Ketika Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #77

Ketika Cinta

Musim gugur kembali menyapa kota Istanbul dengan sapuan warna keemasan yang melapisi pucuk-pucuk pohon di sepanjang tepian Selat Bosphorus. Udara dingin yang mulai menusuk kulit tidak menyurutkan kehangatan yang terpancar dari sebuah teras rumah kaca di kawasan perbukitan Besiktas. Di tempat itu, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan ruang bagi refleksi panjang atas perjalanan hidup yang telah terukir selama bertahun-tahun lamanya. Di sudut ruangan, sebuah meja kayu mahoni tua dipenuhi buku-buku catatan harian, draf riset akademis, dan bingkai foto keluarga yang merekam setiap fase pertumbuhan anak-anak.

Ammar, yang kini telah menginjak usia matang sebagai seorang pemimpin eksekutif puncak di Al-Banna Group sekaligus dosen tamu terhormat di Universitas Marmara, berdiri di dekat jendela kaca besar. Mengenakan sweter wol rajut berwarna abu-abu gelap, ia menatap ke arah luar, menyaksikan kapal-kapal kargo melintas tenang di atas air laut yang biru tua. Garis-garis kedewasaan tampak jelas di wajahnya, memancarkan aura ketenangan dan wibawa yang teruji oleh waktu. Perjalanan panjang dari seorang pemuda perantau asal Indonesia yang datang dengan satu koper impian kini telah bertransformasi menjadi sebuah kisah pengabdian hidup yang utuh.

Di sofa beludru berwarna krem tidak jauh darinya, Dilara duduk dengan anggun mengenakan gamis panjang berbahan katun lembut berwarna hijau zaitun. Di pangkuannya, sebuah buku cerita bergambar terbuka, sementara di karpet beludru bawah, si kembar Yusuf dan Ibrahim—yang kini sudah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia tujuh tahun yang aktif dan cerdas—sedang asyik merakit balok-balok mainan arsitektur jembatan gantung. Tidak jauh dari mereka, putri sulung keluarga kecil itu membantu merapikan mainan adiknya dengan senyuman manis yang begitu mirip dengan sang ibu.

"Baba, bak! Köprüyü tamamladık! (Ayah, lihat! Kami sudah menyelesaikan jembatan ini!)" seru Ibrahim penuh semangat dalam bahasa Turki sambil mengangkat hasil karya balok kayunya tinggi-tinggi.

Ammar menoleh, tersenyum lebar, lalu melangkah mendekati kedua putranya. Ia berlutut di atas karpet, merapikan beberapa balok yang hampir runtuh. "Harika bir iş çıkarışsınız, oğullarım. Ama köprünün temelleri her zaman sağlam olmalı, tıpkı hayattaki ilkelerimiz gibi. (Kalian melakukan pekerjaan yang luar biasa, anak-anakku. Tapi fondasi jembatan itu harus selalu kokoh, persis seperti prinsip-prinsip kita dalam hidup,)" pesan Ammar lembut sambil mengacak pelan rambut hitam kedua putranya.

Dilara menutup buku cerita di pangkuannya, lalu tersenyum hangat menatap suami dan anak-anak mereka. Sorot matanya memancarkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta. Mengenang kembali hari-hari pertama pertemuan mereka di perpustakaan universitas, badai penyamaran identitas, dinginnya malam di depan gerbang besi rumah ayahnya, hingga kemegahan resepsi pernikahan di tepi dermaga, semuanya kini terasa bagaikan kepingan-kepingan puzzle takdir yang dirangkai rapi oleh tangan Yang Maha Kuasa.

"Sen hâlâ o eski günleri mi düşünüyorsun, Ammar? (Apakah kau masih memikirkan hari-hari lama itu, Ammar?)" tanya Dilara pelan dalam bahasa Turki, melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir teh hitam hangat beraroma bergamot.

Ammar bangkit berdiri, menerima cangkir teh dari tangan istrinya, lalu menatap manik mata Dilara yang tetap jernih dan memesona seperti belasan tahun lalu. "Aku tidak pernah melupakannya satu detik pun, Dilara, " jawab Ammar tulus. "Karena di situlah ujian sesungguhnya tentang arti cinta, iman, dan kesabaran dimulai."

