Aku masuk ke kamarku yang sempit, mengunci pintu dari dalam. Di sana, di tengah kegelapan, aku akhirnya menangis sejadi-jadinya. Bukan lagi menangis karena dipukul atau dimarahi, tapi menangis karena aku sadar satu hal pahit, bahwa harapan pada keluarganya sendiri, ternyata adalah luka yang paling menyakitkan.
Malam itu, aku berjanji dalam hati: ia tak akan lagi menaruh harapan pada mereka. Karena setiap kali ia berharap, ia hanya akan mendapatkan luka baru yang makin dalam.
Dan di sudut kamar itu, gadis kecil itu tumbuh dewasa bukan karena kasih sayang, melainkan karena keberanian untuk berhenti berharap pada sesuatu yang tak pernah ada.
Malam itu menjadi titik balik bagiku. Air mataku habis, dan bersamaan dengan itu, hatinku yang dulu lunak perlahan membatu. Aku berhenti mengetuk pintu hati ayahnya yang tertutup rapat, berhenti menanti pelukan keluarga ku yang tak pernah ada, dan berhenti iri pada kemewahan yang selalu dinikmati adik tiriku.
Esok paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tak ada lagi tatapan penuh harap saat menyiapkan sarapan. Aku bergerak seperti bayangan tenang, diam, dan tak menuntut apa-apa.