Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Pulang ke Tanah Air

Pulang ke Tanah Air---

Langit pagi di Bandara Internasional Sabiha Gökçen, Istanbul, tampak membentang luas dengan sapuan warna biru cerah yang dihiasi gumpalan awan putih tipis. Udara akhir musim semi terasa begitu segar, membawa kesejukan yang menyengat lembut di kulit ketika Ammar dan Dilara melangkah keluar dari area terminal keberangkatan VIP menuju jalur khusus pesawat. Di dalam gendongan kain khusus yang melekat erat di dada Ammar, bayi mungil mereka yang berusia lima bulan, Tariq Faruq, tidur dengan pulas, terlindung hangat oleh selimut rajut wol berwarna krem. Di sebelah mereka, deretan koper besar berbalut label perjalanan internasional tertata rapi di atas troli dorong yang dipegang oleh asisten pribadi keluarga.

Kepulauan Pangeran, Selat Bosphorus, dan menara-menara masjid tua Istanbul yang megah telah menjadi saksi bisu dari seluruh babak awal kehidupan pernikahan mereka. Namun kini, panggilan tugas yang jauh lebih besar dan mulia telah menanti di tanah air. Ayah Ammar, Tuan Al-Faruq, telah menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan imperium bisnis global Al-Faruq Group secara resmi kepada putra tunggalnya. Tugas berat itu tidak lagi dipandang sebagai beban kekuasaan duniawi, melainkan sebagai sebuah amanah besar untuk mengarahkan roda korporasi multinasional raksasa tersebut menuju landasan filantropi Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat, pendidikan, dan pelestarian sejarah maritim nusantara.

"Apakah semua dokumen bagasi kabin dan paspor kecil Tariq sudah tersimpan aman di tas tanganmu, Dilara?" tanya Ammar dengan suara baritonnya yang tenang, memastikan tidak ada satu pun barang penting yang tertinggal sebelum mereka memasuki pintu pemeriksaan paspor.

Dilara memeriksa sekilas tas selempang kulitnya, lalu tersenyum manis menatap suaminya. "Semuanya sudah lengkap dan tersimpan aman di sini, Ammar. Kau tidak perlu cemas begitu, seolah ini adalah pertama kalinya kita melakukan perjalanan lintas benua."

"Bukan cemas, hanya memastikan semuanya sempurna," balas Ammar tersenyum tipis di balik kacamata berbingkai tipisnya. "Kali ini kita tidak sedang bepergian berdua untuk meneliti naskah arsip kuno di perpustakaan. Kita membawa serta pewaris masa depan keluarga kita."

Dilara tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. Ia merapikan sedikit topi rajut di kepala bayi kecil mereka yang masih tidur lelap. "Tariq tidur sangat nyenyak, seolah dia tahu bahwa hari ini kita akan pulang ke tanah air tercinta di Indonesia."

"Vatanımıza dönmek, yeni bir sorumluluğun ve büyük bir başlangıcın kapısını aralamaktır," ucap Ammar dengan fasih menggunakan bahasa Turki, menatap lurus ke arah cakrawala langit Istanbul sebelum mereka melangkah melewati pintu keberangkatan. (Kembali ke tanah air kita adalah membuka pintu tanggung jawab baru dan awal yang besar.)

"Dan kita siap memikul amanah itu bersama-sama, Ammar," jawab Dilara penuh keyakinan, menggandeng lengan suaminya erat-erat.

Langkah kaki mereka berdua beriringan memasuki kabin pesawat eksekutif yang membawa mereka meninggalkan daratan transkontinental Turki, terbang melintasi langit biru menuju bumi Nusantara di mana imperium bisnis keluarga dan ladang pengabdian sosial menanti kepemimpinan baru mereka.

❖ ❖ ❖

Penerbangan panjang selama belasan jam melintasi berbagai zona waktu akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Sambutan hangat langsung terasa begitu mereka keluar melalui pintu kedatangan VVIP. Di sana, ayah Dilara—Tuan Al-Banna—bersama para direksi senior Al-Faruq Group telah menunggu dengan senyuman lebar dan karangan bunga selamat datang. Suasana haru dan bahagia langsung meliputi pertemuan keluarga besar tersebut ketika Tuan Al-Banna melangkah maju merangkul menantunya dan mencium cucu pertamanya yang baru saja terbangun dari tidur panjang.

"Selamat datang kembali di tanah air, anak-anakku," ucap Tuan Al-Banna dengan suara parau penuh rasa syukur, mendekap erat tubuh Ammar dan Dilara bergantian. "Perjalanan kalian di Istanbul telah menghasilkan lembaran tesis yang cemerlang, dan kini saatnya kalian memimpin lembaran nyata di dunia industri dan sosial negeri ini."

"Terima kasih banyak, Ayah," balas Ammar takzim, mencium punggung tangan calon mertuanya dengan penuh penghormatan. "Doa dan restu Ayah adalah kekuatan terbesar kami selama berada di tanah rantau."

"Alhamdulillah, Tariq tumbuh menjadi anak yang sangat tenang selama penerbangan," tambah Dilara tersenyum bahagia, menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan kakeknya yang tampak sangat gembira.

Rombongan keluarga besar kemudian bergerak meninggalkan bandara menggunakan rangkaian kendaraan mewah menuju kantor pusat Al-Faruq Group di kawasan segitiga emas Jakarta. Di dalam mobil sedan hitam yang melaju mulus membelah jalan tol ibu kota, Ammar menatap lembaran laporan strategis korporasi terbaru di atas tablet digitalnya, sementara Dilara menemani bayi kecil mereka di kursi belakang. Perubahan status dari sekadar peneliti muda akademis menjadi pemimpin utama sebuah konglomerasi multinasional raksasa menuntut transisi mental dan manajerial yang sangat cepat dan presisi.

"Ammar," panggil Dilara pelan di tengah kesunyian kabin mobil yang ber-AC sejuk, memecah konsentrasi suaminya dari lembaran data korporasi.

"Ya, Dilara? Ada yang mengganggu pikiranmu selama perjalanan ini?" sahut Ammar langsung, menoleh penuh perhatian kepada istrinya.

Lihat selengkapnya