Ada sebuah desa yang terlihat menenangkan dan damai karena belum sepenuhnya terjamah dunia luar. Di sebuah rumah sederhana, terdengar suara riuh gelak tawa yang begitu membahagiakan. Namun, hal itu berbeda dengan seorang ibu yang duduk melamun. Dia adalah ibuku, wanita yang telah melahirkanku. Ibuku terlihat termenung dan berdiam diri di tengah keramaian orang-orang. Ayahku ada di sana, tetapi dia hanya asyik sendiri tanpa mempedulikan keadaan istrinya.
Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ayahku tidak bekerja tetap; jika ada pekerjaan, dia bekerja, namun jika tidak, dia hanya berdiam diri. Sebenarnya, ibuku adalah sosok yang ceria dan ramah kepada semua orang. Namun, semuanya berubah saat dia pergi sendirian ke hutan. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana, tetapi setelah pulang, ibuku tak kunjung bicara.
Keesokan harinya, tiba-tiba dia tertawa sendiri. Awalnya aku mengira dia tertawa karena melihatku bermain bersamanya, ternyata tidak. Meski aku sudah berhenti bermain, ibu masih terus tertawa. Hampir setengah hari dia melakukannya, dan menjelang sore barulah dia berhenti. Karena merasa khawatir, aku pun bertanya padanya.
“Ibu kenapa?” tanyaku.
Ibuku menjawab dengan tatapan kosong, “Ibu tidak apa-apa, Ais.”