ketika harapan menjadi luka

eneng aisah
Chapter #6

Bab 6

Ternyata ayahku telepon lewat bibi dan terdengar ayahku marah marah di sana."Kenapa nilai matematika kamu merah semua, hah?!" Kata ayahku sambil melempar buku pelajaran Riko ke lantai. Halaman-halaman buku itu berhamburan. Aku hanya diam menyaksikan itu lewat layar.

Ibu tiriku duduk di samping Riko, mengelus punggung anak bungsunya itu. "Sudah, Yah. Jangan marah-marah. Riko kan masih kecil, dia butuh waktu. Lagian, pasti dia lelah karena ikut les ini-itu setiap hari. Bukan seperti anak tertentu yang cuma duduk diam di sekolah dan dapat nilai bagus tanpa usaha."

Aku yang baru saja meletakkan tas di kursi, tertegun. Kata-kata ibu tiriku menusuk lebih tajam dari jarum. Tapi aku hanya bisa menelan ludah, mencoba tetap tenang.

Tiba tiba ayahku menoleh ke kamera handphone kepadaku matanya menyala marah seolah akulah sumber dari semua masalah. "Kau dengar ibumu? Kau dapat nilai bagus itu cuma keberuntungan. Jangan sombong! Dan lihatlah adikmu, dia butuh fasilitas lebih agar bisa pintar sepertimu. Mulai sekarang, uang tabungan yang kau dapat dari kerja kemarin, serahkan semuanya! Akan kubelikan tablet baru untuk Riko supaya dia bisa belajar dengan nyaman." Bukanya kebalik seharusnya aku yang di nafkahi.

Jantungku serasa berhenti berdetak. Uang itu adalah hasil keringatku selama berbulan-bulan, uang yang aku simpan untuk membeli buku referensi dan mungkin sepatu baru yang tak lagi bolong. Tapi di mata ayahku, uang itu bukan miliku. Kenapa ya tidak paman tidak tante sekarang ayahku sendiri malah berubah seperti itu.

"Itu uangku, Yah..." ucapku pelan, suaraku bergetar namun tatapannku tetap lurus tanpa melihat kamera .

Lihat selengkapnya