Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Refleksi Waktu Kehamilan

Refleksi Waktu Kehamilan – Ammar merawat Dilara dengan penuh kasih sayang, memaknai setiap detik perubahan sang istri---

Suasana pagi di flat mungil keluarga kecil Ammar dan Dilara di kawasan distrik Fatih, Istanbul, terasa begitu hangat dan syahdu. Sinar matahari awal musim semi menembus tirai putih tipis, memancarkan bias cahaya keemasan yang menerangi sudut kamar tidur utama. Di atas ranjang berseprai katun lembut itu, Dilara berbaring dengan napas teratur, mengenakan piyama longgar berwarna hijau pastel. Kehamilannya yang kini telah memasuki bulan kelima membuat tubuhnya tampak lebih berisi, dengan perut yang mulai membuncit indah di balik balutan selimut rajut wol.

Ammar duduk bersimpuh di sisi tempat tidur, memegang mangkuk kecil berisi minyak zaitun murni hangat yang baru saja ia hangatkan di dapur. Dengan sangat teliti dan hati-hati, ia menuangkan beberapa tetes minyak zaitun ke telapak tangannya, lalu menggosokkannya perlahan sebelum mengusapkannya dengan penuh kelembutan ke permukaan kulit perut sang istri. Setiap gerakan tangan Ammar dipenuhi oleh rasa takjub yang teramat sangat—sebuah bentuk penghormatan batin yang mendalam atas mukjizat kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahim wanita tercintanya.

"Bagaimana perasaanmu pagi ini, sayang?" tanya Ammar dengan suara bariton yang lembut, menatap wajah Dilara yang tampak sedikit lelah namun memancarkan aura keteduhan seorang calon ibu.

Dilara membuka matanya perlahan, menyunggingkan senyuman manis di bibirnya. Ia merapikan beberapa helai rambut suaminya yang menutupi dahi. "Sedikit pegal di bagian pinggang, Ammar. Tapi rasa lelah itu langsung hilang setiap kali aku merasakan gerakan kecil bayi kita menendang dari dalam."

“Bebeğimiz çok hareketli, değil mi?” bisik Dilara lembut menggunakan bahasa Turki, menatap mata suaminya dengan sorot kebahagiaan yang tulus.

(Bayi kita sangat aktif, bukan?)

“Evet, tıpkı annesi gibi hayat dolu ve enerjik,” balas Ammar tersenyum hangat, mencium pelan punggung tangan istrinya.

(Ya, penuh semangat dan energi, persis seperti ibunya)

Kenangan tentang perjalanan hidup mereka berputar sekilas di kepala Ammar. Dari benturan dunia bisnis konglomerat di Menteng, air mata kekecewaan akibat kebohongan identitas di masa lalu, badai keraguan yang nyaris merenggut segalanya, hingga malam-malam panjang penuh doa istikharah di tanah dua benua ini. Siapa sangka, di dalam flat sederhana berukuran kecil di Fatih inilah, puncak kebahagiaan sejati akhirnya berlabuh. Segala rintangan masa lalu kini menjelma menjadi berkah yang luar biasa besar, disatukan oleh ikatan suci pernikahan dan kejujuran mutlak yang mereka jaga setiap detik.

Ammar melanjutkan pijatan halusnya di perut Dilara, menikmati setiap detik perubahan fisik dan psikologis sang istri selama masa kehamilan ini. Bagi Ammar, merawat Dilara bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah bentuk ibadah dan ladang amal yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia meninggalkan seluruh bayang-bayang masa lalunya sebagai pewaris tahta korporasi besar tanpa rasa penyesalan sedikit pun; karena kekayaan terbesar di dunia baginya saat ini adalah debar jantung sang istri dan detak kehidupan kecil yang sedang bersiap menyapa dunia.

❖ ❖ ❖

Setelah selesai merawat Dilara, Ammar membimbing istrinya untuk duduk perlahan di tepi tempat tidur, lalu membantunya mengenakan jubah rumah yang hangat sebelum mereka beranjak menuju ruang makan kecil. Aroma harum teh çay hitam yang baru diseduh dan roti simit hangat langsung menyambut penciuman begitu mereka memasuki area dapur minimalis yang tertata rapi.

"Aku sudah menyiapkan teh jahe hangat khusus untukmu, agar mual pagimu mereda," ujar Ammar sambil menarik kursi kayu untuk Dilara duduki.

Dilara menerima cangkir keramik berpola klasik tersebut dengan senyuman penuh rasa terima kasih. Ia meniup permukaan teh yang mengepulkan uap tipis sebelum menyesapnya perlahan. “Ellerine sağlık, hayatım. Sen dünyanın en harika eşisin.”

(Terima kasih atas tenagamu, suamiku. Kamu adalah suami terhebat di dunia)

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami, Dilara," jawab Ammar merendah, duduk di kursi seberang sambil mengambil sepotong roti simit dan mengolesinya dengan keju feta segar. "Selama kehamilanmu ini, aku ingin memastikan bahwa kamu tidak merasa kekurangan apa pun, baik perhatian maupun kasih sayang."

Meskipun hidup dalam kesederhanaan finansial jika dibandingkan dengan standar kekayaan keluarga Hartono di Jakarta, kehidupan rumah tangga mereka tidak pernah kekurangan keberkahan. Honor dari riset akademik independen dan publikasi jurnal sejarah Utsmaniyah yang mereka garap bersama di perpustakaan Fatih mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan sangat layak. Tidak ada lagi tekanan dewan direksi, tidak ada lagi intrik perebutan warisan, dan yang paling penting, tidak ada lagi rahasia di antara mereka berdua.

“Zaman her şeyi iyileştirir derlerdi, ve hakikatten de öyle oldu, Ammar,” ucap Dilara pelan, menatap suaminya dengan pandangan penuh makna.

(Mereka biasa bilang waktu menyembuhkan segalanya, dan itu benar-benar terjadi, Ammar)

"Waktu dan kejujuran," koreksi Ammar lembut sambil tersenyum. "Waktu hanya akan menjadi sia-sia jika kita tidak mengisinya dengan kejujuran dan niat yang lurus di jalan Allah."

Ponsel di atas meja makan bergetar pelan menandakan masuknya sebuah pesan digital. Ammar melirik sekilas layar perangkat tersebut. Pesan itu datang dari Tariq—sahabat karib mereka yang kini sedang berada di Ankara untuk urusan seminar pascasarjana—menanyakan kabar kehamilan Dilara dan berencana berkunjung akhir pekan ini. Ammar segera membalas pesan tersebut dengan antusias, mengundang sahabat setia mereka untuk menikmati makan malam bersama di flat mungil mereka.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya