ketika harapan menjadi luka

Oleh: eneng aisah

Blurb

"Oh... jadi begitu," ucapku pelan, penuh kepahitan.

Tanpa menunggu jawaban lagi, aku berbalik badan dan kembali ke kamar Dika. Aku duduk di tepi kasur tipis itu, menatap kosong ke dinding. Pikiranku kacau. Rasa sakit, marah, dan sedih bercampur menjadi satu. Bagaimana bisa ada manusia sekejam itu?

Dika yang melihat aku duduk diam termenung dengan wajah pucat, perlahan mendekat. Anak kecil itu bisa merasakan ada beban berat yang sedang dipikul oleh kakaknya. Tanpa berkata apa-apa, Dika memelukku erat-erat, menyandarkan kepala kecilnya di dadaku.

"Kakak..." panggil adikku lirih.

Lihat selengkapnya