Ternyata Ayah menelepon lewat HP Bibi, dan terdengar suaranya yang sedang marah besar di sana.
“Kenapa nilai matematikamu merah semua, hah?!” teriak Ayah sambil melempar buku pelajaran Riko ke lantai. Halaman-halaman buku itu berhamburan berantakan. Aku hanya diam menyaksikan semua itu lewat layar.
Ibu tiriku duduk di samping Riko, mengelus punggung anak bungsunya itu dengan lembut.
“Sudah, Yah. Jangan marah-marah terus. Riko kan masih kecil, dia butuh waktu. Lagian, pasti dia lelah karena harus ikut les ini-itu setiap hari. Bukan seperti anak tertentu yang cuma duduk diam di sekolah tapi dapat nilai bagus tanpa usaha,” ucapnya sinis.
Aku yang baru saja meletakkan tas di kursi, seketika tertegun. Kata-kata itu menusuk jauh lebih tajam daripada jarum. Namun, aku hanya bisa menelan ludah, berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan emosi.
Tiba-tiba, Ayah menatap lurus ke arah kamera ponsel, matanya menyala penuh amarah seolah akulah sumber dari semua masalah.
“Kau dengar ibumu? Kau dapat nilai bagus itu cuma keberuntungan semata! Jangan sombong! Dan lihatlah adikmu, dia butuh fasilitas lebih agar bisa pintar sepertimu. Mulai sekarang, uang tabungan yang kau dapat dari hasil kerja kerasmu kemarin, serahkan semuanya! Akan kubelikan tablet baru untuk Riko supaya dia bisa belajar dengan nyaman,” perintahnya.