❖ ❖ ❖

Pintu utama rumah terbuka pelan, disusul oleh suara langkah kaki yang familier dari arah ruang depan. Seorang pria paruh baya berpostur tegap dengan rambut putih bersih muncul di ambang pintu ruang kaca. Sosok itu adalah Tuan Tariq Al-Banna. Meskipun usianya tidak lagi muda, sang patriark keluarga besar Al-Banna tetap memancarkan wibawa dan karisma yang kuat. Mengenakan jas kasual berpotongan rapi, Tariq tersenyum lebar melihat cucu-cucunya langsung berlari menyambut kedatangan beliau.

"Koca Baba! (Kakek buyut!)" seru Yusuf dan Ibrahim bersamaan, langsung memeluk kaki kakek mereka dengan penuh kegembiraan.

Tariq tertawa renyah, berjongkok sejenak untuk memeluk kedua cucu kembarnya secara bergantian. "Kalian ini semakin hari semakin energetik saja, " ucap Tariq dalam bahasa Turki sambil mencubit pelan hidung Ibrahim. Ia kemudian bangkit, berjalan menghampiri Ammar dan Dilara di dekat jendela kaca.

"Selamat sore, Ayah. Silakan duduk, tehnya masih hangat, " sambut Ammar hormat, mempersiapkan kursi terbaik bagi sang mertua.

Tariq duduk di sofa beludru, menarik napas dalam-dalam menikmati aroma teh dan suasana rumah yang tenang. "Aku baru saja dari kantor pusat, memeriksa laporan akhir ekspansi logistik jalur sutra baru yang kau pimpin, Ammar, " kata Tariq membuka obrolan dengan nada serius namun diselimuti kehangatan keluarga. "Hasil kuartal ini melampaui seluruh target dewan direksi. Kau benar-benar membuktikan bahwa keputusan yang kuambil beberapa tahun lalu untuk menyerahkan tanggung jawab ini kepadamu adalah keputusan terbaik dalam sejarah perusahaan kita."

Ammar mengangguk sopan. "Semua itu terlaksana berkat bimbingan dan kepercayaan mutlak yang Anda berikan sejak hari pertama, Ayah. Saya hanya menjalankan amanah dengan landasan kejujuran yang selalu kita pegang."

Dilara menuangkan secangkir teh untuk ayahnya, lalu duduk di samping suaminya. "Ayah selalu saja membicarakan bisnis bahkan di hari libur keluarga seperti ini, " goda Dilara dengan nada bercanda ringan, membuat Tariq tersenyum simpul.

"Bisnis adalah darah kehidupan keluarga kita, Dilara. Tapi melihat kebahagiaan kalian di rumah ini adalah pencapaian terbesar yang tidak bisa dinilai dengan uang kekayaan korporasi mana pun, " balas Tariq tulus, menatap anak dan menantunya dengan pandangan penuh rasa bangga.

Bagi Tariq Al-Banna, kehadiran Ammar di dalam keluarga bukan sekadar memperluas jaringan bisnis global, melainkan menghadirkan nilai-nilai moral, ketulusan spiritual, dan integritas sejati yang sempat ia khawatirkan mulai luntur di dunia modern yang serba materialistis. Ia melihat bagaimana Ammar mendidik anak-anaknya dengan dasar agama yang kuat, memperlakukan istrinya dengan penuh kemuliaan, serta tetap rendah hati di puncak kesuksesan.

"Kalian tahu, " lanjut Tariq sambil menyeruput teh hangatnya. "Beberapa hari lalu, beberapa kolega lama dari asosiasi pengusaha Ankara bertanya kepadaku tentang rahasia sukses ekspansi bisnis lintas benua kita. Aku katakan kepada mereka bahwa kuncinya bukan pada strategi modal yang besar, melainkan pada keberkahan ikatan yang dibangun di atas kejujuran dan ridha Ilahi."

Ammar dan Dilara saling berpandangan sejenak, merasakan kehangatan batin yang luar biasa mendalam atas pengakuan tulus dari sang kepala keluarga.

Lihat selengkapnya