Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Kelulusan Bersama

Kelulusan Bersama – Mahkota Kehormatan di Universitas Marmara---

Pagi hari di kota Istanbul memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, menghapus sisa-sisa embun pagi di atas halaman luas kampus Universitas Marmara. Langit musim semi tampak begitu cerah tanpa sebutir awan pun, seolah turut merayakan hari paling bersejarah bagi ribuan mahasiswa yang bersiap merayakan kelulusan mereka. Di dalam aula utama universitas yang megah, arsitektur klasik berpadu indah dengan dekorasi bendera merah putih kebesaran Turki serta panji-panji kebesaran akademik. Ribuan kursi tertata rapi memenuhi ruangan, dipadati oleh para guru besar berbusana toga resmi, para orang tua yang datang dari berbagai penjuru dunia, serta para wisudawan yang mengenakan jubah hitam dengan selempang kehormatan emas.

Di barisan kursi khusus pascasarjana fakultas ekonomi dan studi maritim internasional, Ammar dan Dilara duduk berdampingan. Keduanya mengenakan jubah toga hitam kelam dengan topi kelulusan persegi yang bertuliskan tahun kelulusan emas, namun yang paling mencolok perhatian adalah selempang kehormatan berwarna merah tebal dengan bordiran benang emas yang melingkar di pundak mereka masing-masing—lambang predikat tertinggi Summa Cum Laude yang berhasil diraih berkat dedikasi riset luar biasa selama di Turki.

"Rasanya baru kemarin kita bergulat dengan tumpukan arsip berdebu di perpustakaan tua Sultanahmet, Han," bisik Dilara pelan sambil merapikan lipatan kerah toga hitamnya dengan tangan yang sedikit bergetar karena rasa haru. "İnanabiliyor musun, sonunda başardık!"

("Bisakah kau percaya, akhirnya kita berhasil!")

Ammar menoleh, menatap wajah istrinya yang berseri-seri di balik keanggunan busana wisuda tersebut. Senyuman hangat terkembang di bibirnya. "Evet, sevgilim," balas Ammar lembut dalam bahasa Turki. "Tüm o zorluklar, gece yarısına kadar süren çalışmalar... hepsi bu an için değerdi."

("Ya, sayangku. Semua kesulitan itu, kerja keras hingga tengah malam... semuanya sangat sepadan untuk momen ini.")

Perjalanan akademik yang mereka tempuh bukan sekadar kisah tentang lembaran tesis atau nilai ujian semata. Di balik predikat Summa Cum Laude yang mereka raih bersama, terdapat air mata perjuangan, intrik kampus di Surabaya, penyamaran identitas Ammar sebagai pewaris bisnis yang ingin hidup mandiri, ketegangan lapangan di pelabuhan Istanbul, hingga restu keluarga besar yang menyatukan dua peradaban. Hari ini, di aula Universitas Marmara yang disaksikan oleh para guru besar internasional, seluruh pengorbanan itu terbayar lunas dengan mahkota kehormatan tertinggi.

Di bangku penonton undangan kehormatan barisan depan, Haji Ibrahim bersama Hajjah Fatimah dari Solo duduk berdampingan dengan Tuan Al-Banna dan Nyonya Amina. Wajah kedua pasang orang tua itu memancarkan rasa bangga yang luar biasa tak terhingga. Hajjah Fatimah bahkan tampak menyeka sudut matanya dengan sehelai tisu putih, terharu melihat putra tercinta dan menantunya berdiri di puncak prestasi akademik internasional.

❖ ❖ ❖

Suara derap langkah kaki para dewan profesor universitas yang memasuki aula utama menghentikan obrolan ringan di antara para wisudawan. Pimpinan sidang senat universitas membuka acara kelulusan dengan pidato pembuka yang menggema khidmat ke seluruh sudut ruangan, mengapresiasi ketekunan, integritas, dan kontribusi ilmiah para lulusan pascasarjana dari berbagai negara sahabat.

Nama demi nama wisudawan mulai dipanggil satu persatu untuk naik ke atas panggung utama guna menerima ijazah kelulusan langsung dari rektor Universitas Marmara. Jantung Ammar berdegup tenang, sementara genggaman tangan Dilara di bawah lipatan toga terasa semakin erat, menyalurkan dukungan batin yang menenangkan.

"Dilara Al-Banna... Summa Cum Laude!" panggil suara pengeras suara dengan lantang dan tegas dalam bahasa Turki.

Seketika itu juga, tepuk tangan meriah membahana ke seluruh penjuru aula. Dilara berdiri dari kursi tempat duduknya dengan langkah anggun penuh percaya diri, berjalan menyusuri karpet merah menuju panggung utama. Di barisan kursi undangan kehormatan, Tuan Al-Banna berdiri sambil bertepuk tangan bangga, sementara Nyonya Amina tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca melihat prestasi gemilang putrinya.

Sesampainya di atas panggung, Rektor Universitas Marmara menyalami Dilara dengan penuh penghormatan, menyerahkan gulungan ijazah berbalgkus kulit hitam berlogo emas serta medali kehormatan khusus Summa Cum Laude. "Tebrik ederim, Dilara. Çalışmaların fakültemiz için büyük bir gurur kaynağıdır," ucap sang rektor hangat.

("Selamat, Dilara. Penelitianmu adalah sumber kebanggaan besar bagi fakultas kita.")

"Teşekkür ederim, Sayın Rektör," jawab Dilara sopan sambil menundukkan kepala penuh takzim, menerima penghargaan tersebut dengan senyuman yang memancarkan kebahagiaan sejati.

Sesaat setelah Dilara kembali turun dari panggung dan disambut oleh tepuk tangan hangat teman-teman seangkatannya, giliran berikutnya dipanggil. Nama yang telah melewati liku-liku perjuangan paling sunyi di balik penyamaran identitas dan kerja keras tanpa kenal lelah.

"Ammar Farhan Pratama... Summa Cum Laude!"

❖ ❖ ❖

Gema suara pemandu acara menyebutkan nama lengkap Ammar membuat seluruh perhatian di dalam aula besar itu terfokus ke arah barisan wisudawan. Tepuk tangan riuh rendah langsung bergemuruh, dipimpin langsung oleh Rian—sahabat setia mereka yang duduk di barisan samping—yang bersorak gembira sambil mengangkat telepon genggamnya untuk mengabadikan momen tersebut.

Lihat selengkapnya