Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #72

Kehadiran Si Kembar

Kehadiran Si Kembar---

Suasana pagi di kediaman keluarga kecil Ammar dan Dilara di kawasan perbukitan Besiktas, Istanbul, selalu dipenuhi dengan kehangatan dan dinamika kehidupan yang dinamis. Beberapa tahun telah berlalu sejak hari kelulusan pascasarjana Ammar dan penobatannya sebagai salah satu direktur operasional utama di Al-Banna Group. Kini, rumah bergaya modern klasik itu tidak hanya diisi oleh langkah kaki sibuk Ammar dan keanggunan Dilara, melainkan juga oleh suara tawa riang dan tangisan energik dari buah hati mereka.

Setelah dikaruniai seorang anak pertama yang cerdas beberapa tahun lalu, rumah tangga mereka kembali mendapatkan limpahan berkah yang luar biasa besar. Allah SWT menganugerahkan dua malaikat kecil sekaligus—sepasang bayi kembar laki-laki berwajah tampan yang dinamai Yusuf Fathan Al-Banna dan Ibrahim Fathan Al-Banna. Kehadiran si kembar benar-benar mengubah ritme kehidupan harian Ammar dan Dilara, membawa warna baru yang penuh kebahagiaan sekaligus tantangan kesabaran tersendiri bagi pasangan muda tersebut.

Hari ini, matahari musim semi memancarkan sinarnya yang lembut, menembus tirai linen putih di kamar tidur utama. Ammar berdiri di depan cermin besar berbingkai ukiran kayu, mengenakan kemeja kerja putih dengan lengan digulung rapi hingga siku. Di atas tempat tidur berukuran king size, Dilara tampak duduk bersandar pada bantal empuk sambil mengenakan cardigan rajut merah muda lembut. Di sisi kiri dan kanannya, si kembar Yusuf dan Ibrahim yang berusia genap satu tahun tengah berbaring aktif mengenakan romper katun biru muda, tertawa kecil sambil meraih-raih ujung selimut.

"Ammar, ikisini aynı anda giydirmek gerçekten büyük bir sabır gerektiriyor! (Ammar, memakaikan pakaian kepada mereka berdua secara bersamaan benar-benar membutuhkan kesabaran yang luar biasa!)" seru Dilara sambil tersenyum lebar, kewalahan menahan Ibrahim yang merangkak gesit hendak turun dari tempat tidur.

Ammar langsung berbalik badan, melangkah cepat menghampiri tempat tidur. Wajahnya yang biasa tampak tegas dan berwibawa di ruang rapat dewan direksi perusahaan kini berubah menjadi begitu lembut penuh kasih sayang kebapakan.

"Bırak ben yardım edeyim, sevgilim, (Biar aku yang bantu, sayang,)" ucap Ammar dalam bahasa Turki sambil tertawa kecil. Ia mengangkat tubuh mungil Ibrahim dengan sigap, mencium gemas pipi gempal bayi laki-laki tersebut yang langsung disambut dengan gelak tawa renyah. "Yusuf ve İbrahim, babanızı bugünkü toplantıda çok yormayın tamam mı? (Yusuf dan Ibrahim, jangan buat Ayah terlalu lelah di rapat hari ini, ya?")

Yusuf, sang kakak kembar yang memiliki mata bulat jernih mirip Dilara, menatap ayahnya sambil merentangkan kedua tangan mungilnya, meminta untuk digendong pula. Ammar dengan cekatan merengkuh kedua buah hatinya dalam dekapan hangat, merasakan ketulusan dan kebahagiaan hakiki yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun di dunia korporat.

Dilara menghela napas lega, merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. "Ayahmu akan datang berkunjung sore nanti bersama kakek mereka, Tuan Tariq. Beliau meneleponku tadi pagi menanyakan apakah si kembar sudah bisa memanggil 'Koca Baba' dengan lancar."

