Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #76

Refleksi Akhir Waktu

Refleksi Akhir Waktu---

Sore hari di distrik Kuzguncuk membentang dalam balutan warna keemasan yang hangat, memantulkan bias cahaya mentari terakhir pada permukaan air Selat Bosphorus yang beriak tenang diterpa angin lembut awal musim gugur. Di sebuah teras kayu rumah tua berarsitektur khas Utsmaniyah yang dikelilingi oleh pot-pot bunga geranium merah dan pohon delima, Ammar Fathan dan Dilara duduk berdampingan di atas kursi goyang antik. Suasana di sekitar lingkungan perumahan itu begitu damai, dihiasi suara burung camar yang terbang rendah menuju sarang mereka dan deru lembut mesin kapal feri yang melintas di kejauhan perairan antara benua.

Di dalam rumah, putri kecil mereka, Aamina Fathia, yang kini telah menginjak usia balita yang aktif dan menggemaskan, sedang tertidur pulas dalam pengawasan Karima Hanım yang setia menemani. Kesunyian sore yang menenangkan ini memberikan ruang bagi Ammar dan Dilara untuk meresapi perjalanan hidup luar biasa yang telah mereka lalui bersama. Tahun-tahun berlalu begitu cepat membawa perubahan besar dalam hidup mereka—dari bayang-bayang ketegangan perburuan dokumen rahasia, lorong-lorong sarnıç bawah tanah yang gelap, hingga kini menikmati ketenangan abadi di bawah naungan atap rumah sendiri di jantung kota Istanbul.

Ammar mengenakan sweter wol tipis berwarna abu-abu tua, sementara Dilara tampil anggun dalam balutan kardigan rajut putih berpadu syal sutra biru muda. Jemari tangan mereka saling bertaut erat, merasakan kehangatan yang mengalir dan menyatukan jiwa di tengah hembusan angin senja yang menyegarkan.

"Biliyor musun Dilara," (Tahukah kamu Dilara,) ucap Ammar pelan sambil menatap lurus ke arah cakrawala Selat Bosphorus tempat matahari perlahan mulai turun, "Zamanın bazen ne kadar hızlı geçtiğini düşünmeden edemiyorum. Sanki dün gibi, Galata'daki o küçük kitap evinde yalnız başıma oturuyordum." (Aku tidak bisa berhenti memikirkan betapa cepat waktu berlalu kadang-kadang. Rasanya seperti baru kemarin, aku duduk sendirian di toko buku kecil di Galata itu.)

Dilara menoleh, menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahu suaminya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya, memancarkan kedewasaan dan ketenangan batin yang luar biasa. "Ve ben de o gün, hayatımın tamamen değişeceğini hiç bilmiyordum," (Dan di hari itu, aku sama sekali tidak tahu bahwa hidupku akan berubah sepenuhnya,) balas Dilara lembut dalam bahasa Turki, mengeratkan tautan jemari mereka. "Kaderin bizi o karanlık yollardan geçirip bu huzurlu limana getireceğini kim tahmin edebilirdi ki?" (Siapa yang bisa menduga bahwa takdir akan menuntun kita melewati jalan-jalan gelap itu dan membawa kita ke pelabuhan yang damai ini?)

Ammar mengecup puncak kepala istrinya penuh kasih sayang. "Kader bazen en çetin yollardan, en büyük hediyeleri sunar insanlara, sevgilim," (Takdir terkadang mempersembahkan hadiah terbesar kepada manusia melalui jalan-jalan yang paling terjal, sayangku,) jawab Ammar hangat. "Önemli olan, o yolda kimin elini tuttuğundur." (Yang terpenting adalah tangan siapa yang kamu genggam di sepanjang jalan itu.)

❖ ❖ ❖

Keheningan senja yang syahdu itu perlahan disusul oleh kilas balik memori masa lalu yang berkelebat di dalam benak Ammar. Perjalanan hidupnya bukanlah garis lurus yang mulus, melainkan labirin panjang penuh liku, rahasia keluarga, ancaman sindikat internasional, serta pilihan-pilihan sulit yang menguji batas kesetiaan dan kejujuran. Di titik ini, sebuah refleksi mendalam mengenai arti waktu mencengkeram batinnya. Waktu bukanlah sekadar detikan jam di dinding atau lembaran kalender yang berganti; waktu adalah amanah yang memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki kesalahan, merajut kejujuran, dan menemukan makna cinta yang sejati.

"Geçmişteki o zor günleri hatırladığımda, bazen kendime soruyorum," (Ketika mengingat hari-hari sulit di masa lalu itu, kadang aku bertanya pada dirim sendiri,) ucap Ammar dengan suara rendah, menatap pantulan cahaya jingga di atas air laut. "Acaba o riskleri almasaydık, bugünkü huzurun kıymetini bu kadar derinden bilebilir miydik?" (Seandainya kita tidak mengambil risiko-risiko itu, apakah kita bisa mengetahui begitu dalam nilai kedamaian hari ini?)

Dilara mengangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam mata suaminya dengan sorot penuh pengertian yang menenangkan. "Bilemezdik, Ammar," jawab Dilara tegas. "Çünkü karanlığı görmeyen biri, ışığın gerçek değerini asla anlayamaz. Sırlar, korkular ve o tehlikeli maceralar bizi biz yaptı. Bizi bugüne hazırlayan şey, geçmişin o çetin fırtınalarıydı." (Kita tidak akan bisa mengetahuinya, Ammar. Karena seseorang yang tidak pernah melihat kegelapan tidak akan pernah bisa mengerti nilai sejati cahaya. Rahasia, ketakutan, dan petualangan berbahaya itu telah membentuk kita. Hal yang mempersiapkan kita hingga hari ini adalah badai-badai terjal di masa lalu.)

Titik Jepit 1 meresap ke dalam kesadaran Ammar sebagai sebuah penerimaan total. Terkadang manusia menghabiskan separuh hidupnya untuk menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan, tanpa menyadari bahwa setiap detik penderitaan dan perjuangan di masa lalu adalah batu loncatan yang memang harus diinjak untuk mencapai puncak ketenangan jiwa.

"Haklısın, Dilara," aku Ammar tersenyum tulus, meresapi setiap kata yang diucapkan istrinya. "Artık ne geçmişten korkuyorum ne de geleceği inkar ediyorum. Şu an, bu dakikada seninle burada olmak, sahip olduğum en büyük servet." (Kamu sangat benar, Dilara. Sekarang aku tidak takut lagi pada masa lalu dan tidak juga menyangkal masa depan. Saat ini, berada di sini bersamamu pada detik ini adalah kekayaan terbesar yang kumiliki.)

❖ ❖ ❖

Sebelum perbincangan reflektif itu berlanjut lebih jauh, suara langkah kaki kecil terdengar mengetuk lantai kayu teras. Aamina Fathia kecil—dengan dress katun merah muda dan rambut ikalnya yang mulai tumbuh lebat—berlari kecil keluar dari dalam rumah, memegang sebuah boneka kain tua di tangan kecilnya.

Lihat selengkapnya