Setelah kejadian itu, Ibu terus meminta pulang. Dia ingin pergi ke rumah kerabatnya karena takut akan pergi lagi tanpa sepengetahuan siapa pun. Akhirnya, Ayah menelpon saudara laki-laki Ibu.
Keesokan harinya, Ibu dijemput oleh pamanku. Sebelum pergi, Ibu sempat memelukku erat dan berpamitan.
“Ais, Ibu pulang dulu, ya,” ucapnya lirih.
Setelah itu, Ibu pergi bersama pamanku. Aku mengira dia akan segera kembali. Aku selalu menunggunya pulang, menunggu dan terus menunggu, hingga akhirnya...
Satu bulan kemudian, Ibu kembali. Aku sangat senang saat itu. Aku langsung berlari menyambutnya dan memeluknya dengan erat.
“Ibu... Ais kangen,” kataku sambil menangis tersedu di dalam pelukannya.
Setelah itu, aku dan Ibu pulang ke rumah. Saat itu, tidak ada perubahan pada diri Ibu; tatapannya masih kosong dan dia lebih banyak diam, jarang sekali berbicara.
Aku kira Ibu akan menetap di sini dan tidak akan pergi lagi. Namun, ketika sore tiba, Ibu meminta kembali ke rumah kerabatnya, dan Ayah tidak melarangnya pergi.