ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #5

Bab 5

Aku masuk ke kamarku yang sempit, mengunci pintu dari dalam. Di sana, di tengah kegelapan, aku akhirnya menangis sejadi-jadinya. Bukan lagi menangis karena dipukul atau dimarahi, tapi menangis karena aku sadar satu hal yang paling pahit: berharap pada keluarga sendiri ternyata adalah luka yang paling menyakitkan.

Malam itu, aku berjanji dalam hati: aku tak akan lagi menaruh harap pada mereka. Karena setiap kali aku berharap, aku hanya akan mendapatkan luka baru yang semakin dalam.

Dan di sudut kamar itu, gadis kecil itu tumbuh dewasa bukan karena kasih sayang, melainkan karena keberanian untuk berhenti berharap pada sesuatu yang tak pernah ada.

Malam itu menjadi titik balik bagiku. Air mataku habis, dan bersamaan dengan itu, hatiku yang dulu lunak perlahan membatu. Aku berhenti mengetuk pintu hati Ayah yang tertutup rapat, berhenti menanti pelukan keluarga yang tak pernah kunjung datang, dan berhenti merasa iri pada kemewahan yang selalu dinikmati adik tiriku.

Esok paginya, aku bangun lebih awal dari biasanya. Tak ada lagi tatapan penuh harap saat menyiapkan sarapan. Aku bergerak seperti bayangan; tenang, diam, dan tak menuntut apa-apa.

“Dasar lambat! Kau mau membuatku kelaparan?!” teriak Tanteku sambil melempar sendok ke arahku.

Lihat selengkapnya