ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #3

Masi sama

dua tahun berlalu kini aku sudah lulus sekolah. Dua tahun aku jalani ini tidak mudah karena belum bisa pergi dari rumah nenek, hidupku hanya untuk melayani mereka contohnya dua tahun lalu setelah kejadian adiku itu.

flashback

Setelah pulang dari warung di jalan aku keluar dari persembunyianku yang awalnya diam diam sekarang aku beriringan dengan adiku, tiba tiba adiku ngomong.

''Sampai kapan kita di sini.'' Tanya nya

''Tidak tau de, ayah juga tidak ada kabar ntah kapan ayah akan pulang.'' jawabku hatiku sakit kecewa tapi aku tidak bisa bilang pada adiku apa yang aku rasakan karena itu akan membuatnya semakin sedih. Tiba tiba dia menangis karena takut ketauan aku pun mengajaknya neduh dulu sambil dengerin keluh kesah dia.

''Ade ga kuat kalo terus di sini ka tidak beba tidak bisa melawan atau hanya sekadar membela diri.'' keluhnya aku hanya bisa memeluknya dan menenangkan nya. karena waktu sudah hapir malam aku mengajaknya pulang sesampainya di rumah adikulangsung mandi dan tidur begitu juga aku.

Esok harinya aku sekolah adiku juga sama saat itu aku sudah mulai ujian semester satu dan membutuhkan banyak buku pelajaran akhirnya aku bekerja di kebum milik juragan di kampunkuaku di gaji dua lima setengah hari itu akhirnya aku bisa beli buku tapi tidak hanya itu aku hampir tidak bisa ikut ujian karena harus bayar dan juga harus ada identitas sedangkan identitasku di bawa semua sama ayah tapi aku bersyukunya tuh guru yang mengajar di kelasku memberi tau semua tentangku akhirnya aku bisa ikut ujian.

Siang harinya aku pulang sekolah sesampainya di rumah aku seperti biasa mengerjakan rumah nenek sedikit karena nenek sudah bereskan separo selanjutnya aku membereskan rumah bibi ke tigaku lalu lanjut mencari rumput.

Lihat selengkapnya