Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #67

Karier dan Pengabdian

Karier dan Pengabdian---

Udara segar awal musim panas menyelimuti kawasan kampus bersejarah Universitas Marmara di Istanbul. Daun-daun hijau pohon ek bergoyang pelan diterpa angin Selat Bosphorus, memantulkan cahaya matahari pagi yang cerah ke dinding-dinding batu bata merah gedung fakultas ekonomi. Di dalam sebuah ruang baca pascasarjana yang tenang dan dipenuhi rak-rak buku tua setinggi langit-langit, suasana tampak begitu hening. Hanya terdengar suara ketukan tuts laptop yang konstan dan gemerisik kertas lembaran draf penelitian.

Di meja sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah taman kampus, Ammar duduk tegap mengenakan kemeja katun putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Di hadapannya, setumpuk kertas tebal berisi naskah tesis magister setebal ratusan halaman terbentang rapi di samping laptop yang menyala terang. Wajah pemuda asal Indonesia itu tampak serius, matanya tajam menatap layar komputer, memeriksa setiap baris kalimat analisis rantai pasok global dan efisiensi logistik kawasan Eurasia yang menjadi topik utama penelitian akhirnya.

Beberapa bulan telah berlalu sejak pernikahan megahnya dengan Dilara di tepi dermaga Besiktas. Kini, selain memegang tanggung jawab profesional sebagai salah satu direktur muda di divisi logistik strategis Al-Banna Group, Ammar juga berada di ambang garis akhir masa studinya sebagai mahasiswa pascasarjana tingkat akhir. Hari ini adalah hari penyerahan draf final tesis kepada pembimbing utamanya, Profesor Orhan—seorang tokoh akademisi senior ekonomi terkemuka di Turki yang terkenal sangat perfeksionis dan jarang meloloskan mahasiswa tanpa revisi berlapis.

Pintu ruang baca terbuka pelan, dan Dilara melangkah masuk membawa dua cangkir kertas berisi kopi hitam hangat serta sekotak kecil kue simit wijen khas Istanbul. Dilara mengenakan blouse rajut tipis berwarna krem lembut dipadukan dengan celana bahan senada, menampilkan pesona anggun seorang istri sekaligus akademisi muda yang setia mendampingi suaminya.

"Hâlâ uyumadın değil mi, Ammar? (Kau bahkan belum tidur semalaman, bukan, Ammar?)" bisik Dilara lembut dalam bahasa Turki sambil meletakkan cangkir kopi di samping tumpukan naskah tesis.

Ammar mendongak, lalu menyunggingkan senyuman lelah namun tulus kepada istrinya. Ia merapikan kacamatanya, menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan di bahunya. "Yarın Prof. Orhan ile son görüşmemiz var, Dilara. Hata yapma lüksüm yok. (Besok adalah pertemuan terakhir kita dengan Profesor Orhan, Dilara. Aku tidak punya toleransi untuk membuat kesalahan sekecil apa pun,)" jawab Ammar dalam bahasa Turki dengan suara baritonnya yang tenang.

Dilara menarik kursi kayu di sebelah suaminya, lalu duduk sambil membuka naskah bab terakhir tesis tersebut. Manik matanya yang jernih menyapu setiap paragraf kesimpulan yang ditulis Ammar dengan sangat teliti.

"Sen elinden gelenin en iyisini yaptın, Ammar, " ucap Dilara memberikan dukungan penuh sambil menggenggam tangan suaminya yang hangat. (Kau telah melakukan yang terbaik dari apa pun yang kau mampu, Ammar.) "Profesor Orhan pasti akan mengapresiasi dedikasi dan kedalaman risetmu ini."

Ammar meremas pelan jemari Dilara, merasakan gelombang energi positif yang mengalir dari sang istri tercinta. Dukungan tanpa henti dari Dilara selama masa-masa sibuk menyusun tesis di tengah tuntutan dunia korporat adalah kunci utama yang menjaga keseimbangan mentalnya di tanah rantau.

Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar tegas. Profesor Orhan, seorang pria paruh baya berambut perak dengan jas tweed klasik khas akademisi senior, melangkah masuk ke dalam ruang baca dengan senyuman ramah tersungging di balik kacamata berbingkai tanduknya.

"Görüyorum ki sabahın bu erken saatinde bile genç araştırmacılarımız çok çalışıyor, " sapa Profesor Orhan ramah dalam bahasa Turki. (Kulihat bahkan di pagi buta ini para peneliti muda kita sudah bekerja sangat keras.)

❖ ❖ ❖

Ammar dan Dilara langsung berdiri secara bersamaan untuk menyambut kedatangan sang profesor senior dengan sikap hormat yang tinggi.

"Selamat pagi, Profesor Orhan," sapa Ammar sopan dalam bahasa Turki, mempersilakan dosen pembimbing utamanya itu untuk duduk di kursi seberang meja.

Profesor Orhan melambaikan tangan, menolak duduk karena ia hanya ingin melihat progres terakhir dari naskah tesis yang menjadi perbincangan hangat di departemen pascasarjana. Ia menarik sebuah kursi, lalu duduk sambil merapikan map kulit hitam di tangannya.

"Ammar, aku mendengar kabar bahwa kau sudah mulai memimpin proyek logistik regional baru di perusahaan keluarga istrimu, sementara tesis magister ini hampir selesai, " ujar Profesor Orhan dengan nada menyelidik namun hangat. "Bagaimana kau bisa membagi waktu antara tekanan dunia korporat multinasional dan standar ketat riset akademis di universitas kita?"

Pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan ujian mental profesional yang sering diajukan oleh para guru besar di Universitas Marmara untuk menguji ketahanan fokus mahasiswanya.

Ammar menatap lurus mata Profesor Orhan dengan penuh keyakinan, tanpa ada secercah pun keraguan dalam suaranya.

"Disiplin waktu dan komitmen adalah kuncinya, Profesor," jawab Ammar dengan artikulasi bahasa Turki yang sangat fasih dan tertata rapi. "Dunia korporat mengajarkan saya tentang efisiensi praktis, sementara riset akademis di universitas ini memberikan landasan teori yang kokoh. Keduanya saling melengkapi, bukan saling membebani."

Profesor Orhan mengangguk-angguk perlahan, garis-garis kerut di wajah tuanya menyiratkan rasa kagum dan hormat yang mendalam kepada pemuda asal Indonesia tersebut. Selama membimbing puluhan mahasiswa internasional, jarang sekali ia mendapati sosok muda yang memiliki kapasitas intelektual dan manajemen waktu sehebat Ammar.

"Bunu duyduğuma çok sevindim, Ammar. Çünkü teoriyi pratikle bu kadar harmanlayabilen çok az öğrenci gördüm, " puji Profesor Orhan sambil tersenyum lebar. (Aku sangat senang mendengarnya, Ammar. Karena aku sangat jarang melihat mahasiswa yang mampu memadukan teori dengan praktik sebaik ini.)

Dilara yang berdiri di samping meja merespons pujian tersebut dengan senyuman bangga yang tak dapat disembunyikan dari wajahnya. Ia tahu betul berapa banyak malam tanpa tidur yang dihabiskan Ammar demi merampungkan analisis data logistik pelabuhan dan naskah tesis setebal tiga ratus halaman tersebut.

Profesor Orhan kemudian merogoh map hitamnya, mengeluarkan lembaran catatan evaluasi bertinta merah, lalu meletakkannya di atas meja tepat di hadapan Ammar. Suasana ruang baca mendadak terasa sedikit menegang ketika sang profesor membuka halaman demi halaman catatan tersebut.

Lihat selengkapnya