"Koca Baba (Kakek buyut)" adalah sebutan sayang yang mulai diajarkan Dilara kepada si kembar untuk Tuan Tariq Al-Banna. Sang taipan hotel yang dulunya dikenal sangat dingin dan kaku itu kini telah bertransformasi menjadi seorang kakek yang luar biasa penyayang, selalu meluangkan waktu di akhir pekan untuk memanjakan cucu-cucu kembarnya.

Ammar menurunkan si kembar perlahan ke atas karpet tebal berbulu lembut di lantai kamar, membiarkan mereka bermain dengan mainan kayu edukatif. Ia kemudian menoleh ke arah istrinya, merapikan helaian rambut Dilara dengan penuh kelembutan.

"Aku pastikan urusan kantor selesai lebih cepat hari ini, Dilara. Kita akan menyambut kedatangan Ayah bersama-sama dengan formasi lengkap, " janji Ammar tulus.

❖ ❖ ❖

Menjelang pukul dua siang, suasana di kantor pusat Al-Banna Group di distrik Sisli tampak sibuk seperti biasa. Ammar duduk di ruang kerjanya yang luas di lantai atas, dikelilingi oleh tumpukan laporan logistik kuartal terbaru dan draf kontrak kerja sama pelabuhan internasional. Sebagai wakil direktur utama operasional, tanggung jawabnya semakin besar seiring berkembangnya jaringan bisnis keluarga Al-Banna ke kancah global.

Pintu ruang kerja diketuk pelan, dan sekretaris pribadinya melangkah masuk membawa secangkir kopi hitam hangat dan map dokumen biru.

"Ammar Bey, perwakilan investor dari Ankara sudah menunggu di ruang rapat utama untuk penandatanganan kontrak proyek logistik Eurasia, " laporan sekretaris tersebut dalam bahasa Turki.

"Teşekkür ederim, birazdan oradayım. (Terima kasih, saya akan segera ke sana,)" jawab Ammar tenang.

Sebelum beranjak dari kursi kerjanya, Ammar melirik sejenak ke arah bingkai foto kecil di sudut meja kerjanya. Foto itu menampilkan potret dirinya bersama Dilara dan si kembar Yusuf serta Ibrahim yang sedang tertawa ceria di taman rumah mereka. Senyuman tipis tersungging di bibirnya. Kehadiran si kembar memberikan dorongan motivasi yang luar biasa besar baginya untuk terus bekerja keras secara profesional tanpa melupakan prioritas utamanya sebagai kepala keluarga.

Di ruang rapat utama, para direktur senior dari berbagai instansi mitra internasional sudah duduk rapi menanti kehadirannya. Begitu Ammar melangkah masuk mengenakan jas abu-abu arang berpotongan eksekutif, seluruh isi ruangan terdiam memberikan penghormatan.

"Selamat siang, Tuan-tuan sekalian. Mari kita mulai pembahasan akhir kontrak rantai pasok kita hari ini, " buka Ammar dengan suara baritonnya yang tegas, fasih, dan sangat berwibawa dalam bahasa Turki.

Selama dua jam berikutnya, rapat berjalan sangat efektif dan produktif. Kemampuan negosiasi Ammar yang tajam, didukung oleh penguasaan data logistik yang mendalam, berhasil meyakinkan seluruh mitra asing untuk menyetujui poin-poin kerja sama strategis tanpa ada perdebatan berarti. Ketelatenan dan kecerdasan intelektual yang dulu diasah di bangku pascasarjana Universitas Marmara kini terbukti membuahkan hasil gemilang di dunia nyata.

Tepat pukul empat sore, rapat resmi ditutup dengan jabat tangan kepuasan dari para investor. Ammar segera membereskan dokumen di mejanya, bersiap pulang lebih awal sesuai janjinya kepada Dilara untuk menyambut kedatangan sang kakek di rumah.

Namun, sebelum ia sempat keluar dari gedung kantor, ponsel di saku jasnya berdering nyaring. Nama Dilara tertera di layar panggilan.

Ammar segera mengangkatnya. "Halo, Dilara? Ada apa? Apakah si kembar rewel di rumah?" tanya Ammar sedikit cemas.

Lihat selengkapnya