenuhi oleh aroma resin pinus yang khas.

Lihat selengkapnya