Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #69

Kabar Mengharukan

Kabar Mengharukan---

Pagi hari di kediaman baru Ammar dan Dilara di kawasan Bandung menghadirkan suasana yang begitu hangat, disinari oleh cahaya matahari yang menembus tirai putih kamar tidur utama. Udara pagi berhembus lembut membawa kesejukan pegunungan, sementara di lantai bawah, suara dering peralatan dapur berpadu dengan aroma harum kopi hitam yang diseduh rapi. Namun, suasana di dalam kamar utama pagi itu terasa jauh lebih istimewa daripada biasanya. Dilara duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menatap sebuah alat uji kehamilan digital kecil yang tergeletak di atas meja nakas kayu.

Dua garis merah tipis yang tertera nyata di layar kecil alat tersebut seolah mengubah detak waktu di sekelilingnya menjadi lambat. Selama beberapa pekan terakhir, tubuhnya sering kali merasa lelah, mual ringan di pagi hari, dan perubahan suasana hati yang tidak biasa. Semula ia mengira itu hanya kelelahan biasa akibat penyesuaian ritme kehidupan pascapernikahan dan penyelesaian revisi naskah riset sejarahnya. Namun, kenyataan pagi ini membawa sebuah jawaban yang jauh melampaui ekspektasi terindahnya.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan Ammar melangkah masuk mengenakan kemeja katun abu-abu muda dengan gulungan lengan hingga siku, membawa nampan berisi segelas teh hangat dan semangkuk buah segar untuk istrinya. Pemuda itu menghentikan langkahnya ketika melihat mata Dilara berkaca-kaca menatap meja nakas, sementara bibirnya bergetar menahan luapan emosi.

"Dilara, ada apa? Apakah kau merasa tidak enak badan sejak semalam?" tanya Ammar dengan nada suara yang langsung berubah cemas, meletakkan nampan di atas meja lalu berlutut pelan di hadapan istrinya.

Dilara mendongak, menatap mata suaminya di balik kacamata berbingkai tipis dengan senyuman paling haru yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Ia meraih tangan Ammar, lalu meletakkan jemari suaminya tepat di atas alat uji kehamilan yang tergeletak di samping tempat tidur.

"Ammar..." bisik Dilara dengan suara tercekat oleh air mata kebahagiaan yang mulai tumpah. "Kita... kita akan segera menjadi orang tua."

Ammar tertegun seketika. Pandangannya menunduk menatap alat uji di hadapannya, lalu beralih menatap wajah istrinya. Napas pemuda itu mendadak tercekat, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah perkenalan mereka—dari ruang perpustakaan kampus yang sempit hingga aula megah di Istanbul—seorang sejarawan yang selalu tenang, logis, dan rasional itu tampak kehilangan kata-kata.

"Allah büyüktür..." ucap Ammar lirih dengan suara bergetar hebat dalam bahasa Turki, sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh Dilara dalam deapan hangat yang penuh rasa syukur yang tak terhingga. (Allah Maha Besar...)

Dilara menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, membiarkan air mata kebahagiaannya tumpah membasahi kemeja katun Ammar. Perjalanan panjang dari selembar tesis, deburan ombak Selat Bosphorus, hingga salju dingin Cappadocia kini menemukan mahkotanya yang paling mulia—sebuah titipan amanah jiwa baru dari Sang Maha Pencipta.

❖ ❖ ❖

Kabar membahagiakan itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar di antara dua keluarga besar. Sore harinya, ruang tamu kediaman keluarga Al-Banna dipenuhi oleh kehadiran ayah Dilara serta ibu Ammar yang datang dengan tergesa-gesa namun wajah yang berseri-seri penuh sukacita. Begitu mendengar berita kehamilan putri mereka, Tuan Al-Banna langsung membatalkan seluruh jadwal rapat akademisnya demi bisa datang langsung dan memeluk putrinya tercinta.

"Alhamdulillah, ya Allah..." ucap Tuan Al-Banna dengan suara parau penuh haru, merangkul Dilara dengan penuh kelembutan kebapakan begitu ia tiba di ruang tamu. "Keluarga kita akan segera kedatangan anggota baru, keturunan yang insya Allah akan melanjutkan riset dan nilai-nilai kebaikan kita."

Ibu Ammar melangkah mendekat, memeluk erat menantunya dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita paruh baya itu mencium kening Dilara penuh kasih sayang. "Ibu sangat bahagia, Dilara. Kau telah memberikan hadiah terindah bagi keluarga kami. Jaga kesehatanmu baik-baik, jangan terlalu lelah memikirkan naskah sejarah dulu."

Ammar berdiri di samping istrinya, tersenyum hangat menyaksikan kehangatan yang terpancar dari kedua orang tua mereka. Ia merapikan bantal sofa agar Dilara bisa duduk dengan lebih nyaman di kursi panjang ruang tamu.

"Anne, her şey yolunda, Dilara çok iyi olacak," ucap Ammar menenangkan ibunya dalam bahasa Turki sambil tersenyum bangga. (Ibu, semuanya baik-baik saja, Dilara akan baik-baik saja.)

Lihat selengkapnya